
melihat suami dan mantan suaminya bersitegang ditempat umum, Sila segera melerai mereka dan meninggalkan Dania duduk di kursi.
Sila menarik tangan Arsya agar duduk kembali ditempatnya semula, sedangkan Aldi yang menyaksikan hal itu justru semakin terpancing emosi.
" dasar wanita murahan", gerutu Aldi pelan namun masih bisa di dengar oleh Sila, namun Sila tak ingin menanggapi komentar Aldi yang justru makin memperkeruh suasana, baginya yang terpenting sekarang adalah putri dan suaminya.
" Anya, dimana Dania?, tanya Arsya pada istrinya.
Sila langsung melihat kursi dimana Dania duduk saat ia tinggalkan, namun kursi itu kosong tidak ada penghuninya. Sila langsung panik melihat putrinya yang sudah menghilang dari pantauannya.
" ayo sayang, kita cari Dania, aku sangat mengkhawatirkannya" ucap Sila dan langsung menarik tangan Arsya tanpa memperdulikan mantan suaminya.
Arsya dan Sila menyisir Mall itu, Sila bahkan sambil menangis memanggil - manggil nama putrinya.
" Anya, tenangkan dirimu. aku yakin Niah belum jauh dari sini, aku akan menyuruh Reno untuk mengerahkan anak buahnya untuk membantu kita menemukan Niah", ucap Arsya menenangkan istrinya.
Sila hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya, dia hanya berharap agar putrinya segera ditemukan.
Arsya membawa istrinya untuk duduk di kursi, dan memeluknya untuk memberikan ketenangan, sedangkan Reno sudah memerintahkan seluruh anak buahnya untuk menyisir Mall dan segera menemukan Dania.
***
tak berapa lama Reno datang ke Mall menemui bosnya.
" apa sudah di temukan putriku", tanya Arsya pada Asistennya.
Asisten Reno menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Arsya.
" belum Tuan, seluruh anak buah ku sudah menyisir Mall ini, tapi Nona Dania sepertinya sudah meninggalkan Mall ini", ucap Asisten Reno pada Tuannya.
Sila yang mendengar hal itu langsung tak sadarkan diri, dan Arsya langsung mengendong tubuh istrinya lalu segera menyuruh Reno untuk menyiapkan mobil dan membawanya pulang ke Mansion nya.
" Panggil Joe, untuk memeriksa Sila", titah Arsya pada Asisten Reno ketika sudah sampai di Mansionnya.
__ADS_1
Arsya segera mengendong tubuh istrinya dan membawanya masuk kedalam kamarnya lalu membaringkan tubuh istrinya di ranjang.
Reno membawa Joe menuju kamar Arsya, untuk memeriksa keadaan Sila.
" apa yang terjadi padanya?, apa dia sudah mulai telat ? tanya Joe saat sampai dikamar Arsya dan mendapati Sila masih belum sadar juga.
Arsya menatap tajam Dokter pribadinya sekaligus sahabatnya, bisa - bisanya dia mengira jika Sila sedang hamil.
" jangan banyak bicara, cepat periksa istriku", ucap Arsya dingin.
Joe sudah biasa dengan sikap Arsya yang kadang - kadang dingin, kadang ramah, bahkan kadang mengajaknya bertengkar. Joe langsung mengeluarkan peralatan perangnya dan memeriksa keadaan Sila, kali ini Arsya hanya diam melihatnya memeriksa Sila walaupun Joe sedang memegang tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya, tidak seperti waktu yang sudah - sudah.
" bagaimana keadaan istriku", tanya Arsya cepat ketika melihat Joe sudah selesai memeriksa istrinya.
" tenang saja, ia hanya syok saja, sehingga kesadarannya melemah, sebentar lagi dia juga akan sadar", jelas Joe pada Arsya dan Reno.
Arsya yang mendengar penjelasan Dokter pribadinya merasa lega, karena istrinya tidak mengalami sakit yang berbahaya.
" perintahkan seluruh anak buah mu untuk mencari putriku, aku tak mau tahu, kalian harus segera menemukannya, bagaimana pun caranya", perintah Arsya dengan tegas.
