Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 82


__ADS_3

waktu terus berlalu hari demi hari di lalui oleh Sila dan keluarga kecilnya yang baru saja ia bina bersama Arsya, dan tiba saatnya Oma Cintya untuk kembali ke Perancis beserta putranya Adit, yang memutuskan untuk ikut dan tinggal bersama Oma Cintya.


Sila sangat sedih dan berat untuk melepas putra sulungnya, namun ia tak ingin menghentikan langkah kaki putranya demi keegoisan dirinya yang tak ingin jauh dan berpisah dengan putranya.


Arsya, Sila dan Dania mengantarkan Oma Cintya, Adit dan kru nya sampai di dalam Bandara, air mata Sila terus mengalir melepas kepergian Adit, begitu pun Dania yang tak pernah berpisah dengan sang abang.


" sudahlah Anya, kau harus merelakan Putramu, demi kebaikan dan keinginannya, kita akan mengunjunginya kapan pun kau mau, percayakan Putramu pada Oma, Dia akan baik - baik saja di sana", hibur Arsya pada istrinya, agar Sila bisa merelakan kepergian Adit jauh darinya.


Sila berusaha menghentikan tangisnya namun air mata itu terus jatuh tatkala teringat dengan Putranya Adit.


Arsya selalu menghibur Sila dan Dania, agar tidak sedih karena kepergian Adit, bahkan Arsya mengajak Sila kembali bekerja di kantornya menjadi sekretarisnya, agar ia memiliki kesibukan dan tidak bersedih lagi. sedangkan Dania sudah kembali sibuk dengan kegiatan sekolahnya hingga tak ada waktu untuk bersedih lagi.


" sayang besok aku akan pergi ke pengadilan, karena sidangnya akan digelar besok", ucap Sila sedih.


Arsya tahu jika ini adalah masa - masa sulit bagi Sila, untuk menghadapi tuntutan suaminya yang menginginkan hak asuh Dania. Sila bahkan belum memberitahukan hal ini pada Dania, karena tak ingin putrinya bersedih akan hal ini.


" apa kau takut Anya, apa aku perlu mendampingi mu besok ? tanya Arsya pada istrinya sambil memeluk wanita yang sangat dicintainya.


setelah Adit memutuskan untuk ikut bersama Oma Cintya, Sila memutuskan untuk tinggal bersama Arsya di Mansion nya.


" tidak sayang, ada Alex dan Vania yang akan mendampingiku, aku tak ingin kehadiranmu justru akan semakin membuat Aldi kehilangan kendali", jawab Sila pada Suaminya.


Arsya hanya bisa menatap sedih wanita disampingnya, seharusnya Sila tak perlu menjalani hal berat ini, dan Arsya akan dengan mudah untuk menyingkirkan Aldi dari kehidupan mereka, namun Arsya tak ingin Sila menganggap dirinya kejam dan terlalu ikut campur dalam masa lalunya, karena biar bagaimana pun Aldi adalah ayah kandung dari kedua anak sambungnya, yang tak ingin kedua anak sambungnya membencinya jika Arsya melakukan hal itu.


" tidurlah dan tenangkan hati dan pikiranmu, semua akan baik- baik saja, aku akan membantumu untuk mendapatkan Dania", hibur Arsya pada istrinya.

__ADS_1


Sila hanya mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya, harum tubuh Arsya mampu memberinya ketenangan dan secara perlahan membawanya ke alam mimpi.


setelah memastikan Sila tidur dengan nyenyak, Arsya bangkit dari ranjangnya dan masuk keruang kerjanya yang berada di samping kamarnya.


" apa yang kau dapatkan", tanya pada Asistennya.


" Tuan Aldi bersikeras untuk mendapatkan hal asuh Dania, Tuan. dan bukti - bukti kebersamaan anda dan Nona Sila di Kuala Lumpur menjadi bukti yang kuat untuk menjatuhkan Nona Sila", jelas Reno pada bosnya.


" hem... brp saham yang kita miliki di perusahaan Anggara ?, tanya Arsya pada Reno.


" 70 %, Tuan, dan surat - surat resmi kepemilikan saham itu sudah kita miliki", jawab Reno singkat.


