Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 31


__ADS_3

sepanjang perjalanan Sila hanya diam dan menatap keluar jendela, ntah mengapa moodnya hari ini benar - benar hancur.


perlahan mobil sudah memasuki kawasan perumahan Sila, mudah bagi Arsya untuk mengetahui dimana rumah Sila, tanpa harus beradu argumen dengan Sila untuk menanyakan alamatnya.


Sila masuk kedalam rumahnya tanpa memperhatikan Arsya. tanpa menunggu perintah dari Sila, Arsya pun ikut masuk ke dalam rumahnya.


Sila menyapa kedua anaknya yang sedang asyik menonton film kesukaannya, Dani merasa mengenal seseorang yang berada dibelakang mamanya.


", om ganteng", teriak Dania dan berlari ke pelukan Arsya.


Arsya yang sudah sangat merindukan Dania pun merentangkan tangannya untuk memeluk gadis kecil itu, Arsya mencium gemas bocah cantik yang ia temukan diperkebunan teh dahulu.


", hei gadis nakal, kau pergi tak bilang - bilang ya", ucap Arsya dan mencubit hidung Dania yang mancung.


", ih om ganteng, sakit tau.... maafin Dania om gak sempat pamit, soalnya Dania buru - buru kan yang jemput mama Vania", jelas Dania dengan gaya lucunya.


", mama Vania itu siapa", tanya Arsya ingin tahu.


", mama Vania itu, sahabatnya mama Sila Om, selama mama Sila kerja yang jagain aku sama bang Adit itu mama Vania sama bibik dan om satpam", jelas Dania dengan polosnya.


Sila yang melihat keakraban Arsya dan putrinya merasa terharu, Tuhan seakan tahu jika putrinya kehilangan seorang Ayah dan menggantinya lewat bosnya yang bisa perhatian dan mengajaknya bermain.


Arsya dan Dania bermain dan tertawa bersama, rasa kesal yang sedari pagi dirasakan seolah terbang melihat keakraban mereka.


",sungguh aku menjadi orang yang sangat kejam padanya, dia memberikan kebahagiaan untuk putriku tapi aku selalu mengumpatnya", batin Sila menatap Arsya dari kejauhan.


Adit yang mendengar gelak tawa antara Dania dan Arsya dan menyaksikan mereka. ntah apa yang dipikirkan Adit, ia hanya diam terpaku menyaksikan keceriaan sang adik.

__ADS_1


", hari ini mama lelah, jadi mama tidak memasak", ucapnya Sila kepada kedua anaknya.


", apa mama sakit? ", tanya Dania dan langsung menghampiri Sila untuk memastikan keadaan mamanya.


", tidak sayang, mama hanya merasa lelah dan malas untuk memasak", ucap Sila menjelaskan kepada putrinya.


sedangkan Adit sudah memeluk mamanya sambil menyandarkan kepalanya di pahu Sila, bocah tampan itu masih tak banyak bicara namun ia menunjukkan perhatiannya lewat bahasa tubuhnya.


", apa aku keterlaluan tadi banyak meminta ini dan itu kepadanya, sehingga ia kelelahan", batin Arsya yang merasa bersalah kepada Sila.


", bagaimana kalau kita makan malam di luar", ucap Arsya memberikan solusi.


", yeee.... yee... makan diluar", Dania kegirangan karena akan makan malam diluar, sudah lama ia tak pernah merasakannya, sejak kejadian yang membuat Adit trauma.


Sila hanya diam tak juga memberikan jawaban, membuat gadis kecil itu sadar jika itu tak akan terjadi, mereka harus tetap di rumah ntah sampai kapan.


", tidak,, tidak ada yang salah, kami hanya belum pernah makan malam diluar sejak kejadian yang menimpa Adit, aku tak ingin Adit bertemu dan kembali seperti sebelumnya", jelas Sila pada Arsya.


sedang Dania merasa sangat sedih karena harus terkurung di rumah dan tak bisa menikmati suasana di luar.


Arsya yang melihat kesedihan gadis itu merasa sangat kasihan dan langsung mengendong gadis kecil kesayangannya.


",sampai kapan kalian akan terus menghindar dan mengurung diri seperti ini", guman Arsya dalam hati.


", Om keluar dulu ya, mau telpon seseorang", ucap Arsya kepada Dania yang sedang duduk di pangkuannya. Dania segera berdiri dan duduk di kursi bersama mama dan abangnya.


Arsya kembali dengan gaya coolnya, dan ikut duduk bersama mereka.

__ADS_1


", bolehkah om pinjam mama kalian sebentar", tanya Arsya kepada Dania dan Adit.


Dania hanya mengangguk sedangkan Adit melepaskan pelukannya kepada sang mama. Sila bingung dengan sikap Arsya dan meminta penjelasan, namun Arsya segera menarik tangan Sila dan membawanya keluar.


", ada apalagi sih Tuan, bisakah anda melepaskan tangan anda", ucap Sila agar Arsya tak terus menariknya.


", kau lihat kan kesedihan Dania karena ia tak bebas untuk pergi keluar seperti saat ini, aku merasa kasihan padanya, kita akan tetap makan diluar agar mereka bahagia, sampai kapan kau akan mengurung mereka, aku rasa Adit juga tak ingin kau selalu melarangnya kemana - mana, aku janji dan jamin Adit tidak akan bertemu dengan papanya, dan mereka akan bebas menikmati dinner nya malam ini", Arsya berusaha menyakinkan Sila, meski dengan perang argumen yang sangat menjengkelkan.


dengan berbagai pertimbangan dan dengan dukungan Arsya, akhirnya mereka akan melakukan dinner bersama, meski Arsya tak memberitahu kemana ia membawa mereka, namun Sila yakin Arsya akan melindungi dan menjaga kedua buah hatinya, dan tak akan berbuat jahat kepada mereka.


Dania kini sudah mulai ceria lagi, sepanjang perjalanan ia selalu tertawa dan bercerita dengan Arsya, sedang Sila dan Adit yang duduk dibelakang merasa sangat senang karena gadis kecil itu kembali bisa ceria .


", wah rumahnya bagus sekali om, seperti yang ada difilm - film yang aku tonton", ucap Dania yang merasa takjub dengan rumah mewah dihadapannya.


", benarkah,... apa Dania mau tinggal di rumah ini, biar seperti putri yang ada difilm itu", tanya Arsya ingin tahu reaksi Dania.


", em... kalau mama mengijinkan aku mau om, biar seperti putri beneran", jelasnya polos.


Sila yang mendengarkan percakapan dua manusia berbeda generasi itu hanya menggeleng - gelengkan kepala, sungguh putrinya kini menjadi gadis yang matre karena bergaul dengan ibu sosialita siapa lagi kalau bukan sahabatnya Vania.


Adit selalu di samping mamanya dan menggenggam erat tangan Sila, Adit merasa cemas karena tempat baru yang dikunjunginya, Sila mengusap pelan punggung tangan putranya dan mengangguk, mengisyaratkan semua akan baik - baik saja.


Arsya membawa mereka melewati pintu samping yang langsung menembus sebuah taman yang terdapat kolam renang, di juga sana terdapat mini kitchen. Dania benar - benar merasa berada disebuah dunia khayalan.



Arsya membawa mereka ke meja makan yang sudah tersedia dengan berbagai menu, Arsya sengaja menyuruh asistennya untuk menyiapkan makan malam di luar rumah demi membahagiakan kedua anak Sila. meski bukan di restoran mewah, namu itu bisa mengobati kerinduan mereka akan dunia luar.

__ADS_1


__ADS_2