Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 93


__ADS_3

Arsya mencari keberadaan istrinya, ia menuruni tangga dan menuju tempat favorit Sila, Arsya melihat Sila sedang asyik menggunakan peralatan perangnya, sehingga tidak menyadari kedatangannya.


Sila terkejut ada tangan kekar yang melingkar diperutnya, namun ia malas untuk meladeni suaminya kali ini, Sila hanya diam saja tidak seperti biasanya yang akan menyambut pelukan itu dengan membalas mencium pipi suaminya.


" apa kau marah padaku?, tanya Arsya sambil mengambil semua alat yang ada ditangan Sila, lalu meletakkannya di meja.


Arsya membalikkan tubuh istrinya, lalu membelai rambut dan menyingkirkan anak rambut yang berserakan diwajahnya.


" aku tadi hanya bercanda, kenapa kau sekarang sangat sensitif, katakan padaku ada apa?, lanjut Arsya yang merayu istrinya yang masih cemberut padanya.


Sila memang tidak bisa berlama - lama marah pada Arsya, laki - laki itu selalu bisa meluluhkan hatinya dengan sikapnya yang manis.


Arsya mencium kedua pipi istrinya, agar istrinya itu tersenyum kembali, mendapatkan perlakuan seperti itu tentu saja Sila mulai mengembangkan senyumannya.


" sebaiknya kita makan dulu, setelah itu baru aku akan mengatakannya padamu", ucap Sila pada suaminya, lalu ia membuka celemek yang melekat ditubuhnya dan mengajak Arsya untuk duduk di kursi.


"sejak kapan kau pandai membuat orang penasaran?, tanya Arsya, namun ia tetap melakukan keinginan istrinya.


Sila mulai menyiapkan hidangan makan malam mereka, Sila mengambil piring dan mengisinya dengan makanan dan memberikannya pada suaminya.


" apa hanya kita berdua yang makan malam, apa putri kita tidak ikut makan malam ini?, tanya Arsya pada istrinya.


" Dania sudah tidur, ia sepertinya kelelahan dan sudah makan malam sebelum tidur" jawab Sila pada suaminya.

__ADS_1


mereka menikmati makan malam hanya berdua, Mansion sebesar itu tentu saja sangat sepi jika hanya ada mereka berdua.


" Mansion ini sangat sepi, jika ada anak - anak pasti akan sangat ramai" ucap Arsya setelah menyelesaikan makan malamnya.


Sila yang mendengar ucapan suaminya itu sangat paham akan kerinduannya pada anak - anak, namun hal itu belum bisa terwujud hingga kini mengingat riwayat penyakit Arsya yang pernah dideritanya sehingga membuatnya sulit memiliki keturunan.


" bersabarlah jika tiba waktunya nanti kita pasti akan memilikinya, setelah kasus ini selesai aku akan menemanimu melanjutkan pengobatan mu kembali, sambil mengunjungi Oma Cintya dan Adit di sana", hibur Sila pada suaminya.


setelah menyelesaikan makan malamnya Sila mengajak Arsya untuk naik keatas menuju kamar mereka. Sila langsung menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan membersihkan wajahnya, sedangkan Arsya kembali berkutat dengan handphone dan laptopnya untuk mengecek pekerjaannya.


Sila keluar dari kamar mandi lalu menuju ranjangnya dan membaringkan tubuhnya di sana, Arsya yang mengetahui istrinya ingin membicarakan sesuatu padanya pun langsung menutup laptopnya dan meletakkan handphone nya di nakas lalu menyusul istrinya.


" apa yang ingin kau bicarakan denganku?, tanya Arsya sambil memeluk tubuh mungil istrinya yang sedang membelakangi dirinya.


" ini soal Dania, sekarang dia berubah menjadi anak yang pendiam dan sering murung, aku khawatir padanya, bahkan dia sekarang lebih memilih untuk berada di dalam kamar dari pada bersamaku, tidak seperti dulu yang periang dan cerewet", jelas Sila pada suaminya Arsya.


Sila menceritakan dan mencurahkan semua kegelisahannya tentang Dania putrinya pada Arsya suaminya, tentang perubahan perilaku Dania dan tentang keinginannya untuk bertemu dengan Papa kandungnya. hal itu membuat Sila merasa sedih dan kasihan melihat putrinya, seharusnya hal ini tidak terjadi jika dirinya dan Aldi tidak sama - sama egois.


