Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 6


__ADS_3

hari berganti hari, sila berusaha tetap tegar menjalani rumah tangganya, ia berpikir dan menimbang - nimbang akan kemana akhir cerita dari rumah tangganya.


sanggupkah ia seperti vania sahabatnya yang menutup mata, telinga atas penghianatan suaminya, atau mungkin ia harus menyerah dan mengalah demi kebahagiaan hatinya.


dua hari sudah berlalu, aldi sudah kembali dari luar kota yang katanya ada urusan kantor, padahal menurut orang - orang vania mereka berlibur ke bandung. wajah Aldi berseri - seri dan tak sering uring - uringan seperti sebelumnya.


", kalian seperti abg saja, membuatku muak", erangnya kesal.


", sebaiknya aku ke resto saja, toh sekarang ia tak perduli lagi, aku mau kerja atau tidak", batinnya.


sila melajukan mobilnya menembus jalanan ibu kota yang padat, ia tak perlu kuatir lagi tentang kedua anaknya, karena sekarang ia sudah memiliki supir yang akan mengantar dan menjemput mereka.


", katanya mau kaya, datang ke resto ja jam segini", sindir sahabatnya.


", eh bu bos, udah nongol ja", balasnya.


", sial lo", umpatnya.


", dih, kok sewot ja sih", jelasnya


", aku kesepian sil, di rumah sendirian", curhatnya.


", terus kalau kesepian, gangguin aku gitu, noh lihat kerjaan ku", menunjuk berkas yang menumpuk.


vania terus saja menguntit sila, karena tak tau harus melakukan apa?, terkadang dua sahabat itu, pergi ke mall sekedar jalan - jalan atau makan. Sila selalu direpotkan oleh sahabatnya yang selalu mengajaknya kemanapun ia pergi, meski harta berlimpah nyatanya tak membuat vania bahagia.


________*******________


", ma.... mama.... ma.... ", pintu kamar diketuk dengan begitu keras oleh adit.


sila merasa kepalanya terasa berat karena terkejut, sehingga tak bisa membedakan alam mimpi atau nyata.


", ma... mama... ", kembali ia mendengar suara adit memanggilnya.


dengan cepat ia menuju pintu, didapati adit berdiri dengan wajah takutnya.


", kenapa bang, kok gedor pintu mama", tanyanya pada putra sulungnya.


", ma... dania... ma... ayo ma", adit menarik tangan sila dengan buru - buru menuju kamar mereka.


Sila masuk, dan melihat putrinya yang menggigil, dan memanggil - manggil papanya.


", badannya panas bang, tapi keringatnya dingin", ucapnya pada adit.


adit yang diajak bicara hanya diam tak membalas, ia masih syok melihat adiknya yang seperti itu.

__ADS_1


", bang kita bawa adek ke rumah sakit",. ucapnya pada adit.


adit mengekori mamanya, sila meletakkan dania di bangku belakang yang berbantalkan paha adit, sedangkan sila melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.


sesampainya di rumah sakit, dania di larikan ke UGD, di sana ia ditangani dengan cepat oleh dokter yang berjaga. Sila bingung dan sedih melihat anaknya, tak ada siapa pun yang menemani kecuali putranya, ia memeluk putranya.


", adek kenapa ma", tanya dalam pelukan sang mama.


Sila hanya diam, tak tau harus menjawab apa.


", waktu kami pulang sekolah tadi, dania melihat papa sedang berjalan mengandeng tante cantik ma", jelas adit


", adek memanggil - manggil papa, tapi papa langsung masuk ke mobil, terus adek nangis di mobil ma", sakit hati sila, mendengarkan penjelasan sang putra.


akhir - akhir ini, Aldi memang tak lagi sehangat dulu kepada kedua anaknya, bahkan untuk sekedar bertemu pun jarang, karena aldi selalu pulang larut malam, dan berangkat lebih awal.


", sil, apa yang terjadi pada dania", ucap vania yang baru saja datang setelah mendapat kabar dari sila.


tak ada jawaban dari sila, ia hanya terduduk lesu sambil memeluk putranya.


pintu UGD terbuka, mereka berhambur menuju dokter yang memeriksa dania.


", orang tua pasien dania?,panggilnya


", ya dok, saya mamanya", ucap sila


setelah dipindahkan keruang perawatan, mereka hanya bisa memandangi bocah kecil Yang sedang terlelap dengan sedih.