***"
di Mansion Vania yang megah Dania hanya menangis sejak bertemu dengan Vania, tak ada sepatah katapun yang di ucapkan nya kecuali menangis, sehingga membuat Vania merasa khawatir atas keadaannya.
" tolong berhentilah menangis Dania, mama mohon, jangan membuat mama khawatir seperti ini" ucap Vania yang mencoba menenangkan putri angkatnya.
namun Dania masih terus menangis dan hal itu membuat Vania benar - benar bingung harus bagaimana menghadapinya.
" jika kau tak menghentikan tangis mu, mama akan menghubungi mamamu agar ia menjemputmu sekarang" ancam Vania pada Dania agar gadis kecil itu mau menghentikan tangisnya.
mendengar ancaman Vania, Dania langsung menghentikan tangisnya, ia tak ingin Vania benar - benar menghubungi mamanya dan memberitahukan keberadaannya. untuk saat ini Dania tak ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, karena dalam pikiran Dania kedua orang tuanya ingin memperebutkan dirinya dan ia tak bisa memilih ingin tinggal bersama siapa.
" nah begitu donk, mama jadi bisa lega dan tenang " ucap Vania sambil membelai rambut putri sahabatnya itu.
__ADS_1
Dania menghapus jejak air matanya, lalu meminum air putih yang sudah disiapkan oleh Vania.
" sekarang mama antar pulang ya, mama mu pasti sangat mencemaskan mu, paling tidak biarkan mama menghubungi Daddy mu untuk mengabarkan bahwa kamu bersama mama, jangan membuat mereka khawatir, aku yakin Daddy mu sudah menyuruh orang untuk mencarimu", jelas Vania pada Dania.
Dania akhirnya mengizinkan Vania untuk menghubungi Daddy nya, dan memberitahukan bahwa dia bersama Vania.
Vania segera menghubungi Arsya dan memberitahukan bahwa Dania bersama dengan dirinya.
" aku akan mengantar mu pulang, mama mu tak sadarkan diri saat tahu kau meninggalkan Mall, mereka mencari mu ke sana kemari tapi tak dapat menemukanmu", jelas Vania pada Dania.
Dania langsung ikut bersama Vania setelah tahu keadaan mamanya dan langsung menuju Mansion Arsya.
" Daddy ", teriak Dania lalu berlari menuju Arsya ketika melihat Arsya yang sedang menunggu kedatangan mereka.
" Niah... kau dari mana saja, mama dan Daddy mencari mu, kenapa kau meninggalkan kami tapi memberitahu terlebih dahulu", tanya Arsya khawatir pada putrinya.
Arsya langsung membawa Vania dan menuju kamarnya, dimana Sila hingga saat ini belum ingin membuka matanya.
" mama,.." panggil Dania ketika melihat Sila yang masih betah dengan tidurnya.
" ma... mama... ini Dania ma, maafin Dania udah buat mama kayak gini, ma... bangun ma... mama" panggil Dania pada Sila dan duduk di samping Sila terus memanggil mamanya.
Arsya dan Vania hanya bisa menatap sedih sahabat dan putrinya, tak berapa lama Sila mulai membuka mata dan melihat putrinya yang sedang menangis dan memanggil dirinya.
" Dania.. . maafin mama sayang, jangan tinggalin mama, mama gak bisa hidup tanpa kamu sayang... " ucap Sila sambil memeluk dan menciumi putrinya, sambil menangis begitu pun Dania.
Dania hanya mampu menangis dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Sila, ia tak menyangka jika kepergiannya saat makan siang tadi justru membuat mamanya syok.
" ya ma, Dania janji gak akan tinggalin mama lagi, Dania sayang sama mama", jawab Dania pada Sila.
Arsya mendekati dan memeluk putri dan istrinya, agar istrinya kembali tenang.
" Anya, sudahlah... putri kita sudah kembali, jangan bersedih lagi, lihatlah ada Vania di sini, dan kau sudah mengabaikannya sejak tadi" ucap Arsya mengalihkan kesedihan istri dan putrinya.
__ADS_1
Sila melihat arah yang ditunjuk suaminya, dan ada Vania yang duduk sambil menangis karena melihat adegan sahabat dan putrinya.