Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 55


__ADS_3

lanjut update ya gaes.... karena sudah beberapa hari libur update jadi author lanjut biar ga penasaran kelanjutan kisahnya ya....


******************************************


Sila menatap kedua buah hatinya yang sedang tertidur dengan nyenyak, ia meminta kedua buah hatinya untuk tidur di kamarnya, sejak bertemu dengan Aldi dan mendengar ancaman mantan suaminya, ntah mengapa Sila begitu kuatir dan tak bisa tenang jika jauh dari anak - anaknya, seperti malam ini yang ingin tidur di temani oleh malaikat kecilnya.


" mama akan melakukan apapun asal kalian tetap bisa bersama mama", gumannya dalam hati.


berkali - kali Sila mencium dan membelai rambut kedua buah hatinya secara bergantian, hingga ia ikut terlelap dalam tidurnya.


****


" mama... ma... mama... ", Dania menggoyang - goyangkan tubuh Sila agar ia segera bangun dari tidurnya.


waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, namun Sila belum juga ada tanda - tanda akan bangun dari mimpinya, membuat Dania dan Adit merasa kuatir dengan kondisi mama mereka.


" bang kenapa mama belum bangun juga ?, tanya Dania dengan mata yang berkaca - kaca.


Adit juga merasa gelisah karena tak biasanya sang mama belum bangun hingga kini, biasa Sila sudah rapi dengan baju kerjanya dan sudah berangkat ke kantor. Adit segera turun ke bawah untuk memberitahukan kepada Bik Nani asisten rumah tangganya.


" Bik tolong mama", ucap Adit pada Bik Nani dan langsung menarik tangan Art nya dan membawanya ke kamar sang mama.


Bik Nani segera membangunkan Sila namun tak kunjung membuatnya terbangun, dengan hati - hati Bik Nani memegang tangan dan menempelkan punggung tangannya di kening Sila, Art itu terkejut karena suhu tubuh Sila begitu panas, perlahan Bik Nani menyibakkan selimut yang membungkus tubuh Sila, yang ternyata sudah basah oleh keringat dari tubuhnya.


" Non.. tolong hubungi mama Vania, kasih tahu jika mama Sila demam tinggi", ucap Bik Nani kepada Dania.


Dania segera mencari handphone Sila dan menghubungi Vania, dan menceritakan keadaan Sila saat ini.


Tak lupa pula Dania, menghubungi Om ganteng yang tak lain adalah Arsya, karena Arsya pernah berpesan jika apapun yang terjadi dengan mereka, Arsya harus diberi tahu. Arsya yang sudah dalam perjalanan menuju kantornya, mengambil handphonenya yang berbunyi karena adanya panggilan masuk, melihat nama pemanggil yang ada dilayar ia segera menekan tombol hijau, namun suara gadis kecil dengan suara serak karena menangis yang sedang berbicara dengannya dan mengabarkan kondisi sang mama.

__ADS_1


" putar arah, kita ke rumah Sila sekarang", Reno yang mendengar ucapan Arsya segera mengurangi kecepatannya dan berbalik arah menuju rumah Sila.


Reno tak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, namun melihat wajah Arsya yang kelihatan panik, ia tak ingin bertanya lebih jauh.


" tambah kecepatan mu, gunakan keahlian mu sebagai pembalap Liar", titah Arsya yang sudah tak sabar untuk segera sampai di rumah Sila.


di rumah Sila Dania dan Adit hanya menangis dan terus menggenggam tangan Sila, Bik Nani sudah menganti baju Sila yang basah oleh keringat dan mengompresnya untuk menurunkan demam tingginya.


Arsya segera membuka pintu mobilnya dan berlari menerobos rumah Sila yang terlihat sepi, ia segera menaiki tangga karena melihat di lantai bawah yang kosong tak ada penghuninya, dengan langkah yang cepat Arsya mengikuti arah suara tangisan yang berasal dari kamar, karena Arsya tak tahu di mana letak kamar Sila berada.


sampai di kamar Sila, Arsya melihat wajah pucat Sila yang sedang menggigil, Arsya segera menggendong tubuh Sila dan membawanya menuju mobilnya.


