
Sila mengajak semua anggota keluarganya untuk makan bersama, Sila mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk kedua buah hatinya, lalu mengambil nasi dan pendampingnya untuk diberikan pada Arsya, baru setelah itu mengambil untuk dirinya sendiri.
perlakuan Sila pada Arsya tak luput dari perhatian Vania, ia yang merasa heran dengan sikap sahabatnya, tak seperti biasa Sila yang cuek dan tak perduli pada Arsya kini berubah menjadi perhatian.
" Sil, kamu kayak gak makan seminggu aja" ucap Vania yang melihat piring sahabatnya penuh dengan makanan.
" hehehe... maklum Van, baru masa pemulihan jadi nafsu makan ku meningkat", jawab Sila sambil nyengir kuda.
Arsya yang melihat tingkah kekasihnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melanjutkan aktivitasnya untuk menikmati makanannya.
selesai menikmati makan bersama, Arsya pamit untuk pulang kerumahnya, Arsya mencium pipi gadis kecilnya, dan memeluk putra sulung Sila serta berganti mencium kening Sila tanpa ragu dan malu pada Vania dan kedua anaknya.
Vania merasa ada yang disembunyikan sahabatnya darinya, tentang sikap manis dan perhatian yang mereka tunjukkan.
" ehem.... hem... " Vania memberikan kode agar Sila mengerti isyaratnya.
Sila mencoba berpura - pura tak mengerti maksud Vania, namun tentu saja Vania tidak akan menyerah begitu saja, lalu Sila memutuskan untuk menceritakan semua pada sahabatnya.
Sila menyuruh kedua anaknya untuk naik ke atas menuju kamar mereka, lalu mengajak Vania menuju ruang keluarga tempat favorit mereka.
" aku akan menceritakan padamu Van, jangan mengintimidasi aku seperti itu " sindir Sila pada sahabatnya yang terus menatapnya dengan tajam.
Vania hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya, karena bagi mereka berdua tak ada yang perlu dirahasiakan jika ini hanya tentang dirinya dan Arsya.
" aku dan Arsya sudah sepakat untuk menjalin hubungan yang serius, dan aku harap ini yang terakhir untuk kami berdua, aku baru menyadari perasaanku setelah dia dengan ikhlas menemaniku di rumah sakit. kebaikan dan perhatian yang dia berikan padaku dan pada anak - anakku membuatku sadar, jika dia laki - laki yang terbaik buat kami bertiga", jelas Sila pada sahabatnya.
__ADS_1
Vania ikut bahagia melihat sahabatnya berbahagia, sejak dulu Vania ingin menjodohkannya dengan Arsya karena melihat Arsya yang memang tulus pada Sila, namun Sila berulang kali menolak karena masih trauma dan belum siap untuk menjalin hubungan yang baru.
" aku bahagia mendengarnya, doaku semoga kalian selalu berbahagia, dan bisa segera meresmikan hubungan kalian", ucap Vania dan memeluk sahabatnya.
" kamu berhak bahagia Sil, sudah cukup rasa sakit dan penderitaan yang kamu alami, sekarang saatnya kamu membangun kebahagiaan itu bersama anak - anakmu, aku yakin Arsya tulus mencintai kalian dan akan Membahagiakan kalian bertiga", nasehat Vania pada Sila disertai doa tulus untuk sahabatnya.
" makasih Van, aku gak tahu lagi harus membalas semua kebaikanmu dengan cara apa, kamu bukan hanya sahabat tapi saudara bagiku, jika tak ada kamu ntah bagaimana nasib kami, aku benar - benar berterima kasih padamu, hanya itu yang bisa aku lakukan", ungkap Sila sendu menatap sahabat terbaiknya.
" hei... sudahlah, tak perlu berlebihan seperti itu, tak ada yang perlu kau balas untuk semua yang aku lakukan padamu, kita saudara, jadi jangan seperti ini", jelas Vania, agar Sila tidak merasa terbebani.