" biarkan dia melakukan keinginannya, kita memiliki bukti yang lebih kuat dari dirinya, jika dia tetap tidak mau melepaskan Sila dan Dania pada akhirnya nanti, maka kita akan menggunakan cara B untuk membuatnya menyesal telah mengusikku", ucap Arsya tegas dengan tatapan matanya yang tajam.


" kenapa anda tidak langsung saja menghancurkan Tuan Anggara, Tuan?, tanya Reno bingung dengan sikap Arsya.


Arsya memerintahkan pada, Asistennya untuk mengumpulkan bukti lebih banyak tentang kehidupan Aldi dan Istrinya Sonia, dan menyerahkannya pada Tuan Alex selaku pengacara dari Istrinya Sila.


setelah urusan mereka selesai Arsya dan Reno kembali ke kamar masing - masing, untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah karena pekerjaannya.


Arsya kembali membaringkan tubuhnya di samping Sila lalu mendekap tubuh mungil itu dan mengecup keningnya dengan pelan agar tak menganggu tidurnya. merasa ada yang mengusik tidurnya Sila membalikkan tubuhnya sehingga tubuhnya menghadap pada Arsya.


" aku akan membahagiakanmu semampuku Anya, tak akan ku biarkan laki - laki brengsek itu menyakitimu untuk yang kesekian kalinya", batin Arsya yang menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah ayunya.


lama Arsya menatap Wajah istrinya yang sedang tertidur, jika tidak karena besok adalah hari persidangannya, ia tak akan membiarkan istrinya tidur dengan nyenyak, dan akan meminta jatahnya seperti yang sebelumnya.

__ADS_1


***


Sila sudah rapi dengan pakaiannya yang sopan, hatinya tak menentu karena akan bertemu dengan mantan suaminya untuk yang kedua kalinya di kursi pesakitan seperti beberapa tahun yang lalu. hanya saja kasus yang mereka hadapi berbeda.


Arsya turun dan menuju meja makan, nampak istrinya melamun di sana hingga tak menyadari kedatangannya. dengan lembur Arsya mencium bibir istrinya sekilas lalu berpindah ke kening Sila, yang membuat Sila sadar akan kehadiran suaminya di sana.


" apa yang kau pikirkan, hingga terkesan mengabaikan ku ", ucap Arsya membuyarkan lamunan istrinya.


Sila merasa tidak enak hati mendengar Arsya mengucapkan hal itu, Arsya benar, ia tak boleh egois karena masalahnya hingga membuat ia melupakan Arsya yang ads di sampingnya.


" maafkan aku sayang, aku tak bermaksud mengabaikan mu, hanya aku merasa gugup untuk bertemu Aldi pengadilan kembali", jelas Sila pada suaminya.


" aku mengerti itu, tapi kau juga harus tetap menjalankan tugasmu, makan dan istirahat yang benar, aku tidak ingin karena masalah ini kau jadi stres dan sakit ", ucap Arsya lembut pada istrinya, agar Sila tetap memperhatikan kesehatannya.


Sila sangat bersyukur memiliki Arsya disampingnya saat ini, selain sangat pengertian dan penyayang Arsya juga sangat mendukungnya. andai saja ia dipertemukan lebih awal mungkin ia tak perlu berhadapan dengan Aldi dan masalah ini.


Sila mencium pipi Arsya lalu memeluk suaminya, sebagai bentuk rasa sayangnya.


" aku mencintaimu Arsya, kenapa Allah tak mempertemukan kita sejak dulu", bidiknya mesra pada telinga Arsya yang disambut gelak tawa oleh suaminya.


" sejak kapan kau pandai menggombal, dulu kau selalu menolak ku, sekarang kau bahkan tak ingin jauh dariku", olok Arsya pada istrinya yang manja.


wajah Sila bersemu merah menahan malu, sungguh Sila benar - benar dibuat jatuh hati oleh laki - laki dihadapannya kini.


" aku hanya bercanda, tak perlu malu seperti itu, ayo buka mulutmu aku akan menyuapi mu, agar kau benar - benar sarapan pagi ini" ucap Arsya lalu menyendokkan makanan dan menyuapi istri kesayangannya.

__ADS_1


Sila menuruti perintah suaminya dan mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya, dati tangan Arsya makanan yang ia rasakan sangat lezat padahal tadi selera makannya hilang entah kemana.


__ADS_2