Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 128 permintaan Oma Cintya


__ADS_3

Arsya menepuk nepuk ranjang disebelahnya mencari keberadaan istrinya. Namun tak dapat ditemuinya. Dengan cepat Arsya bangkit dari tidurnya dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangannya. Namun hatinya sedikit lega karena mendengar suara gemericik air di kamar mandi.


Arsya tersenyum mengingat pergulatan panasnya bersama sang istri. Sungguh ia sangat merindukan tubuh indah itu yang sudah tiga bulan tidak di jamahnya.


" baru membayangkan saja belut ku sudah tegang lagi. Kalau begini aku bisa membuat Anya kelelahan. Aku harus bisa mengontrolnya". Batin Arsya.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka. Sila nampak lebih segar dan **** dimata Arsya yang hanya menggunakan kimono pendek diatas lutut. Arsya menelan air ludahnya melihat pemandangan di depannya.


Sila berjalan dengan santainya tanpa memperdulikan ekspresi suaminya yang sudah mulai on.


" Sial... Jangan menyiksaku. Dasar belut gak ada ahklak. Aku tidak mungkin meminta Sila untuk melayaniku lagi. Bisa bisa anakku nanti kenapa kenapa". Umpat Arsya dalam hati.


Arsya berjalan cepat menuju kamar mandi untuk bermain solo dan membersihkan tubuh dan pikirannya agar bisa mengendalikan nafsunya. Ntah mengapa berpisah dengan Sila selama tiga bulan membuatnya tidak bisa mengendalikan hasratnya jika berdekatan dengan Sila.


ceklek


Pintu kamar mandi terbuka setelah hampir empat puluh menit Arsya berada di dalam. Arsya berjalan mendekati istrinya yang masih menggunakan kimono mandi. Dengan rambut tergerai membuatnya terlihat begitu cantik di mata Arsya.


" kenapa kau belum memakai baju. Apa kau ingin menggodaku dan memintanya lagi". goda Arsya sambil memeluk tubuh Sila dari belakang.


Mendengar penuturan sang suami tentu saja Sila merasa ngeri mendengarnya. Tubuhnya masih terlalu lelah jika harus melakukannya lagi bersama sang suami.


" Ti tidak. Aku tidak membawa baju ganti. Sedangkan bajuku tadi sudah tidak layak pakai karena ada yang sudah robek karena ditarik paksa oleh seseorang". Jelas Sila yang sedang menyindir suaminya.


Arsya menepuk jidatnya karena malu membayangkan apa yang sudah ia perbuat terhadap Sila dan baju baju yang masih berserakan di lantai.


" Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat tadi sehingga lupa jika kau kesini tanpa persiapan apa pun. Kau tunggu di sini. Aku akan membelikan baju untukmu". Arsya segera memakai bajunya dan pergi untuk membeli baju untuk Sila.


" Em... Apa ada yang lain lagi". Tanya sebelum menutup pintu kamar.

__ADS_1


" Tidak.. Itu saja". Jawab Sila malu.


*****


Di kamar sebelah Oma Cintya sudah rapi dan wangi. Badannya terasa lebih segar karena beristirahat dengan sangat nyaman dan tanpa gangguan seperti biasanya.


" kemana cucuku. Mengapa belum datang ke kamar ku". batin Oma.


Oma Cintya bangkit dari duduknya untuk menuju kamar Arsya. Ia ingin mengajak cucu kesayangannya itu mencari makanan yang diinginkannya.


Tok


Tok


Tok


Oma Cintya mengetuk kamar Arsya. Namun tidak jawaban darinya. Perlahan Oma menekan ganggang pintu dan ternyata tidak dikunci. Akhirnya Oma Cintya memutuskan masuk ke dalam kamar cucu tunggalnya. Kamar itu terlihat sepi.


Ceklek


Sila keluar dari kamar mandi masih dengan menggunakan kimono mandi. Rbut yang tadi basah kini sudah mengering dan kamar yang berserakan pun sudah ia rapikan karena tak ingin ketika pelayan datang kamar itu seperti kapal pecah. Sila belum menyadari jika sepasang mata sedang mengamatinya sejak tadi. Namun langkahnya tiba tiba terhenti ketika menyadari ada orang lain di kamar itu.


" O... Oma". Sebutnya Lirih.


Oma yang masih bisa mendengar ucapan Sila dan membuatnya tersadar. Oma berusaha memperbaiki gestur tubuhnya agar Sila tidak merasa canggung dan tidak enak padanya.


