
Arsya mengajak Oma untuk kembali ke Hotel tempat mereka menginap. Arsya menyuruh sang Oma untuk beristirahat agar tidak merasa lelah setelah berjalan agak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
Arsya membaringkan tubuhnya diatas ranjang Hotel setelah kembali ke kamarnya. Pikirannya menerawang jauh memikirkan istrinya.
Cling.
Tanda pesan masuk ke Handphone miliknya. Dengan malas Arsya meraih Handphone yang tergeletak dimeja dan membukanya. Matanya berbinar setelah tahu itu dari Vania. Yang memberikan alamat website milik Sila. tak ingin menunggu lama Arsya segera berseluncur dengan Handphone miliknya untuk mengetahui usaha apa yang kini sedang dirintis oleh istrinya.
Arsya tersenyum melihat website milik istrinya. Ternyata di sana sudah banyak pelanggan Sila padahal baru berjalan satu bulan. Masakan yang disajikan memang sangat menggugah selera. Dan semua yang ditawarkan adalah menu khas Nusantara. Sesuai jika sasarannya adalah mahasiswa indonesia, dan orang indonesia yang sudah lama menetap di sana.
" Pantas kau meninggalkan semua pemberianku. Kau memang pintar dan cerdas tak salah jika aku memilihmu untuk mendampingiku. Aku tidak akan melepaskan mu. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan mu kembali. Anya". Batin Arsya sambil tersenyum senyum sendiri.
Arsya mulai berpikir bagaimana agar bisa bertemu dengan istrinya. Agar ia bisa meminta maaf dan bersama Sila.
***
" Van. Baru pulang". Vania menoleh ke sumber suara yang ternyata Sila masih berkutat di dapur.
" Kamu dari pagi belum selesai buat pesanan Sil. Kamu jangan capek capek Sil. Ingat kamu lagi hamil sekarang". Cerocos Vania menasehati sahabatnya.
" Kamu ditanya malah balik tanya. Aku udah selesai buat pesanan tadi pagi terus istirahat. Bangun tidur aku pengen buat jelly rumput laut jadi aku buat. Mumpung ada bahannya. Kamu dari mana?. Tumben pergi lama banget".
Vania yang mendengar pertanyaan sahabatnya sedikit kikuk. Ia harus mencari jawaban yang pas agar Sila tidak menaruh curiga padanya.
" oh.. Aku tadi ketemu istri temennya mas Alex. Karena ini kali pertamanya dia berlibur kesini jadi mas Alex minta agar aku menemaninya. Jadi aku mengajaknya jalan jalan dan makan bersama".
" Jadi kamu sudah makan. Padahal aku ingin kita makan bersama. Andra dan Dania sedang keluar. Mereka mungkin makan di luar".
__ADS_1
Sila nampak sedih karena akan makan malam sendirian. Semenjak hamil Sila berubah menjadi lebih sensitif. Dia bisa sedih hanya karena tidak memiliki teman makan seperti saat ini.
" Ayolah Sil. jangan sedih seperti itu. Meski aku sudah makan aku tidak bisa jika tidak memakan masakanmu. Jadi aku akan menemani mu makan. Tapi biarkan Aku ganti baju dulu setelah itu kita makan bersama ya". Ucap Vania yang mendapat angguk dari sahabatnya.
Vania menaiki tangga menuju lantai atas untuk menganti baju dan membersihkan tubuhnya. Ia tak ingin sahabatnya itu merasa diabaikan atau tertekan tinggal bersamanya. Apalagi sekarang kondisinya yang sedang berbadan dua.
" Van. Van.. Sini. Aku ingin menunjukkan sesuatu ke kamu".
Sila nampak bahagia dan memanggil sahabatnya yang masih menuruni anak tangga.
" Apa sih Sil. Seneng banget kamu kayak sedang dapet Lotre tau gak".
" ih aku memang lagi seneng Van. Lihat nih ada yang email aku. Order masakan aku dua ratus kotak. Kamu kan tau ini kali pertamanya aku mendapatkan orderan sebanyak ini. Aku bahagia banget Van".
