Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 114 pertengkaran


__ADS_3

Aldi mengendarai mobilnya menuju Resto milik Sila. Dalam perjalanan ia melirik Sila yang selalu tersenyum memandangi Usg janinnya.


" kelihatannya kau sangat bahagia. Dari tadi aku perhatikan selalu melihat foto itu sambil tersenyum senyum sendiri".


" Aku memang sedang berbahagia mas. Arsya pasti sangat bahagia kalau tahu aku hamil. Kami sudah menantikannya sejak lama mas".


" apa kau bahagia dengan kehidupanmu yang sekarang?. Aldi bertanya sangat hati hati sekali takut Sila tersinggung dengan ucapannya.


Sila menatap penuh selidik terhadap mantan suaminya.


" aku sangat bahagia mas. Ditambah dengan adanya janin diperut ku. Semakin menambah kebahagiaan kami".


Ntah mengapa mendengar cerita sang mantan istri. Hatinya terasa ngilu. Terbersit Bayangan masa lalu. Bertapa kejam dan jahatnya ia memperlakukan istri dan anak anaknya dan menyisakan penyesalan yang begitu menyiksa. Ditambah pernikahannya dengan Sonia tidak memberikannya kebahagiaan seperti awal awal mereka menjalin hubungan.


" Sil. Mampir ke hotel tempat aku menginap dulu ya. Aku mau nitip oleh oleh untuk Dania. Kemaren aku baru pulang dari luar kota". Ucap Aldi dan segera menuju tempatnya menginap.


Sebenarnya Sila ingin menolak karena sudah tak sabar ingin menemui suaminya di kantor. Namun Aldi tak memberinya kesempatan untuk menolaknya dan langsung menuju hotel tempatnya menginap.


" aku tunggu disini aja mas".


" turunlah dulu Sil. Di sini gak ada siapa siapa gak takut diparkiran sendiri. Kalau gak mau ikut ke kamarku gak apa apa kamu tunggu di Lobby hotel aja. Aku sebentar. Cuma ambil barang". Akhirnya Sila memutuskan ikut turun dan menunggu Aldi di lobby hotel.


Setelah mengambil oleh oleh untuk putrinya Aldi segera mengantar Sila ke Resto. Lalu meninggalkan Sila di sana. Karena Sila sudah menghubungi sopirnya untuk menjemputnya.

__ADS_1


***


Arsya dan Reno baru saja keluar dari ruang meeting. Keduanya berjalan menuju ruangan CEO untuk membahas hasil meeting berdua.


" Ren. Tolong pesankan makan siang. Aku tak menyuruh istriku membawa makan siang hari ini". Reno segera memesan makanan untuk mereka berdua.


Mereka kembali membahas hasil rapat dengan para Direksi Mhs group.


" tok tok tok". Reno menuju pintu untuk membuka pintu.


" ini ada paket untuk CEO Tuan". Resepsionis memberikan amplop coklat yang ada ditangannya.


Reno mengambil amplop itu dan membolak balikannya. Tidak ada nama pengirim atau keterangan lain di sana. Yang ada hanya ditujukan CEO Mhs Group.


" ini Tuan". Reno menyerahkan amplop itu pada Arsya.


Arsya membuka amplop itu karena penasaran dengan isinya. Tak ada nama pengirim atau keterangan lainnya di sana.


Arsya memukul meja hingga tangannya memerah. Melempar gelas teh yang ada di mejanya dan membanting monitor di meja. Semua yang ada di mejanya tak luput menjadi sasaran atas amarahnya.


Reno yang melihat hal itu sangat terkejut dan segera mendekati Arsya dan mengambil beberapa foto Aldi dan Sila yang sedang berada di Hotel dan rumah sakit yang sedang masuk ke ruangan Dokter spesialis kandungan.


Reno tak bisa berpikir beberapa saat karena masih syok dengan foto itu. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana menenangkan Arsya agar tidak kembali down dan trauma.

__ADS_1


" Sayang aku ada kab..... ". Sila tak melanjutkan ucapannya. Melihat ruangan suaminya yang hancur berantakan. Arsya yang menatapnya tajam dengan mata merah seakan ingin membunuhnya. Foto usg yang ingin ia berikan pada Arsya jatuh ke lantai karena syok melihat pemandangan di depannya.


" Ada apa ini". Tanya Sila meminta penjelasan.


Arsya melempar foto yang ia terima 30 menit yang lalu.


Sila mengambil foto foto dirinya dan Aldi yang berada di Hotel dan rumah sakit beberapa jam yang lalu. Bagaimana bisa foto itu secepat kilat sampai pada suaminya.


" Aku bisa jelaskan ini. Ini tak seburuk yang kamu pikirkan".


" jelaskan apa. Menjelaskan jika kau bisa hamil dengannya dan kalian sedang berbahagia saat ini. Sejak kapan kalian mengkhianati ku!. Arsya terus berteriak meluapkan emosinya pada Sila.


Sila tak mampu lagi menahan air matanya. Mendengar seluruh tuduhan suaminya terhadapnya.


" aku tak pernah mengkhianati mu. Tidak pernah". Ucap Sila lirih.


" kau ingin mengelak, agar aku percaya padamu. kau pikir aku bodoh. Aku memang sangat mencintaimu. tapi aku tidak bodoh seperti yang kamu pikirkan. Kau pikir aku akan mengakui anak haram itu dan menutup mataku dengan pengkhianatan kalian. Aku pikir kau wanita yang bisa menjaga kehormatan mu tapi kau sama saja dengan wanita murahan di luaran sana".


" Cukup.. Cukup... Kau boleh menghinaku sesukamu jika memang kau anggap aku bersalah. Tapi jangan hina anak yang tak berdosa ini. Dia hadir karena adanya ikatan yang syah dan suci kau tak berhak menghinanya sebagai anak haram.jika kau tak mau mengakuinya sebagai anakmu tak apa. Aku sendiri yang akan merawat dan menjaganya. Menjelaskan kebenaran pun percuma kau tak akan percaya padaku". Sila melangkahkan kaki untuk pergi. Semakin lama berada di sana hanya akan menambah rasa sakit dan luka hatinya karena hinaan suaminya.


" Anda tak perlu mengakui anak haram ini Tuan. Karena dia hanya akan menjadi anakku sendiri. Silahkah hujat dan hina aku. Tapi jika nanti anda tahu tentang sebuah kebenaran maka jangan pernah mencari kami". Sila segera berlari meninggalkan ruangan suaminya. Hancur hatinya. Seharusnya ini hari bahagianya bersama Arsya setelah sekian lama menunggu kehadiran buah hatinya. Justru hari ini menjadi kehancuran rumah tangganya.


Sila menghentikan taksi karena ia sudah menyuruh supirnya untuk pulang. Sila menuju Mansion Arsya untuk mengambil barang barangnya dan tak membawa pemberian apa pun dari Arsya. Setelah itu ia kembali naik taksi menuju sekolah Dania untuk menjemputnya.

__ADS_1


Sila memutuskan untuk menjauh dari kehidupan Arsya. Toh percuma rumah tangganya dilanjutkan jika sudah tidak adanya saling percaya.


__ADS_2