
Waktu menunjukan hampir subuh saat mobil memasuki kawasan perumahan milik Sila. Reno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena tidak ingin penghuni komplek terbangun karena ulah Reno yang kebut kebutan.
Adzan berkumandang saat Reno menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Sila. Arsya segera turun dari mobilnya dan menuju pintu rumah yang sudah lama tidak dikunjunginya sejak ia membawa Sila tinggal di Mansionnya. Rasa lelah, mengantuk itulah yang dirasakannya dan ingin segera merebahkan tubuhnya.
Bik Nani yang sudah terbangun sejak Adzan subuh tadi dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Ia agak ragu untuk membuka pintu namun ketukan itu semakin lama semakin kuat.
" Tuan.. Silahkan masuk". Bik Nani nampak terkejut saat membuka pintu Arsya sedang berdiri didepan dengan wajah lelah dan lesu.
" Dimana Nyonya".
" Nyonya di kamarnya Tuan".
Arsya hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
" Bik. siapkan kamar tamu untuk Reno dan buatkan sarapan untuknya". Perintah Arsya pada Bik nani lalu melanjutkan langkahnya.
Dengan perlahan Arsya membuka kamar dimana Sila berada yang masih berada di alam mimpinya. Arsya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Arsya hanya menggunakan boxer dan kaos. lalu dengan perlahan merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Lalu memeluk tubuh ramping Sila. Bau khas tubuh Sila mampu menghipnotis Arsya menuju alam mimpi.
__ADS_1
Perlahan Sila membuka matanya. Badannya terasa berat seolah ada beban yang menimpa tubuhnya. Dengan perlahan Sila ingin bangkit dari ranjangnya namun rasa berat yang menghimpit tubuhnya terasa nyata bukanlah mimpi. Perlahan Sila memandangi seluruh tubuhnya. terlihat tangan dan kaki yang menimpa tubuhnya. Sila sangat terkejut dibuatnya dan tak berani mengerakkan tubuhnya.
" tangan dan kaki siapa ini. Apa ada pencuri atau perampok yang masuk kerumah ini. Apa Bik Nani lupa mengunci pintunya. Aduh jika Arsya sampai tahu hal ini bisa mati aku. Dia pasti akan sangat marah besar atau bahkan akan menceraikanku". batin Sila yang terus berpikir siapa yang sedang memeluk tubuhnya. Perasaan takut, cemas campur aduk. Tak terasa keringat dingin telah bercucuran di dahinya.
Sila dengan kasar menghentakkan tangan dan kaki lalu segera bangkit dari ranjangnya. Namun justru tangan kekar itu semakin mengeratkan pelukannya yang membuat Sila semakin takut.
" lepaskan aku. Siapa kamu. Kenapa kau ada di kamarku. Tolong lepaskan... Jika tidak aku akan berteriak". Acam Sila pada seorang yang sedang memeluk tubuhnya.
Arsya yang mendengar ancaman Sila ingin sekali tertawa dengan sikap konyol istrinya itu. Ternyata Sila tidak mengetahui jika yang memeluknya adalah dirinya. Itu karena Arsya memeluknya dari belakang. Arsya tak mengeluarkan suaranya sedikit pun agar Sila tidak tahu bahwa itu dirinya. Arsya ingin melihat sejauh mana Sila akan memberikan perlawanan terhadap laki laki yang mengganggunya.
" tolong lepaskan Tuan. Anda salah jika ingin memperkosaku. Aku punya penyakit AIDS yang bisa menulari Anda. Tolong lepaskan Tuan. Sebaiknya anda mencari wanita yang lain saja". Sila berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman seseorang itu. Namun tenaganya tak sebanding dengan tenaga yang mencengkramnya.
Ada rasa tak tega pada istrinya. Namun Arsya juga sangat kesal dengan sikap istrinya yang tak bisa mengenali dirinya.
" baiklah aku akan melepaskanmu. Tapi kau janji akan memberikan apa yang aku inginkan".
Sila menghentikan tangisannya mendengar suara yang sangat familiar baginya. Namun ingatan yang belum pulih sepenuhnya dan karena rasa terkejut berserta ketakutannya yang membuatnya tidak bisa berpikir secara logis sehingga tidak bisa mengenali tubuh suaminya.
Sila memberanikan diri untuk membalikkan tubuhnya menghadap tubuh yang masih setia memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Arsya....... " Sila berteriak setelah mengetahui jika yang sedang memeluk dirinya adalah suaminya. Ia benar benar dibuat kesal oleh sikap suaminya yang dengan sengaja ingin mengerjainya.
Arsya menutup kupingnya karena teriakan Sila. Untung saja kamar itu kedap suara jika tidak orang orang akan berlarian menuju kamarnya mendengar teriakan istrinya. Sila dengan kesal memukuli tubuh Arsya dan meluapkan kekesalannya.
" kau benar benar keterlaluan. Aku benci padamu. Kau tidak tahu bagaimana takutnya diriku saat bangun tidur tiba tiba ada yang memeluk diriku. Kau bilag dua hari diluar kota. Kenapa kau sekarang sudah berada di sini". Sila terus mengoceh dan memukuli tubuh suaminya karena rasa kesalnya.
" Anya. Hentikan. Kau ingin membunuhku. Jika terjadi sesuatu padaku bagaimana kau akan bicara pada Oma. Jika ternyata aku mengalami KDRT olehmu ". Sila menghentikan pukulannya setelah mendengar ucapan Arsya.
Sila benar benar dibuat kesal oleh suaminya. Bagaimana bisa laki laki itu membiarkan dirinya ketakutan dan menangis saat bagun tidur. Sila segera bangkit dari ranjangnya dan ingin menuju kamar mandi.
" kau mau kemana". Tanya Arsya
" ingin ke kamar mandi". Jawabnya ketus.
Setelah keluar dari kamar mandi. Sila ingin segera keluar dari kamar itu. Berulang kali Sila berusaha untuk membuka pintu namun pintu itu seperti terkunci dan tidak ada kunci yang mengantung disana.
Arsya seolah tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi dengan santainya ia kembali membaringkan tubuhnya di ranjang.
Sila benar benar dibuat kesal oleh suaminya pagi ini. Jika bukan suami mungkin sudah dilemparnya keluar lewat jendela.
__ADS_1