
" kenapa kau belum memakan makanan mu, apa tidak enak?, ucap Arsya dan kembali duduk di kursinya.
" tidak tuan, aku belum pernah makan makanan ini Tuan, jadi aku agak ragu - ragu, takut lidahku tidak cocok", ucap Sila menjelaskan.
" coba buka mulutmu!, Sila nampak ragu - ragu menuruti permintaan Arsya. namun akhirnya Sila menuruti saja.
Arsya menyuapi Sila, dan Sila mulai menikmati makanan itu.
" enak Tuan, saya kira aneh rasanya ternyata enak", ucap Sila nyengir.
" makanya di coba dulu, jangan ngerasa gak enak dulu", jelas Arsya memberi pengertian.
mereka menikmati makanan mereka, Arsya menyuapi Sila begitupun sebaliknya, bahkan mereka saling berebut makanan seperti anak kecil, hingga membuat mulut mereka belepotan seperti anak kecil.
Sila tertawa melihat wajah Arsya, sedang Arsya geli melihat mulut Sila yang makan seperti anak kecil. Arsya menyentuh bibir Sila dengan ibu jarinya.
" mulutmu belepotan sekali, seperti anak kecil yang sedang makan es krim", ucap Arsya dan menjilat ibu jarinya bekas sisa makanan Sila.
sedang Sila mengambil tisu dan mengelap pipi dan bibir Arsya yang juga sama seperti Sila.
" Tuan juga, sudah dewasa tapi makan sampai ke pipi - pipi", ucap Sila sambil tersenyum.
Arsya menggenggam tangan Sila dan menciumnya, yang membuat Sila membeku dan salah tingkah di buatnya. perlahan Sila menarik tangannya dan tertunduk malu.
" ayolah, jangan membuatku malu, jika Tuan sampai dengar suara mu berdendang kencang seperti ini", ucap Sila sambil memegang dadanya yang berdetak kencang.
setelah perut terasa kenyang mereka melanjutkan aktifitas mereka kembali. dan tak disadari oleh mereka jika ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka bahkan mengabadikan setiap gerak gerik mereka.
***
Arsya dan Sila pergi menuju tempat Adit dan Dania sedang berenang ditemani oleh Vania sahabatnya. tampak di sana kedua anak Sila tampak bahagia karena dapat bermain dan berenang dengan bebas dan puas.
Vania melambaikan tangannya ketika melihat sahabatnya dari kejauhan.
" apakah mereka merepotkan mu", tanya Sila kepada sahabatnya.
__ADS_1
" tentu tidak, mereka anak - anak penurut dan pintar", jelas Vania sambil tersenyum.
Arsya segera ikut bergabung bermain air bersama kedua anak Sila.
" lihatlah mereka seperti anak dan ayah, apa kau masih ragu padanya?, tanya Vania kepada Sila.
Sila melihat bagaimana kedua anaknya merasa bahagia bersama Arsya, dan tak dipungkiri jika Arsya laki - laki yang bisa membuat anak - anak itu menurut padanya.
Sila menarik napas dalam - dalam dan menghembuskan perlahan, ia masih belum siap menjawab pertanyaan sahabatnya.
" aku masih belum tau tentang perasaanku Van" jelasnya lemah.
..." kau masih trauma atau kau masih belum bisa move on dari Aldi", ucapan Vania membuat Sila mengarahkan pandangannya pada sahabatnya. ...
" aku yakin Tuan Arsya bisa menjadi ayah pengganti untuk Adit dan Dania, bahkan bersamanya mereka bahagia dan menurut, jangan pikirkan perasaanmu Sil, tapi pikirkan masa depan mereka", jelas Vania memberikan nasehat.
Sila mencerna dan meresapi ucapan sahabatnya, sungguh egois jika Sila hanya mementingkan perasaannya sendiri, sedang kedua buah hatinya membutuh sosok seorang ayah yang bisa melindungi mereka.
" terima kasih nasehatmu Van, akan aku pikirkan lagi, belum tentu Tuan Arsya mau denganku juga kan", jelasnya sambil tersenyum.
Sila hanya diam mendengar ucapan sahabatnya, akhir - akhir ini Sila juga menyadari jika dadanya bergetar hebat jika Arsya memperlakukannya dengan manis.
" apakah itu artinya jika aku juga tertarik padanya", batin Sila.