" aku akan membawa mama kalian ke rumah sakit, kalian mandi dan makan, terus menyusul bersama mama Vania", teriak Arsya kepada kedua anak Sila yang berdiri di pagar rumah mereka.


" ke rumah sakit Almarhum mama", ucap Arsya kepada Reno.


Arsya memangku kepala Sila, dan membelai rambut hitam Sila dengan lembut, rasa kuatir melihat wanita yang diam - diam membuatnya jatuh cinta kini terbaring lemah dengan wajah pucat.


" Tuan, anda tidak boleh masuk, biarkan kami yang menanganinya", ucap Suster yang membawa Sila masuk keruang IGD.


Arsya duduk di kursi tunggu dengan rasa gelisah, Reno yang melihatnya hanya dapat menggeleng - gelengkan kepala.


" apakah anda begitu mencintai Nona Sila Tuan, sehingga anda begitu gelisah dan kuatir seperti itu", batin Reno.


pintu IGD terbuka, Arsya segera berdiri dan menghampiri dokter yang menangani Sila.


" bagaimana keadaannya?, tanya Arsya dengan nada cemas dan dingin.


" Nona Sila hanya kelelahan, dan terlalu banyak beban pikiran Tuan, sehingga menyebabkan Nona Sila tidak bisa beristirahat dengan tenang dan cukup, begitu juga dengan pola makannya yang kurang diperhatikan sehingga menyebabkan asam lambungnya naik", jelas Dokter yang menangani Sila.

__ADS_1


" tidak ada yang perlu anda kuatirkan Tuan, Nona akan segera di pindahkan ke ruang VVIP", lanjut sang dokter.


Arsya bisa bernapas dengan lega mendengar penjelasan dokter itu, ia segera masuk kedalam ruang IGD untuk mengetahui keadaan Sila.


Suster yang sedang menangani Sila langsung membungkukkan tubuhnya mengetahui siapa yang baru saja memasuki ruang IGD.


" kenapa dia masih memejamkan matanya!, tanya Arsya pada para suster .


" Nona Sila sedang beristirahat Tuan, setelah diberikan obat, demamnya juga sudah turun, nanti juga akan terbangun Tuan", jelas Suster


Sila dibawa menuju ruang perawatan VVIP khusus keluarga Mahesa sesuai instruksi dari Arsya. ia ingin Sila mendapatkan perawatan hingga kondisinya benar - benar pulih seperti sedia kala.


Vania yang sudah sampai di rumah sakit milik Arsya segera menghubunginya untuk mengetahui dimana ruangan Sila berada. Adit dan Dania terus merengek karena ingin tahu keadaan sang mama.


Reno menjemput Vania bersama kedua anak Sila dan mengantarkan mereka menuju ruang dimana Sila di rawat.


" Nyonya Alex, bisakah saya minta tolong pada anda, untuk menjaganya karena saya harus kembali kekantor, ada urusan yang tidak bisa saya tinggalkan", pinta Arsya pada Vania yang sudah berada di kamar tempat Sila di rawat.


" ya Tuan, saya akan menjaga mereka dengan baik", Jawab Vania dengan rasa hormat pada


Arsya.


Arsya meninggalkan kamar di mana Sila berada bersama asistennya. Adit dan Dania duduk di samping ranjang mamanya, Dania mulai berkaca - kaca melihat Sila yang kini terbaring lemah. perlahan Sila membuka mata, merasakan adanya sentuhan di tangannya.


" di mana aku", ucap Sila dengan suara yang serak.


" mama.... ma.. mama sudah bangun", tanya Dania dengan wajah sedih.


" mama di rumah sakit, om ganteng bawa mama kesini karena mama gak bangun - bangun", lanjut Dania pada Sila.

__ADS_1


Vania memberikan air minum untuk sahabatnya untuk menghilangkan dahaganya, dan meminta Adit dan Dania untuk duduk di sofa agar Sila bisa leluasa untuk bergerak. setelah mengingat - ingat apa yang terjadi semalam, Sila memanggil kedua buah hatinya agar mendekat padanya dan memeluk mereka dengan erat dan menciumi mereka secara bergantian.


__ADS_2