Sila nampak berbinar binar mendapatkan pelanggan baru dengan nilai yang lumayan besar. Meski jika diindonesia hal itu tergolobg biasa dan sedikit. Namun berbeda di Swiss ditambah ia yang tergolong baru membuka usahanya. Tentunya nilai segitu tergolong lumayan besar.
" kalau masalah itu gampang Sil. Aku bisa mengantarmu nanti. Tapi dimana alamatnya". Tanya Vania sambil menikmati hidangan yang tersaji diatas meja.
" ini di Hotel Schweizerhof Bern. Itu kan agak jauh dari sini Van".
Dek.. Vania merasa ada sesuatu yang aneh. karena Arsya dan Oma Cintya juga sedang menginap di sana. Apa itu perbuatan mereka atau tidak. Yang pasti Vania merasa was was.
" Siapa nama pemesannya Sil. Apa dia orang indonesia?. Tanya Vania untuk memastikan.
" Kalau dilihat dari namanya sepertinya bukan Van. Namanya inggris inggris gitu". Jawab Sila.
" Oh... ". Sila nampak lega untuk saat ini.
__ADS_1
" cepat habiskan makananmu. Setelah itu kita ke supermarket untuk membeli bahan bahan yang kau butuhkan". Perintah Vania kepada sahabatnya. Mereka langsung menghabiskan makan malam mereka dan bersiap siap untuk membeli perlengkapan untuk besok.
****
Ke esokan harinya Sila dan Vania sudah bersiap siap untuk mengantarkan pesanan sesuai perjanjian yang sudah mereka sepakati. Dengan menggunakan dress selutut berwarna Lilac dan flat shoes membuat Sila nampak lebih fres dan menawan.
" Semoga ini awal yang baik untuk kita ya sayang. Amin". Sila mengusap lembut perut yang masih rata. Berharap ini adalah Rizki yang diberikan oleh Allah untuk sang buah hati.
" udah siap semua belum Sil. Kalau sudah ayo kita berangkat . Nanti takut kita terlambat mengantarnya. Soalnya ini udah mau jam makan siang". ajak Vania yang langsung diaggukin oleh Sila.
Dengan senyum yag terus mengembang Sila nampak sangat bahagia. Ia terus berdoa semoga rizkinya selalu baik dan bertambah agar bisa merawat buah hatinya.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di tempat tujuan. Mereka langsung memarkirkan mobilnya di Lobby Hotel agar tidak terlalu jauh untuk mengangkat barang barang.
" permisi saya ingin bertemu dengan Tn. Arley. Saya ingin mengantar pesanan ini". Sila berbicara menggunakan bahasa inggris dan menunjukkan box yang berjumlah 200 Box.
" Gimana Sil. Udah ketemu orangnya". Vania menghampiri sahabatnya untuk memastikannya.
" Resepsionis nya lagi tanya sama yang pesan Van. Mungkin pemilik Hotel atau Manager Hotel yang memesannya". Jawab Sila.
" Maaf Nyonya. Pesanan disuruh antar ke kamar nomor 102 dan pembayarannya juga akan dilakukan di sana. Tapi anda sendiri yang harus mengantarnya". Resepsionis itu menjelaskan.
Sila nampak ragu ragu dan meminta pendapat dari sahabatnya. Sila takut jika ada orang jahat yang ingin mencelakai dirinya. Baru kali ini ia mendapatkan pelanggan yang permintaannya santat aneh.
" ya udah kamu turuti saja keinginan mereka. Ini uangnya banyak lo Sil. masak kamu mau tinggalin begitu aja. Orangnya mungkin mau kenalan langsung ma kamu jadi kamu disuruh kesana dan dia mau bayar secara cash juga. Gak apa apa kalau terjadi sesuatu yang membahayakan dirimu. Kamu bisa minta tolong pada pegawai disini".
Vania berusaha memberikan semangat kepada sahabatnya. Dengan dibantu oleh dua cleaning service Hotel akhirnya Sila menuruti keinginan pelanggan barunya yang cukup merepotkan.
__ADS_1