Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 107 Arsya kesal


__ADS_3

Selama dalam perjalan Arsya hanya diam membisu. Reno yang melihat hal itu hanya dapat mencuri pandang dari kaca spion. Raut wajah dingin dan sorot mata yang tajam jelas tergambar di sana.


" Nona kenapa anda harus meninggalkan Mansion. Anda tidak tahu jika apa yang anda lakukan berdampak pada kami".


Reno kembali melajukan mobilnya. berharap pekerjaannya di sana tanpa hambatan dan segera selesai agar sang Tuan cepat kembali dan bisa bertemu dengan pawangnya.


Selama 4 jam perjalanan akhirnya Reno dan Arsya sampai di Hotel tempat ia akan menginap dan beristirahat. Arsya segera turun dan menuju kamarnya begitupun dengan Reno.


" Siapkan rapat satu jam mendatang. Aku ingin semua yang berkaitan dengan proyek ini hadir tanpa terkecuali". Perintah Arsya pada Asistennya melalui sambungan telpon. Lalu Arsya beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


" inilah yang tidak ku inginkan. Masalah dengan Nona Sila anda bawa dalam pekerjaan Tuan. Anda bahkan tidak memberikan saya waktu hanya sekedar buang air kecil". Reno jengkel dengan sikap Arsya yang merubah schedule rapat. Yang seharusnya akan dilaksanakan 3 jam lagi.


Reno sibuk menghubungi semua kepala divisi agar menyiapkan diri menghadiri rapat. Semua tampak tegang karena harus menghadiri rapat mendadak. Dan bagi mereka yang berada di lapangan tentu waktu yang diberikan untuk sampai ditempat rapat sangatlah mepet.


Reno segera masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya. Ia nampak lega setelah berhasil mengeluarkan air mancur dari pusakanya dan segera membersihkan diri. Setelah rapi ia lalu menuju kamar Arsya untuk menuju ruang rapat yang ada didalam Hotel.


Memasuki ruang rapat aura sangat mencekam. Tak ada senyum bahkan saling sapa. Yang ada hanya hawa dingin sedingin sedingin wajah sang CEO.


Reno mulai membuka rapat dadakan itu dan Arsya memandangi semua peserta dengan tatapan membunuh yang membuat mereka tak mampu sekedar mengangkat kepala mereka apalagi membalas tatapannya.


" siapa yang bertanggungjawab atas kemunduran penyelesaian proyek ini. Bukankah saya sudah memberikan waktu yang sangat cukup untuk kalian menyelesaikannya. Kenapa masih tetap harus mundur begini". Suara Arsya menggelegar diruang rapat. Waktu yang sudah disepakati untuk menyelesaikan proyek pembangunan Rumah sakit belum juga rampung sesuai harapan.

__ADS_1


Tak satu pun yang berani menjawab atau sekedar menatap wajah sang CEO. Mereka larut dalam ketakutan.


" Divisi keuangan , Perencanaan , pengadaan mana laporan kalian '. Arsya memanggil ketiga divisi itu untuk menyerahkan laporan tersebut.


Direktur ketiga divisi itu segera menyerahkan laporan yang diminta oleh Arsya dengan tangan gemetar.


" laporan apa yang kalian buat. Kenapa semua tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Bahkan ada pembengkakkan apa kalian ingin bermain main denganku. Aku tidak pernah memaafkan kecurangan. jika sampai itu terjadi kalian akan merasakan akibatnya". Arsya menghempaskan laporan itu diatas meja dan berdiri meninggalkan ruang rapat.


" aku tunggu laporan itu hingga besok pagi. Silahkan perbaiki dan aku tidak mau tahu alasan apapun". Ucap Arsya dan kembali berlalu meninggalkan ruang rapat di ikuti oleh Asistennya.


Suasana hati Arsya benar benar tak dapat di prediksi. Semua yang dilakukan oleh para karyawannya selalu salah dimatanya dan hal itu tentu saja membuat Reno pusing tujuh keliling.


" apa ada kabar tentang istriku".


Arsya menatap tajam Asistennya seolah tahu ada keraguan disana dalam menjawab pertanyaannya.


" Apa yang kau sembunyikan dariku". Sentak Arsya pada Asistennya.


" menurut informasi yang saya dapat. Tuan Aldi mengunjungi Nona Sila dan Dania. Tuan". Jawab Reno.


" Ntah drama apalagi yang terjadi setelah dia tahu berita ini". Guman Reno.

__ADS_1


" Apa dia menginap disana?.


" Tidak Tuan. Tuan Aldi sudah meninggalkan rumah Nona Sila".


" berani sekali dia menerima tamu laki laki ketika aku tidak dirumah". Kesal Arsya.


" Nona menerimanya di teras Tuan. Dan ada Art yang menemani". Jelas Reno agar laki laki dihadapannya ini tudak cemburu buta.


" Kau tak usah membelanya. Aku akan memberikan hukuman padanya. Siapkan mobil sekarang kita akan kembali". Perintahnya.


Reno mengusap wajahnya dengan kasar. Dan kesal dengan sikap Arsya.


" tapi ini sudah hampir tengah malam Tuan. Apa tidak sebaiknya besok pagi saja kita kembali". Reno memberi saran.


" apa kau keberatan. Aku bisa kembali sendiri". Ucap Arsta ketus.


Reno dibuat kesal dengan sikap sang bos. Jika bukan bos sudah lipat lipat seoerti kertas origami.


" baiklah Tuan. Saya ajan menyiapkannya. Tapi paling tidak kita mengisi energi terlebih dahulu. Sejak siang kita belum memakan apapun".


Arsya hanya diam mendengar ucapan Asistennya. Ia sama sekali tidak merasakan lapar sedikit pun karena pikirannya terfokus pada Sila.

__ADS_1


Reno memesan makanan untuk mereka berdua dan meminta untuk mengantarkan ke kamar tempat mereka. Reno segera melahap makanan yang ada karena sudah sangat kelaparan. Tapi tidak dengan Arsya yang hanya memakan sebagian saja. Lalu bersiap siap untuk segera kembali.


__ADS_2