
Sila kembali menghadiri sidang perebutan hak asuh Dania, hari ini ia akan mengungkapkan tentang status pernikahannya dengan Arsya, agar Aldi tidak selalu menganggu dan menghinanya.
Ditemani oleh pengacara dan sahabatnya, Sila berjalan menuju ruang sidang, hari ini ia terlihat lebih tegar dan tabah dalam menghadapi sidang.
sidang telah dimulai, Sila kembali bertemu dengan mantan suaminya, yang seharusnya menjadi mitra untuk sama - sama mengasuh dan menjaga kedua anaknya, kini justru menjadi musuhnya.
didalam sidang Aldi memberikan bukti - bukti jika Sila lalai dalam mengasuh kedua anaknya, hanya menitipkan kedua anaknya dengan seorang IRT sedangkan Sila bekerja, dan lebih memilih sering pergi bersama Bosnya dari pada dengan kedua anaknya, disertai bukti - bukti kebersamaannya dengan Arsya. Aldi juga menuduh Sila tinggal seatap dengan Arsya tanpa sebuah ikatan pernikahan.
Sila hanya diam saja mendengar tuduhan itu dari pihak Aldi yang dikuasakan pada pengacaranya. namun kali ini Sila juga tidak akan membiarkan Aldi begitu saja, dia akan melawan tuduhan itu yg dikuasakan pada pengacaranya beserta bukti - buktinya. sudah saatnya Sila untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya, sudah cukup ia mengalah pada mantan suaminya, namun hal itu tidak membuat prilaku Aldi berubah padanya, justru terus mencari celah untuk bermusuhan dengannya.
Alex selaku pengacara Sila, membuka status pernikahan antara Cliennya dengan Arsya Mahesa yang dibuktikan dengan buku surat nikah mereka, dan menepis semua tuduhan Aldi jika mereka tinggal bersama tanpa ikatan yang jelas.
Aldi seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar, ia menoleh dan menatap tajam Sila, namun Sila tak ingin menanggapi apapun itu dari mantan suaminya, baginya kini yang terpenting adalah mempertahankan Dania agar tetap dalam pengasuhannya.
Sidang kembali ditunda, dan belum mendapatkan titik terang pada siapa hak asuh itu akan diserahkan, dan untuk selanjutnya Sila harus kembali berjuang lebih keras untuk mendapatkan hak asuh putrinya, mengingat Aldi masih bersikeras untuk merebut hak asuh itu.
__ADS_1
" kau ternyata wanita munafik, ternyata kau juga sama denganku, menikah dengan bos mu sendiri, apa kau ingin balas dendam padaku?, ucap Aldi saat mereka bertemu saat keluar dari ruang sidang.
Sila yang merasa ucapan itu ditujukan padanya langsung menghentikan langkahnya, lalu tersenyum pada mantan suaminya itu.
" anda salah jika menyamakan saya dengan anda Tuan Aldi, saya tidak pernah mengkhianati siapa pun, dan juga tidak menghancurkan rumah tangga mana pun karena merebut suami dari wanita lain, kami sama - sama single dan tak ada salahnya bukan jika kami menghalalkan hubungan kami, bukan tinggal satu atap tanpa ikatan yang jelas", jawab Sila dengan tersenyum lalu meninggalkan Aldi yang masih diam terpaku.
Vania yang selalu menemani setiap persidangan sahabatnya, dibuat terkejut akan jawaban dari sahabatnya yang begitu menohok pada lawannya, ia tak menyangka jika Sila akan seberani itu pada Aldi.
" wah - wah aku benar - benar tak menyangka jika kamu bisa bicara seperti itu pada mantan suamimu itu, aku benar - benar salut Sil" ucap Vania pada sahabatnya.
mereka masuk kedalam mobil milik Vania, mereka duduk sambil menunggu suami sekaligus pengacara mereka,.
****
suasana diruang meeting kantor Anggara Group sangat mencekam, para peserta bertanya - tanya siapakah sang pemimpin yang memiliki saham Anggara Group sebesar 60%. menurut desas desus Anggara Group akan diambil alih oleh sang pemegang saham terbesar, tentu saja hal itu membuat sang pemilik perusahaan yaitu Aldi Anggara merasa sangat tertekan dan stress.
__ADS_1
suasana semakin mencekam ketika mereka mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat, pintu ruangan meeting terbuka bersamaan hilangnya suara derap langkah kaki. semua mata tertuju pada dua laki - laki tampan namun tetap dengan wajah dingin, tegas dan arrogant pada musuh - musuhnya.
Aldi tercengang ternyata sang pemegang saham terbesar di perusahaannya adalah Arsya laki - laki yang selama ini menjadi rivalnya. Aldi tentu saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dan tersenyum licik.
" selamat pagi Tuan - Tuan yang terhormat, saya adalah CEO dari perusahaan Jihan Pratama Mandiri dan pemegang saham tertinggi di perusahaan Anggara Group. untuk itu saya mengadakan rapat pagi ini ingin membahas tentang konsep dan aturan yang akan kita setujui bersama - sama", begitulah Arsya membuka rapat pagi ini di Anggara Group.
Asisten Reno hanya mendengar dan mengamati jalannya rapat pagi itu, semua anggota rapat nampak begitu fokus, karena tahu siapa Arsya Mahesa dan tak ingin berurusan dengannya jika tidak ingin perusahaan mereka hancur.
" tunggu dulu, bukan kah perusahaan Jihan Pratama Mandiri CEO nya adalah seorang wanita, mengapa anda sekarang mengaku sebagai CEO nya", ucap Aldi yang ingin mempermalukan Arsya di depan para anggota rapat pagi ini.
Arsya menatap tajam dan sinis pada Aldi, bertapa bodohnya CEO Anggara Group ini, yang sangat tidak teliti akan Administrasi perusahaannya.
" apa anda meragukan ku, Tuan Aldi?, tanya Arsya dengan nada dinginnya.
Arsya lalu mengisyaratkan pada, Asistennya untuk memberikan berkas penunjang kepemilikan Jihan Pratama Mandiri pada Aldi. kemudian Aldi membaca dengan teliti berkas yang baru saja ia terima, ternyata Arsya adalah pewaris tunggal dari Jihan Pratama Mandiri dan sudah disahkan sebagai CEO nya, namun di dokumen profile perusahaan Jihan Pratama Mandir masih mencantumkan nama Jihan Mahesa karena untuk mengenang pendiri dari Jihan Pratama Mandiri itu.
__ADS_1
Aldi nampak panik dan gugup membaca dokumen itu, namun ia berusaha untuk menutupinya karena tak ingin Arsya melihatnya, dan sekarang apapun keputusan Arsya dalam Anggara Group harus ia pertimbangkan jika tidak ingin Arsya menarik sahamnya dari Anggara Grouo.