" Sila.... Maafkan Oma yang sudah masuk tanpa permisi ke kamar kalian. Oma sudah mengetuknya berkali kali tapi tidak ada jawaban. Aku pikir Arsya sedang tidur dan pintu tidak di kunci jadi Oma masuk saja".


Oma berusaha menjelaskan dan berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.


Sedangkan Sila masih bergulat dengan pikirannya untuk menetralkan kegugupannya.

__ADS_1


" Ya Oma. Tidak apa apa. Aku lupa menguncinya. Maaf Oma". Sila masih merasa tidak enak hati pada sang Oma.


" Kemarilah. Duduk disamping Oma".


Oma meminta istri dari cucunya itu agar duduk disampingnya. Dan tidak hanya berdiri mematung di sana. Perlahan Sila melangkahkan kakinya untuk duduk disamping sang Oma.


" sejak kapan kau berada di sini".tanya Oma mengintrogasi Sila setelah mereka duduk bersama.


Sila menarik napasnya dalam dalam untuk menenangkan hatinya yang sedang galau karena takut Oma akan salah paham terhadapnya. Setelah suasana hatinya tenang dan terkendali. Sila menceritakan rentetan kejadian dari awal hingga akhir agar sang Oma tidak berpikir negatif terhadapnya.


" Oh jadi seperti itu kejadiannya. Cucuku memang sangat menyebalkan. Pasti dia sudah membuatmu sangat capek hari ini". Godanya.


" Oma senang mendengarnya. jika kalian bisa kembali bersama. Bagi Oma kebahagiaan Arsya adalah segala galanya. Selama ini ia sudah banyak mengalami penderitaan dan rasa sakit. Dan hanya denganmu ia bisa bahagia".


" Sila. Bolehkan Oma meminta satu hal padamu?. Oma menatap manik mata istri cucunya yang ada di hadapannya saat ini.


" katakan lah Oma. Jika aku bisa memenuhinya akan aku lakukan".jawab Sila dengan perasaan campur aduk karena merasa ada sesuatu yang akan menimpanya.


Oma Cintya menghela napas berat dan berdiri menghadap jendela untuk menyaksikan pemandangan yang indah di sore hari.


" Jangan pernah meninggalkan Arsya apa pun yang terjadi dan dalam keadaan apa pun".


Sila mengangkat wajahnya untuk menatap manik mata sang Oma. Untuk memastikan pendengarannya. namun sang Oma seolah tahu keraguan Sila dan menganggukan kepalanya mengisyaratkan sebuah itu adalah permintaannya.


" Semakin hari aku semakin Tua. Dan waktu ku untuk menjaga dan menemani Arsya mungkin tidak lama lagi. Aku hanya ingin memastikan wanita yang berada disamping Arsya adalah wanita yang benar benar tulus kepadanya bukan karena harta semata. Aku memilihmu untuk menemani cucuku dalam keadaan apa pun itu. Aku yakin kau wanita yang baik dan juga mencintainya dengan tulus. Sejak kau pergi meninggalkan dirinya tiga bulan yang lalu. Arsya benar benar terpukul dan drop hingga Joe harus merawatnya tanpa meninggalkannya sedikit pun. Berbagai cara sudah dilakukan oleh Reno dan Joe agar bisa membangkitkan semangatnya lagi. Namun Arsya tak bergeming dan masih asyik dengan dunia di bawah alam sadarnya hingga membuat mereka menyerah dan memberitahukan hal itu kepadaku. Sebagai seorang Oma yang sudah hapal akan riwayat riwayat penyakitnya Oma langsung terbang ke Indonesia agar bisa langsung memastikan keadaannya. Hati Oma hancur ketika melihat kehancurannya seperti saat Arsya kehilangan orang Tuanya dahulu. Bahkan saat berpisah dengan Anna istri terdahulunya ia tak sampai terguncang seperti saat kehilanganmu. Arsya sangat mencintai ean menyayangimu di tambah ada darah dagingnya bersama mu. Oma mohon dan meminta berjanjilah kau akan selalu setia menemani cucuku dalan keadaan apapun. Jangan tinggalkan dia. Karena jika itu kau lakukan sama saja kau membunuhnya secara perlahan".


Oma Cintya mengakhiri ucapannya dan melihat Sila yang sudah berderai air mata.


" Maafkan aku Oma. Aku tidak bermaksud membuat Arsya menderita. Saat itu yang ada dibenakku adalah pergi darinya karena aku pikir dia tidak mengingginkan kami". Jelas Sila dengan wajah menunduk dan berurai air mata.


Oma Cintya mendekati cucu menantunya lalu memeluknya agar tidak terus menangis.

__ADS_1


__ADS_2