
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki high heels dengan terburu buru memasuki Villa mewah yang kini di huni oleh Sila dan Dania. Mendengar kegaduhan dari suara sepatu high heels Sila langsung menuju tempat suara.
" Vania". Sila tampak sangat terkejut mendapati sahabatnya sudah berada di Villa.
Mereka saling berpelukan karena sudah beberapa bulan tidak bertemu. Sila menangis menumpahkan semua sesak di dadanya.
" Biarkan aku duduk dulu. Aku sangat capek sekali". Bisik Vania yang membuat Sila merasa tidak enak hati.
Sila kemudian kebelakang untuk membuatkan teh hangat untuk sahabatnya.
" Apa kau betah di sini". Tanya Vania setelah Sila meletakkan teh di meja dan duduk disampingnya.
" Ntahlah. Aku susah sekali untuk memejamkan mata di sini. Aku merasa kesepian". Jawab Sila sedih.
" itu karena kau merindukan suamimu. Ya kan?. Vania mencoba memastikan.
Sila tak mengiyakan juga tidak menampik ucapan sahabatnya. Dalam lubuk hatinya yang sangat dalam ia memang sangat merindukan Arsya mungkin karena bawaan bayi. tapi untuk pulang dan kembali pada Arsya justru akan semakin menjatuhkan harga dirinya. Mengingat semua hinaan dan tuduhan yang Arsya alamatkan pada dirinya sungguh sangat membekas dihatinya.
__ADS_1
" Mengapa kau tak kembali. Kalian masih saling mencintai dan menyayangi kenapa harus saling menyiksa seperti ini".
" Aku tidak akan kembali karena aku yang memutuskan pergi. Aku tidak ingin menjatuhkan harga diriku atas semua tuduhan dan hinaannya terhadapku. Biarlah aku menyimpan kerinduan ini hingga takdir yang mengatur untuk kami". Jawab Sila.
" Aku hanya tidak ingin kamu tersiksa seperti ini Sil. Menahan rindu itu berat dan menyakitkan. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Tapi apa pun keputusanmu. aku harap itu pilihan yang terbaik untukmu". Vania menghela napas berat.
Tidak disangka baru tiga bulan yang lalu ia meninggalkan Sila sedang mereguk bahagia bersama Arsya. Namun kini kesedihan dan penderitaan kembali menerpanya.
" Apa rencanamu selanjutnya". Tanya Vania sambil mengisap teh buatan sahabatnya. Tak ada jawaban. Sahabatnya hanya melamun dan entah apa yang dipikirkannya.
" Sil ". Vania menepuk pundak sahabatnya.
" eh. Ada apa?. Tanya Sila terkejut.
" aku belum tahu Van".
Vania menghela napas panjang mendengar jawaban Sila.
" Memang tak mudah berada disituasi seperti ini. Seharusnya di saat hamil ia mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari suaminya. bukan malah sembunyi seperti buronan. Semoga kamu kuat menghadapi ini semua Sil. Aku hanya bisa berharap suatu saat nanti kalian dipersatukan kembali.. Amin.. ". Batin Vania.
" Aku tidak memaksamu untuk memutuskan sesuatu. Tinggallah disini sampai kapan pun yang kau inginkan. Aku hanya minta cepat bangkitlah dari keterpurukanmu. Aku ingin Sila yang dulu bukan yang sekarang. Kau pernah merasa sakitnya dikhianati tapi dulu kau tidak seperti ini. Ada Janin didalam kandunganmu dan masih ada Dania yang butuh kasih sayangmu. Jika kau terus seperti ini kasihan mereka. Mereka butuh dirimu". Vania berusaha menasehati sahabatnya.
Sila mendengar nasehat sahabatnya. Selama dua minggu di Villa ia hanya asyik dengan dunianya sendiri. Dan mengabaikan Dania. Beruntungnya Dania mengerti kondisi mamanya yang sedang tidak baik baik saja.
__ADS_1
" Maafkan aku Van. Tak seharusnya aku seperti ini. Kasihan Dania yang aku abaikan selama disini". Sila menangis dalam pelukan sahabatnya.
" Bangkitlah. Lupakan kesedihanmu. Pikirkan masa depanmu dan anak anak. Mereka sangat membutuhkanmu. Kau wanita hebat dan kuat. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua".
" makasih Van. Sungguh jika tidak ada kamu ntah jadi apa aku. Kau seperti dewi penyelamatku". Ucap Sila sambil mengusap air matanya.
" nah gitu donk. Aku sangat lega sekarang. Istirahatlah . Jangan terlalu capek dan banyak menangis. Kasihan babby yang ada diperutmu. Aku juga mau istirahat. Badanku sangat lelah". Ucap Vania dan meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
Vania meletakkan tas lalu menuju kamar mandi untuk merendam tubuhnya. setelah selama 30 menit berada di kamar mandi Vania keluar dengan baju mandi yang membungkus tubuhnya.
" katakan informasi yang kau dapat disana". Vania menghubungi anak buahnya yang sedang memantau Arsya.
" Sudah dua minggu Tuan Arsya tidak ke kantor Nyonya. Sepertinya beliau sakit karena Dr. Joe selalu berada di Mansionnya".
" Apa kau tahu sakit apa".
" menurut informasi yang saya dapat. Sejak Nona Sila menghilang Tuan Arsya syok dan traumanya kambuh lagi. Dan membuatnya tidak makan dan minum selama 3 hari. Sehingga Dr. Joe harus memasang infus sebagai penganti cairan. Dr. Joe juga tidak pernah meninggalkan Tuan Arsya kecuali ada hal yang sangat darurat".
" baiklah. Pantau terus keadaan di sana dan segera informasikan jika ada sesuatu". Vania memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.
" Kalian ini benar benar menyusahkan saja. Saling mencintai tapi gengsi setinggi gunung. Jadi sakit sendiri akhirnya". Gerutu Vania.
Vania lalu membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Tubuhnya sangat lelah karrna perjalanan Swiss - indonesia. Dan tak butuh lama Vania sudah terbang ke alam mimpi.
__ADS_1