", sil bisa kita bicara sebentar", ucap vania memecah keheningan.


sila hanya mengikuti vania yang menuju pintu keluar.


", dimana Aldi", dengan menyedekapkan tangannya di dada.


yang ditanya hanya menggelengkan kepala.


", aku sudah menghubunginya sejak tadi tapi tidak aktif van", ucapnya sedih.


", dasar laki - laki *****, " geramnya.


", kau terlalu lemah dan penurut sil, lihat kelakuannya, bahkan pada anaknya sendiri ia tak perduli", ucap vania marah pada sila.


", cari dimana aldi sekarang, dan kabarkan segera", perintahnya pada orang kepercayaannya.


sika yang mendengar hal itu, hanya diam dengan lesu, seharusnya ia marah saat melihat suaminya dengan wanita lain, bukan hanya diam dan mengalah.

__ADS_1


", bos, dia berada di apartemen di jl. xxxxx, lantai xxxxx, nomor xxxx", informasi yang diterima dari orang kepercayaannya.


", apa kau akan diam saja, suamimu sedang berada di apartemen kekasihnya, jika aldi memberimu kehidupan bergelimang aku tak kan marah padamu, karena nasib kita sama, tapi lihatlah dirimu, harus bekerja keras untuk hidupmu, dan dia bersenang - senang, apa kau rela mengabdikan hidupmu untuk laki - laki ***** seperti dia", oceh vania.


", aku tak perlu mengotori tanganku untuk manusia seperti mereka van, aku juga tidak mau buang - buang waktu untuk mereka", ucapnya sendu.


", suruh anak buah mu mengambil foto mereka, sebagai bukti nanti di pengadilan ", lanjutnya.


vania tak menyangka sahabatnya berani mengambil keputusan seperti ini, ia yang kelihatan lemah dan penurut tapi bisa mengambil keputusan yang tepat untuk hidupnya.


", kamu serius sil", masih tak percaya


", bukan kah kau yang meminta, aku untuk tegas, lalu kenapa kau bertanya", tatapnya tajam.


vania hanya tersenyum, ternyata sahabatnya tak selemah yang ia kira.


", aku ingin mad Alex yang mengurus perceraian ku dengan mad Aldi ", lanjutnya.


", baiklah sahabatku, aku akan menyuruhnya pulang segera", ucapnya


", memangnya pergi kemana pengacara kondang itu", celotehnya


", kau lupa, kalau pengacara itu sedang keluar negeri bersama asistennya", ucapnya sebal.


", pantas saja kau kesepian", ejek sila


", itulah sebabnya aku selalu ke resto mu, siapa lagi yang bisa aku repotin kalau bukan kamu", balasnya.


vania menemani sahabatnya di rumah sakit, karena tidak mungkin meninggalkan sila sendirian ketika hatinya sedang kalut. dania menggeliat dan memanggil - manggil papa, sila dan vania yang baru saja akan memejamkan mata terkejut akan hal itu. mereka berdua mendekati tempat tidur gadis kecil itu, sedih hati sila melihat putrinya.


", dania.... dania.... bangun sayang ini mama", sila mencoba membangunkan dania agar terbangun dari ngigau nya.


", mama.... adek di mana ma", tanya bocah kecil itu.


", adek sedang sakit, jadi adek ada di rumah sakit", ungkapnya sambil membela rambut putrinya.


", papa mana ma", tanyanya pada sang mama


sila dan vania hanya saling pandang mendengar pertanyaan gadis kecil itu.


", papa sedang kerja sayang, belum bisa nemuin adek, nanti kalau sudah selesai pasti papa ke sini lihatin adek", rayu sila pada putrinya.


", papa jahat ma, kemarin adek lihat papa sama tante cantik, adek panggil - panggil papa, tapi papa hanya lihatin terus masuk mobil pergi sama tante cantik itu ma, tante itu jahat bawa papa pergi", curhat dania pada mamanya sambil menangis


", dania sayang, mau gak nanti jalan - jalan sama mama vania, mau kemana ja terserah dania, asal dania cepat sembuh ya", vania ikut membujuk dania.

__ADS_1


", mama vania bener, dania boleh ke mana ja? tanyanya


vania hanya mengangguk dan tersenyum meyakinkan gadis kecil itu. tak butuh waktu lama dania berhenti menangis dan memanggil papanya.


__ADS_2