
mentari pagi yang cerah, membangkitkan wajah - wajah lesu penghuni rumah sakit, demi mendapatkan semangat baru, banyak diantara mereka berduyun - duyun untuk berjemur dibawah sinarnya.
sudah tiga hari adit dirawat di rumah ini, dan keadaannya pun sudah mulai membaik, meski sekarang ia berubah menjadi anak yang dingin, bicara seperlunya, tak seperti dulu sering usil dan bercanda dengan dania adiknya. namun hal itu perlu disyukuri karena kemajuan dan perkembangan atas kesehatannya.
Sila tak pernah sedikit pun beranjak dari rumah sakit itu, sedangkan dania di bawa oleh vania menginap di rumahnya, menjelang siang vania akan membawa dania ke rumah sakit untuk bertemu mama dan saudaranya. seakan mengerti dengan pesakitan sang mama, dania berubah menjadi gadis yang penurut dan tidak cengeng lagi.
", wah gadis mama sudah datang, cantik sekali bajunya", sapanya pada Dania yang baru saja datang bersama Vania, dengan membawa bekal untuk sahabatnya.
", mama Vania membelikan baju baru untukku ma", ucapnya sambil menunjukan baju baru yang dikenakannya.
Sila hanya menatap sahabatnya dengan sendu, ia sungguh bersyukur memiliki sahabat seperti Vania, yang selalu membantunya, entah dengan apa ia harus membalasnya.
", Van, terima kasih banyak atas segala yang kamu lakukan untukku dan kedua anakku", ucapnya dengan hati yang tulus dan mata yang berkaca - kaca.
Vania mendekati sahabatnya dan memeluknya, ia hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih sahabatnya.
", kau terlalu memanjakan putriku, aku takut dia terbiasa dengan kemewahan yang kau berikan, sehingga nanti membuat dirinya kaget jika bersamaku, karena aku tak sekaya dirimu", candanya dan sekaligus ungkapan kebenaran atas dirinya.
", Dia putriku juga, dia berhak mendapatkan apa yang ia mau, jika kau tak sanggup merawatnya berikan saja padaku", balas candanya, namun Sila memberikan tatapan yang tajam padanya.
", kau bisa membuatnya lagi dengan mas Alex, jangan meminta padaku", ucapnya sebal pada sahabatnya.
", kau kan tau, aku selalu tak berhasil jika membuat mainan baru seperti dirimu ", ledeknya.
", Dia bukan mainan Van, tapi boneka Barbie", candanya sambil tertawa melihat putrinya yang cantik.
senang hati Vania melihat sahabatnya yang kini sudah bisa bercanda lagi, selama di rumah sakit, Sila selalu murung dan berubah menjadi orang yang pendiam.
__ADS_1
", bagaimana kabar Adit hari ini", tanya Vania memecah keheningan.
", Dia sudah lebih baik, tidak sering mengigau lagi, jika terus seperti ini besok sudah boleh pulang", menjelaskan pada sahabatnya.
", tapi aku bingung Van, kemana kami harus pulang, tak mungkin aku membawa mereka ke Resto", ungkap sedih
", kau sama sekali tak menghargai ku sebagai sahabatmu Sil, kau juga meragukan seberapa banyak kekayaanku, pilihlah rumah yang kau sukai aku akan memberikan untukmu", ucapnya sombong.
", aku malu jika harus merepotkan mu terus Van, aku tak mau terlalu banyak berhutang budi padamu", jelasnya dengan memandang nanar.
", Kita bukan hanya sekedar sahabat sil, kita sudah seperti saudara, aku tak memiliki siapapun kecuali kamu, begitu pun sebaliknya, jadi jangan jadikan bantuan ku sebagai beban hidupmu", jelas Vania kepada sahabatnya, agar Sila mengerti.
Mereka berpelukan mengungkapkan perasaan mereka masing - masing, sungguh beruntungnya Sila memiliki Vania yang rela membantunya tanpa meminta balasan.
", kau bisa menempati salah satu rumahku, lihatlah anak - anakmu mereka butuh tempat tinggal yang layak, itupun jika kau masih mengganggap ku sebagai sahabatmu", ancamnya pada Sila.
