
Sampai di kantor Arsya langsung menuju ruangannya. Dia baru saja mendapatkan pesan email dari karyawan Oma Cintya yang berada di Perancis. Karyawan ini adalah rekomendasi dari Oma Cintya dan Asisten Dion. Yang sangat ahli dalam meretas dan menjaga sistem keamanan perusahaan Mhs Group yang ada di Perancis.
" saya sudah menemukan lokasi Nona Anna Tuan. Melalui No handphone yang anda kirim kemaren". Begitulah isi email yang ia terima dengan bahasa inggris.
Arsya segera menghubungi orang tersebut untuk memastikan. Ia tak ingin menunggu lebih lama lagi untuk bertemu Sila.
" Hallo. Dimana istriku berada sekarang?. Tanya Arsya to the point.
" menurut data yang saya retas. Istri anda berada di Swiss Tuan. Dan No handphone yang satunya juga berada di sana". Jawab karyawannya dalam bahasa Asing.
Arsya memang mengirimkan dua nomer pada karyawannya. Nomer istrinya dan Vania sahabat istrinya. Sila tidak memiliki siapa pun di dunia ini kecuali Vania. Tidak mungkin Vania tidak tahu keberadaan sahabatnya saat ini.
Arsya tersenyum bahagia karena sudah menemukan titik terang keberadaan istrinya. Ingin rasanya ia berangkat saat ini juga. Namun bertemu dengan Sila butuh persiapan untuk membujuknya. Wanita itu pasti sangat kecewa dan sakit hati karena ucapan dan tuduhannya. Untuk itu Arsya akan berkonsultasi pada Oma Cintya terlebih dahulu.
" Ren. Apa jadwalku selanjutnya".
" ada rapat yang harus anda hadiri satu jam lagi Tuan". Jawab Reno.
__ADS_1
Arsya kembali sibuk dengan segudang berkas yang menumpuk di mejanya. Ia akan lembur beberapa hari untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum terbang ke Swiss untuk membujuk dan menjemput Sila.
Arsya kembali ke Mansionnya pukul 10 malam bersama Asistennya. Arsya segera menuju kamarnya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah sangat lengket. Setengah Jam berlalu Arsya turun untuk mengisi perutnya yang lapar. Setelah terlebih dahulu menyuruh Art untuk menyiapkan makan malam untuknya.
*****
Di Swiss Sila sudah terjaga dari tidurnya. Perbedaan waktu indonesia yang lebih cepat 6 jam dari Swiss. Waktu masih menunjukkan pukul 4 subuh. Tapi Sila sudah tidak dapat memejamkan matanya kembali. Mimpinya seolah nyata. Mimpi bertemu Arsya dan berpelukan mesra adalah obat dari segudang rindu yang ia tahan selama ini. Sudah hampir dua bulan mereka berpisah. Tentu saja itu siksaan terberatnya karena rindu yang mendera. Ntah itu karena bawaan sang bayi atau murni dari dirinya sendiri.
Sila beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri memenuhi kewajibannya sebagai seorang hamba. Di dalam doanya. ia hanya meminta agar di berikan ketabahan dan jalan terbaik atas masalahnya. Jika memang Arsya adalah jodoh terbaiknya ia meminta dipertemukan. Namun jika tidak hanya keihklasan yang ia minta.
" Sil. Pagi banget bangunnya. Banyak pesanan ya".
" apa ada masalah yang membuatmu tak nyenyak tidur". Tanya Vania khawatir.
" Tidak. Aku baik baik saja". Jawab Sila berbohong.
Vania menatap intens sahabatnya. Meski tak ingin jujur tapi Vania dapat membaca jika wajah itu penuh dengan kesedihan.
__ADS_1
" Apa kau merindukan suamimu". Vania bertanya dengan hati hati takut sahabatnya tersinggung.
Sila menghentikan pekerjaannya. Mendengar pertanyaan sahabatnya. Bohong jika ia tak merindukan Arsya. Setiap malam bahkan ia sangat sulit untuk memejamkan matanya karena rasa itu bahkan kadang sampai menangis.
" Sil ". Vania memegang pundak sahabatnya membuyarkan lamunan Sila.
" eh.. Ya.. Maaf Van". Sila menghela napas berat.
" jika masih mencintai suamimu kenapa tak mencoba memperbaiki dan memulai semuanya dari awal. Aku akan membantumu. Aku tak ingin kau terus terusan menyiksa batinmu sendiri. Ada bayi didalam rahimmu Sil. Jangan egois ".
" apa yang harus aku lakukan Van. Aku memang masih sangat mencintainya. Bahkan setiap malam aku selalu merindukannya. Tapi aku yang memilih pergi darinya dan aku tak mungkin kembali begitu saja Van. Aku tak ingin merendahkan harga diriku sendiri. Aku akan berusaha untuk melupakannya". Jelas Sila dengan raut wajah sedih.
" jika kau mengizinkan. Aku akan menemui suamimu dan bicara padanya. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa seperti ini Sil. Aku yakin Arsya juga sama seperti dirimu. Kalian hanya butuh bicara dari hati ke hati". Ucap Vania menasehati. Tanpa sepengetahuan Sila. Vania menyuruh orang untuk memantau Arsya dan menyelidiki keadaannya.
" Ntahlah Van. Untuk saat ini aku belum bisa mengambil keputusan apapun. Aku masih bingung".
" baiklah jika itu mau mu. Aku ingin yang terbaik untuk kalian dan aku yakin kalian sama sama masih saling mencintai dan merindu". Vania berlalu dari hadapan sahabatnya untuk memberikan ruang pada Sila agar bisa berpikir lebih jernih.
__ADS_1
Sila melanjutkan kegiatannya untuk menyiapkan pesanan para pelanggannya. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menyibukkan diri dan mendapatkan uang untuk biaya hidupnya. Meski penghasilan Resto miliknya terus masuk ke Rekeningnya namun ia tak ingin hanya berpangku tangan saja.