Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 126 pelanggan kamar 102


__ADS_3

Sila sedikit gugup dan was was untuk mengetuk pintu kamar 102. Akhirnya ia meminta bantuan seorang cleaning service yang membantunya tadi untuk mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


Sila hanya mematung di pintu untuk menunggu. Tak lama pintu terbuka dan munculah seorang laki laki dengan tinggi melebihi dirinya dengan wajah bule.


" Apakah anda Nona Sila?.


Bule itu menyapa Sila untuk memastikan apakah wanita cantik dihadapannya itu benar benar Sila yang ia maksud. Laki laki itu menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tentu saja hal itu membuat Sila merasa risih dan ingin segera pergi dari sana.


" Ya. Saya Sila. Apakah anda Tn. Arley Pesanan anda sudah dibawa oleh cleaning service. Dan ini tagihan yang harus anda bayar". Jawabnya ketus dan menunjukkan bukti pemesanan yang dikirimnya lewat email. Sila ingin segera meninggalkan tempat itu.


" Maaf Nona. Memang saya yang memesannya tapi teman saya yang akan melakukan pembayarannya. Silahkan masuk tekan saya sudah menunggu anda". Arley membuka pintu lebar lebar agar Sila segera masuk.


Sila bimbang dengan dirinya. Apakah harus masuk ke dalam kamar itu atau memilih meninggalkan tempat itu. Ntah kenapa hatinya merasa was was dan tak ingin mempercayai begitu saja.


" kenapa saya yang harus masuk Tuan. Tolong panggilkan saja teman anda. Dan lakukan prmbayarannya di sini. Saya sudah ditunggu oleh teman saya jadi saya tidak bisa berlama lama disini".


Terjadi perdebatan kecil antara Sila dan Arley. Dan karena tidak ada yang mau mengalah akhirnya Arley memberikan pilihan. Jika ingin dibayar maka Sila harus masuk dan menemui orang tersebut sendiri. Jika tidak ingin dibayar silahkan tinggalkan tempat itu tanpa ada tuntutan apapun dikemudian hari. Sila benar benar kesal dibuatnya. Kenapa harus seribet itu untuk membayar apa yang sudah mereka pesan. Dengan penuh pertimbangan dan keberanian akhirnya Sila memutuskan untuk masuk dan meminta uangnya. Untuk mengiklaskan begitu saja tentu Sila harus berpikir berkali kali karena bukan uang yang sedikit. ditambah tenaganya sudah terkuras untuk membuat pesanan itu.


" Permisi Tuan. Saya Sila. Saya ingin meminta pembayaran atas pesanan bernama Tn. Arley. Bisakah kita melakukan transaksi sekarang karena teman saya sedang menunggu di bawah".

__ADS_1


Sila berbicara pada laki laki yang berdiri membelakanginya dan menatap jendela melihat pemandangan yang sangat indah.


Untuk beberapa saat laki laki itu tak bergeming sedikit pun. Yang membuat Sila sangat kesal sekaligus takut. Sila membalik tubuhnya dan ingin keluar dari kamar itu namun langkahnya terhenti saat ada tangan yang memegang tanganya tanpa permisi dan hal itu membuatnya sangat takut dan gemetar.


" Tolong lepaskan tangan anda Tuan. Jika anda tidak ingin membayar tidak apa. Tapi biarkan saya pergi dari sini".


Sila benar benar takut dan mulai mengeluarkan keringat dingin. Menyesal itulah yang kini ia rasakan. Seharusnya sejak tadi ia meninggalkan tempat ini.


" Anya ".


Panggilan itu terasa tidak asing baginya. Hanya keluarganya dan suaminya yang memanggil dengan sebutan itu. Tidak mungkin keluarganya karena sekarang ia sebatang kara dan hanya memiliki Vania dan kedua buah hatinya. Sila semakin takut dan gemetar. Jika suaminya mana mungkin dia dapat menemukan keberadaannya sedangkan Vania sudah menghapus jejaknya. Demi membuktikan perkiraannya Sila mengumpulkan keberanian untuk melihat siapa yang ada dibelakangnya yang sedang memegang tangannya.


" Arsya ".


" Lepaskan tanganku. Bukankah diantara kita sudah selesai. Kita tidak punya hubungan apa apa lagi".


Sila mengibaskan tangannya. Dan berusaha melepaskan genggaman tangan Arsya dan ingin berlari meninggalkan tempat itu.


" Anya. Dengarkan aku dulu. Aku tahu. Aku salah tapi tolong dengarkan aku dulu. Aku minta maaf atas semua ucapanku yang menyakitimu. Aku mohon dengarkan Aku".


Arsya terus menggenggam tangan Sila dengan erat. Meski Sila juga terus berusaha untuk lepas darinya.