Arsya tahu kesedihan dan kekhawatiran istrinya memikirkan putrinya, Arsya mendekap tubuh wanita yang dicintainya yang kini sedang menangis sedih, sebagai seorang suami tentu saja Arsya juga merasa sedih melihat istri dan putrinya terpuruk.


" jika itu permintaan Dania, biarkan dia menemui Papanya, aku akan mengantarnya dan menemaninya saat pertemuan itu jika kamu mengkhawatirkannya", ucap Arsya pada istrinya.


Sila menghentikan tangisnya dan mencerna apa yang dikatakan suaminya.

__ADS_1


" apa kau memiliki rencana yang tidak aku ketahui?, tanya Sila curiga pada suaminya.


Sila tahu jika Arsya sangat malas untuk bertemu dengan Aldi, karena pertemuan yang lalu - lalu selalu berakhir dengan adu otot dan adu emosi.


" tidak, aku hanya tidak ingin putriku ketakutan sendirian bertemu dengan Papanya, jika kau yang menemaninya, aku tidak ingin mantan suamimu itu menghinamu, sudah cukup penghinaan yang kau dapatkan darinya dan aku tidak ingin hal itu terulang lagi kedepannya karena kau sudah memiliki aku, lagian aku tidak ingin mengotori tanganku hanya untuk laki - laki pecundang seperti Aldi itu" jelas Arsya agar istrinya tidak menaruh curiga padanya.


Sila mencubit perut suaminya itu, agar lebih menghaluskan ucapannya, karena biar bagaimana pun laki - laki itu adalah papa dari kedua anaknya, takut jika nanti mereka bersama anak - anaknya Arsya tak bisa mengontrol ucapannya dan berakibat melukai hati kedua anaknya.


" aku setuju jika Dania setuju akan usulmu, tapi aku harap kalian tidak sama - sama emosi ketika bertemu dan justru membuat putriku semakin tersakiti", ancam Sila agar Arsya tak melanggar peringatannya.


Arsya hanya mengangguk dan setuju dengan ucapan istrinya dan berjanji tidak akan membuat putri mereka semakin sedih nantinya.


" baiklah permaisuriku apapun akan aku lakukan untukmu, tapi bolehkah aku meminta jatahku malam ini, belut ku sangat merindukan sarangnya, dan karena masalah ini kau jadi sering lupa akan tugasmu", pinta Arsya dan sekaligus menyindir istrinya.


Sila merasa bersalah pada suaminya, akhir - akhir ini memang diakuinya sering melupakan kewajibannya sebagai seorang istri, karena pikiran dan tenaganya terkuras oleh kasus perebutan hak asuh Dania, namun Arsya tak pernah sedikitpun marah padanya bahkan dia laki - laki yang selalu mendukung dan memahami keadaannya, dan tidak egois memikirkan dirinya sendiri.


" maafkan aku suamiku, aku telah mengabaikan mu, aku tak bermaksud begitu" ucap Sila meminta maaf pada suaminya.


malam ini mereka lalui dengan peperangan sengit yang sudah lama mereka lupakan, bahkan peperangan ini lebih panas dari malam pertama mereka. kerinduan yang membuncah mereka lepaskan dengan perasaan yang saling memberikan kepuasan dan kenikmatan, bahkan peperangan ini mampu menghilangkan segala kesedihan, rasa lelah, yang bersarang di raga mereka.


Arsya benar - benar menikmati santapan nikmatnya malam ini, bahkan ia tak membiarkan Sila untuk mengenakan bajunya kembali, obat yang diberikan Joe padanya mampu membuatnya menjadi buas seperti belut yang sedang kelaparan, dan itu membuat Arsya sangat puas dan bersyukur jika pengobatannya bersama Joe mengalami kemajuan, justru Sila yang merasa tersiksa karena belut Arsya susah untuk di tahkluk oleh sarangnya, yang membuat sarah dan tubuhnya merasa pedih dan pegal.


Sila tak mengerti mengapa belut suaminya begitu buas malam ini, tidak seperti malam sebelum - sebelumnya yang selalu santai dan biasa saja, bahkan belut itu sering terkulai lemas sebelum ia merasakan kenikmatan, tapi malam ini belut suaminya seakan memiliki tenaga cadangan untuk terus masuk ke sarangnya.

__ADS_1


__ADS_2