***
Sila bangun pagi - pagi untuk menyiapkan dirinya kembali menjalani rutinitasnya seperti sedia kala, setelah merasakan libur beberapa hari karena sakit, ada rasa rindu untuk bisa kembali bekerja. tubuhnya sudah sangat lebih baik, apalagi semalam ia tidur dengan sangat nyenyak sehingga badannya terasa lebih ringan.
Sila masih asyik menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya, yang sudah beberapa hari tidak ia lakukan karena sakit. ada rasa bahagia karena masih diberikan kesempatan untuk dapat merawat kedua anaknya.
sebuah tangan melingkar di pinggang Sila yang membuat wanita itu terkejut dan ingin berteriak, tapi Arsya dengan cepat membungkam mulut Sila dengan telapak tangannya agar tidak terjadi keributan di pagi hari.
" bisa gak sih, gak ngagetin ", sungut Sila kesal karena ulah Arsya.
" maaf, aku hanya ingin memelukmu, aku sangat merindukanmu", ucap Arsya yang merasa bersalah.
melihat Arsya yang merasa bersalah, Sila merasa tidak tega, ia lalu mendekati Arsya dan memeluk laki - laki yang kini menjadi kekasihnya.
Arsya menyambut pelukan Sila dengan rasa bahagia, rasanya tak ingin ia berjauhan dengan wanita yang selalu menganggu tidurnya, namun apa hendak di kata mereka belum di sah kan oleh ikatan suci.
__ADS_1
" mari kita menikah, agar aku tak tersiksa jauh darimu", ucap Arsya agar Sila mau mempertimbangkan keinginannya.
" bukankah kau berjanji tidak akan memaksaku, kita harus meminta restu pada kedua anakku dan juga oma Cintya yang ada di prancis", jelas Sila agar Arsya mau sedikit bersabar.
" jika hanya itu masalahnya, kau tak perlu kuatir, oma akan sangat merestui kita karena itu adalah keinginannya, jika Dania aku yakin dia setuju, hanya Adit yang aku masih ragu ", jelas Arsya pada Sila.
Sila melepaskan pelukannya dan menyuruh Arsya untuk duduk di kursi, lalu Sila menyiapkan sarapan untuk Arsya dan kedua buah hatinya.
Arsya sangat menikmati sarapan yang buat oleh wanita yang sangat dia cintai, meski umurnya sudah tak muda lagi, namun wanita di depannya ini membuatnya seperti anak abg yang sedang di mabuk asmara.
" kau tak perlu bekerja hari ini, kau baru saja sembuh dan aku tak ingin kau sakit lagi, jangan membantahku !, ungkap Arsya setelah selesai sarapan dan tegas pada Sila karena wanita itu ingin membantahnya.
" baiklah Tuan besar, aku menurut padamu ", ledek Sila pada Arsya.
mendengar panggilan Tuan, Arsya tersenyum licik lalu mendekati Sila dan mencium bibir Sila sekilas.
" itu hukumannya jika berani memanggilku Tuan ", ucap Arsya dengan tersenyum.
" ish... kau selalu mencari kesempatan", kesal Sila, untung saja dimeja makan hanya ada mereka berdua, sedangkan kedua buah hatinya belum turun untuk sarapan.
" nanti siang aku akan kembali lagi untuk makan siang bersama, kau tak perlu melakukan apapun untuk itu, aku akan mengirimkan semua yang dibutuhkan, kau mengerti !, jelas Arsya dan mencium kening Sila lalu beranjak meninggalkan Sila menuju ke kantornya.
Sila hanya menganggukkan kepala, tanda ia mengerti ucapan Arsya. menolak pun percuma jika Arsya sudah memutuskan hal itu. ia hanya bisa menurut agar tidak ada perdebatan panjang diantara mereka berdua.
Sila segera naik ke atas untuk melihat kedua anaknya, sudah hampir jam tujuh namun kedua anak itu belum juga turun untuk sarapan, sehingga membuat Sila yang harus lebih dulu naik keatas melihat mereka.
__ADS_1