" Lepaskan. tanganku sakit ".sentak Sila dan berharap Arsya segera melepaskannya. Sila belum siap untuk bertemu Arsya saat ini. Dan belum terpikirkan olehnya apa yang harus ia lakukan jika laki laki itu menemukan keberadaannya.


" Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu. Susah payah aku mencari keberadaan mu dan aku tidak ingin kehilanganmu lagi'. Bantah Arsya dan tak mengindahkan permintaan wanita yang hingga kini masih berstatus istrinya secara hukum dan agama. Karena sejak awal Arsya tidak mentalak Sila.

__ADS_1


" Untuk apa kau mencariku. Untuk mrnghinaku lagi. Apa kurang puas kau menyakiti hatiku dengan merendahkanku dan menuduhku yang bukan bukan'.


Sila terus meronta dan menangis sesegukan. Kecewa marah benci campur aduk dihatinya. Arsya melepaskan genggaman tangan Sila karena takut akan menyakitinya jika terlalu erat. Kini Arsya memeluk tubuh yang selalu ia rindukan.


" Lepaskan. Lepaskan. Aku akan berteriak minta tolong jika kau tidak melepaskan ku".


Sila terus memberontak berusaha melepaskan pelukan Arsya dari tubuhnya.


" Berteriaklah sesukamu. Tapi jangan memintaku untuk melepaskan mu. Aku sangat merindukan mu. Aku menyesal telah mengucapkan kata kata yang menyakitimu. Aku bahkan tidak dapat bangun dari tempat tidur selama berminggu minggu hanya karena merindukan mu dan menyesali perbuatanku. Apa semua itu belum cukup untuk menghukumku. Aku mohon. Anya. Tenanglah. Dan mari kita bicara baik baik. jangan seperti ini. Aku tahu. aku salah. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk menebusnya".


Arsya mengungkapkan semua isi hatinya. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya lolos juga. Sila tak lagi memberontak dan hanya diam membisu dengan tangisan pilunya. Arsya masih tetap memeluk tubuh dan menghirup wangi yang selalu ia rindukan.


Melihat Sila yang hanya diam mematung. Arsya mengendorkan pelukannya. Ada rasa khawatir pada istrinya. perlahan Arsya membalikkan tubuh Sila. Arsya memegang kedua pipi Sila yang basah oleh air mata. Arsya mengusap bekas air mata lalu mengecup kening istri yang amat sangat ia rindukan selama ini. Sila tetap tak bergeming sedikit pun. Pikirannya kacau. Rasa benci dan kecewa kini harus bersaing dengan rasa rindu dan sayang pada laki laki yang masih menjadi suaminya. Pelukan yang sangat ia rindukan bahkan kadang menangis ditengah malam karena hal itu.


Arsya mengedong tubuh Sila dan meletakkannya di bibir ranjang Hotel. Ia takut Sila lelah karena berdiri dan memberontak sejak tadi.


" Tolong jangan seperti ini. Anya. Hukum aku sesukamu jika itu bisa membuatmu memaafkan ku. Aku mohon. Aku sangat merindukan dan mencintai mu. Ayolah bicara padaku. Pukul aku jika itu membuatmu lega".


Arsya menangis dan memeluk paha Sila. Hatinya sakit dan hancur melihat Sila hanya diam terpaku. Bukan ini ending yang ia inginkan. Arsya semakin sesegukan dipangkuan Sila. Hal itu tentu membuat Sila juga merasa sangat sedih. Hatinya tidak bisa berbohong jika ia tak merindukan suaminya. Tapi rasa sakit dan kecewa menjadi tembok penghalang diantara mereka berdua. Ingin rasanya Sila membelai rambut Arsya yang masih menangis dipangkuannya namun tanganya terasa kelu untuk melakukan hal itu.


Mereka masih berperang dengan hatinya masing masing. tangisan Arsya perlahan mulai hilang. Ia bangkit dari duduknya lalu perlahan membaringkan tubuh istrinya. Hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini. Agar Sila bisa beristirahat untuk merilekskan tubuh dan pikirannya. Perlahan Arsya pun ikut naik keranjang Hotel dan ikut membaringkan tubuhnya. Arsya memeluk tubuh istrinya dari belakang dan mendusel duselkan wajahnya dileher Sila.


" Tidurlah. Aku yakin kau pasti lelah. Maafkan aku istriku. Aku sangat mencintai dan merindukanmu".Bisik Arsya pada Sila.


Dila tak bergeming sedikit pun. Tubuhnya lelah dan tidak bisa berpikir secara jernih. Hatinya menolak semua perlakuan Arsya namun tidak dengan tubuhnya justru menginginkannya. Harum tubuh Arsya seakan menjadi dongeng penghantar tidur untuk Sila dan mengantarkannya ke alam mimpi. Begitu pun Arsya memeluk dan mencium wangi tubuh Sila memberikan kenyamanan tersendiri baginya. Dan tak lama pun ia terlelap dengan memeluk erat tubuh Sila

__ADS_1


__ADS_2