Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 63


__ADS_3

Arsya benar - benar membawa semua menu yang ada di Resto kekasihnya, agar Sila bisa memilih menu mana yang akan ia pilih, dengan di bantu oleh salah satu karyawan Sila, Arsya membawa semua makanan itu menuju kamar di mana Sila di rawat menggunakan lift khusus di rumah sakit itu.


melihat pintu kamar Sila yang terbuka lebar, Arsya segera mempercepat langkahnya karena takut jika terjadi sesuatu terhadap kekasihnya.


" apa ada sesuatu yang terjadi ", tanya Arsya ketika sudah sampai di pintu kamar tempat Sila di rawat.


Sila yang mendengar suara orang yang sangat di kenalnya, segera menoleh ke arah sumber suara.


Arsya langsung mendekat pada Sila dan mengecup keningnya, tanpa memperdulikan siapa yang sedang menjenguk Sila saat ini.


" kenapa pintunya terbuka, apa kau sedang kepanasan ", tanya Arsya berdiri di samping Sila.


" ah ti tidak, aku hanya tidak ingin ada ke salah pahaman jika orang melihat kita berdua di satu ruangan, jadi aku pikir dengan membuka pintu, tidak ada orang yang akan menuduhku macam - macam ", jawab Sila sedikit gugup karena melihat wajah Arsya yang kurang bersahabat Ketika melihat Aldi.


Arsya menuju sofa di mana Aldi berada dan menyapanya dengan ramah.


" apa kabar Tuan Aldi, terima kasih atas waktunya untuk menjenguk Sila ", ucap Arsya dan menjabat tangan mantan suami kekasihnya.


" saya hanya ingin tahu kondisi Sila saat ini Tuan Arsya, karena aku dengar ia sedang sakit ", jawab Aldi dan menerima uluran tangan laki - laki yang kini menjadi rivalnya.


sedangkan karyawan Sila yang di bawa oleh Arsya, untuk menyiapkan makan siang mereka masih sibuk dengan pekerjaannya. menata semua menu di atas meja.


" semuanya sudah Siap Tuan", ucap sang karyawan pada Arsya.


" baiklah, kau bisa kembali mengunakan ojek online ", ungkap Arsya dan memberikan lima lembar uang ratusan ribu pada karyawan Sila sebagai tipsnya karena sudah membantu menyiapkan makan siang mereka.


" terima kasih ", ucap Sila pada karyawannya yang akan pergi meninggalkan Kamarnya.


" sama - sama Nona ", jawab karyawannya dan berlalu pergi.


" Tuan mari makan bersama kami, makanan ini terlalu banyak untuk kami ", ajak Arsya pada Aldi


" terima kasih Tuan, silahkan lanjutkan saja ", tolak Aldi secara halus.

__ADS_1


Arsya mengambil nasi berserta pendampingnya dan membawanya keranjang tempat Sila berada. lalu menyuruh Sila untuk duduk dan untuk memakan makan siangnya.


" buka mulutmu ", titah Arsya saat Sila ingin mengambil piring yang berada di tangan Arsya dan ingin makan sendiri.


Sila terpaksa menuruti ucapan Arsya, karena arsya yang menatapnya dengan tajam seakan ingin menerkamnya.


sedangkan Aldi tak dapat lagi menyembunyikan kegusarannya karena melihat Arsya yang sedang menyuapi Sila, seolah sengaja ingin menunjukkan kemesraannya di depannya. Aldi berusaha meredam emosinya melihat pemandangan di depannya dan ingin segera pergi dari tempat itu.


" Tuan Arsya, saya permisi dulu karena masih banyak yang harus saya kerjakan", ucap Aldi pada Arsya.


" Sila, semoga kau cepat sembuh dan segera bisa beraktifitas seperti biasa lagi ", Aldi menjabat tangan Sila dan juga Arsya dan segera pergi meninggalkan mereka.


Sila merasa tidak enak terhadap Aldi, karena sikap Arsya kepadanya. dan mengambil piring yang berada di tangan Arsya lalu membawanya menuju meja yang penuh dengan menu Restonya.


Arsya yang tak merasa bersalah, bingung melihat sikap Sila padanya dan ikut menuju meja dan duduk di depan Sila yang kini sedang melahap makan siangnya.