Sila yang mendengarkan hal itu pun tak bisa menolak, ia tak mau mengecewakan Vania yang sudah terlalu baik padanya.
", terserah kau saja, aku akan menyuruh orang untuk membersihkannya, agar ketika kalian boleh pulang bisa langsung ditempati", ungkap Vania.
**
sesuai jadwal yang sudah diketahui sebelumnya, Adit sudah diperbolehkan untuk pulang. setelah membereskan semua barang - barangnya, dan menyelesaikan administrasinya, Sila segera melajukan mobilnya menuju alamat yang dikrim oleh Vania melalui pesan whatsapp .
rumah yang memiliki 2 lantai dengan tipe 36, akan menjadi huniannya bersama kedua anaknya.
", hai putraku kau terlihat lebih segar sekarang", sapa nya pada anak sahabatnya.
__ADS_1
Namun yang di sapanya hanya mencium punggung tangannya tanpa ada niat sedikitpun untuk membalas sapaannya.
", kenapa ia berubah menjadi dingin seperti itu ", Bisiknya pada Sila.
", jangan kau ambil hati sikapnya, aku yang mama nya pun, diperlakukan sama denganmu", memberikan pengertian pada Vania.
setelah meletakkan barang bawaannya, yang dibawa dari rumah sakit, Sila menyuruh Adit beristirahat di kamarnya. sedangkan Vania dan Sila menyiapkan hidangan makan siang.
seusai menikmati makan siang, kedua anaknya menuju kamarnya yang berada di lantai atas, sedangkan kedua sahabat itu menghabiskan waktunya untuk mengobrol diruang tv.
", apakah ini mu yang paling murah harganya", canda Sila disela - sela obrolannya.
", kau bahkan akan terkejut jika ku beritahu berapa jumlah rumahku ", ungkapnya sombong kepada sahabatnya.
", aku percaya tuan putri, kalian sebelum lahir saja sudah memiliki harta berlimpah apalagi sekarang, suami mu itu terkenal memiliki honor paling mahal", ungkapnya
", bagaimana sidang perceraian ku Van", tanyanya pada sahabatnya.
", semuanya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti, kalian berdua sama tidak ada yang menghadiri sidang, hanya di kuasakan pada kuasa hukum saja, secara agama kalian sudah bercerai, karena Aldi sudah menalakmu, jadi tinggal proses secara hukum saja, dan aku dengar mantan suamimu itu kini sedang berlibur ke luar negeri bersama selingkuhannya", jelasnya panjang kali lebar.
", aku sudah tak perduli dengannya lagi, aku ingin hidup bahagia dengan putra putriku, dan memulai semuanya dari awal lagi", ungkapnya tegar
", aku bersedia membantumu apapun itu, yang terpenting adalah kamu harus kuat dan tegar menghadapi semua, dan aku yakin Aldi tidak akan berhenti mengusik mu", cerocos Vania menyemangati Sila.
", tak akan ku biarkan dia menyakiti kedua anak ku lagi, jika perlu aku akan pulang kampung untuk menghindarinya, aku takut Adit masih trauma jika bertemu dengan papanya, aku masih memiliki rumah dan sedikit perkebunan peninggalan kedua orang tua ku, sejak menikah dengannya aku tak pernah pulang melihatnya Van, mungkin ini saatnya aku kembali ke sana ", jelasnya dengan pikiran menerawang jauh, mengingat masa lalu di tempat kelahirannya.
", aku hanya bisa mendukungmu Sil, demi kebaikan kalian, jika itu jalan terbaik lakukan lah, yang terpenting adalah kesehatan Adit dan Dania, soal Resto jangan kau risaukan, aku akan membantumu mengurusnya" Vania terus memberikan dukungan untuk sahabatnya, agar ia tegar menghadapi cobaan hidupnya.
__ADS_1
Sila memandang sahabatnya yang sudah di anggap sebagai kakaknya, ntah harus dengan apa ia membalas kebaikannya, Sila memeluk Vania dan mengucapkan berjuta - juta terima kasih.
", sungguh aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti dirimu", ungkapnya dengan memeluk kembali sahabatnya Vania.