***
waktu sudah menunjukan sore hari, mereka memutuskan kembali ke hotel tempat mereka menginap, untuk melepaskan lelah karena seharian pergi jalan - jalan.
Sila memasuki kamar hotelnya begitu juga dengan Arsya. anak - anak Sila langsung berbaring di ranjang mereka, sedang Sila segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket dan gerah.
" mama... belanjaan mama banyak sekali, apakah untuk kita juga ada?, tanya Dania kepada Sila karena melihat paper bag yang berjajar di atas ranjang Sila.
Sila menepuk keningnya, karena lupa memberikan paper bag itu kepada Arsya.
" maaf sayang, itu bukan punya mama, tapi punya om ganteng, tadi mama yang disuruh bawa tapi mama lupa memberikan padanya", jelas Sila kepada Dania.
__ADS_1
Dania hanya mangut - mangut mendengar penjelasan dari Sila. tak berapa lama kedua buah hatinya sudah tertidur.
" yah kok udah pada tidur, mungkin mereka kelelahan karena seharian jalan - jalan bersama Vania", guman Sila
Sila bermaksud mengantarkan paper bag ke kamar Arsya, setelah menyelimuti kedua buah hatinya, Sila menuju kamar Arsya.
" tok... tok... tok... ", Sila mengetuk kamar Arsya.
namun tak juga ada jawaban dari dalam, Sila mencoba membukanya namun pintu itu tidak terkunci, Sila memberanikan diri masuk kedalam, dan mencari penghuni kamar tapi tidak ditemukan.
" mungkin dia sedang mandi, aku tunggu saja atau tinggal ya", batin Sila bimbang.
" ah.. sebaiknya aku tunggu saja, takut salah lagi nanti", gumannya dan duduk di sofa jamar Arsya.
sedangkan Arsya masih asyik menikmati guyuran air shower di tubuhnya, rasa segar membuat ia betah untuk berlama - lama menguyur tubuhnya, seharian berjalan - jalan membuat tubuhnya lengket dan gerah yang membuatnya tak ingat waktu jika sudah 1 jam berada dikamar mandi.
Arsya melilitkan handuk di pinggangnya dan berjalan keluar kamar mandi, ia tak menyadari jika ada sesosok wanita yang sedang duduk di sofa kamarnya.
Sila pun tak menyadari jika Arsya sudah selesai melaksanakan mandinya, Sila masih sibuk memainkan game kesukaannya. mendengar seseorang sedang bersiul - siul membuat Sila sadar jika saat ini ia sedang berada dikamar Arsya.
" aaa...... ", Sila berteriak kaget melihat Arsya hanya menggunakan handuk kecil yang melilit pinggangnya dan hanya menutupi benda pusakanya.
Arsya yang mendengar teriakan Sila juga berteriak dan segera mengambil baju mandinya untuk ia kenakan.
" Tuan... apa setiap habis mandi anda seperti ini", oceh Sila kesal.
" hai Nona, seharusnya aku yang marah padamu, kenapa tiba - tiba kau ada di kamarku, apa kau ingin mengintip ku, jika kau menginginkannya kau tak usah malu - malu dan mengendap - ngendap ke kamarku, aku akan dengan senang hati memberikannya", goda Arsya yang terus melangkah maju mendekati Sila.
Sila melangkah mundur menghindari Arsya, namun Arsya terus melangkah maju hingga tubuh Sila terkena dinding.
" em... pikiran anda mesum sekali Tuan, saya sudah mengetuk pintu anda berulang kali tapi tak ada jawaban dan pintu anda juga tidak terkunci, jadi saya berinisiatif untuk masuk, saya hanya ingin memberikan paper bag anda yang berisi belanjaan anda Tuan", jelas Sila yang salah tingkah karena sikap Arsya.
Arsya membelai rambut Sila yang basah dan sekilas mencium keningnya yang membuat Sila merona, Sila segera melepaskan diri dari Arsya karena tak ingin Arsya berbuat yang lebih padanya.
" bawa kembali paper bag itu, semua itu milikmu dan milik Adit juga Dania, aku sengaja membelikan itu untuk kalian, jangan menolak jika kau lakukan itu aku akan mengurung mu dikamar ini bersamaku", jelas Arsya menakut - nakuti Sila.
__ADS_1
Sila yang mendengar ancaman Arsya langsung mengambil paper bag itu kembali dan membawanya ke kamarnya, serta tak lupa mengucapkan terima kasih pada sang bos.