" apa kau marah padaku ", tanya Arsya yang melihat Sila cemberut padanya.


Sila tak menjawab pertanyaan Arsya dan terus memakan makanannya tanpa menghiraukan Arsya yang duduk di depannya sedang menatapnya tanpa berkedip.


Sila menghentikan aktifitasnya dan meminum airnya hingga habis, lalu menghela napasnya pelan.


" aku hanya tak ingin kau bersikap seperti itu di depan Aldi", cicit Sila pelan.


" apa yang aku lakukan, aku hanya menyuapi mu karena kau sakit, apanya yang salah", tanya Arsya yang mulai kesal pada Sila.


" kau masih mengharapkan mantan suami mu, dan kau merasa tidak enak padanya karena sikapku padamu", selidik Arsya yang sedang cemburu pada Sila.


" ti tidak, aku sudah melupakan Aldi dan tak pernah berharap sedikit pun padanya, aku hanya tidak enak saja, aku takut dia berpikir macam - macam terhadap kita berdua", jelas Sila agar Arsya tak salah paham padanya dan mengerti maksudnya.


" kau terlalu berlebihan mengartikan sikapku padamu, dan kau selalu memikirkan perasaan orang lain meski orang itu telah menyakitimu", ungkap Arsya dan berdiri meninggalkan Sila menuju ranjangnya lalu merebahkan tubuhnya.


" ish... kenapa justru dia yang marah, aku hanya malu dan tidak enak saja pada Aldi, tidak lebih", batin Sila kesal.

__ADS_1


Sila menyudahi makan siangnya, nafsu makannya hilang seketika melihat Arsya yang justru marah padanya. Sila meninggalkan meja makan menuju ranjang tempat Arsya yang terbaring membelakangi dirinya.


dengan terpaksa Sila harus mengeluarkan jurus rayuan maut agar sang pangeran bisa luluh dan tidak marah lebih lama.


" sayang, maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya merasa tidak enak saja ", ucap Sila pada Arsya namun tak mendapatkan respon apapun.


" sayang... ayolah..." bujuk Sila yang masih rak dapat respon.


" baiklah jika masih mau marah ya sudah, aku juga mau mogok makan dan minum obat ", ucap Sila kesal dan memilih duduk di sofa.


mendengar ancaman Sila terpaksa Arsya harus menghentikan aksi merajuknya dan segera menyusul Sila yang kini duduk di sofa.


Arsya menarik tubuh ramping Sila ke dalam pelukannya dan mencium kening Wanita yang di cintainya.


" maafkan aku juga, karena membuatmu malu", ucap Arsya yang masih mendekap tubuh Sila.


Sila menatap laki - laki yang kini mendekapnya dengan erat, ia berusaha memberikan senyuman termanisnya untuk memulai perdamaian dengan Arsya.


" aku juga minta maaf, telah membuatmu marah ", balas Sila dengan lembut.


Arsya hanya tersenyum dan menatap lembut kekasihnya, bertengkar dengan Sila hanya akan menyiksa dirinya sendiri.


" kapan aku bisa pulang, aku sudah sangat bosan tidak melakukan apapun dan aku juga sudah sangat merindukan anak - anakku ", jelas Sila sedih.


" nanti kita tanya pada Dokter, bagaimana kondisimu", jawab Arsya pada Sila.


Arsya mengajak Sila untuk melanjutkan makan siang mereka yang sudah terlewatkan. Arsya menahan lapar karena pertengkaran kecil mereka.


Sila kembali melanjutkan makan Siangnya yang tertunda karena tragedi ke salah pahaman kecilnya dengan Arsya. mereka menikmati makan siang dengan sangat romantis dan nikmat karena saling menyuapi satu sama lain.


" kau yakin akan menghabiskan makanan ini?, tanya Arsya pada Sila yang melahap makanan itu secara bergantian.


Sila hanya mengangguk dan melanjutkan aktifitasnya tanpa memperdulikan Arsya yang masih terus menatapnya.

__ADS_1


Arsya merasa senang karena nafsu makan Sila sudah kembali seperti semula itu artinya wanita itu sudah kembali sehat seperti sedia kala.


__ADS_2