Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 44


__ADS_3

" om ganteng, Dania lapar nih", ucap Dania manja pada Arsya yang masih sibuk dengan note book ditangannya memeriksa pekerjaan yang dikirimkan oleh asistennya.


" Dania mau makan di luar atau di kamar ja?, tanya Arsya tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.


" di kamar ja deh om, Dania masih capek ", ucapnya manja.


" kalau abang Adit gimana?, tanya Arsya kepada Adit.


" aku ikut aja om", jawab Adit singkat.


akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam di kamar hotel, mereka seperti keluarga yang utuh ada orang tua dan anak - anak, Adit dan Dania sangat lahap memakan makanannya mungkin mereka sangat lapar karena bangun tidur.


selesai menikmati makan malamnya, kedua anak itu menonton tv, sedangkan Sila membereskan semua keperluan dirinya dan kedua anaknya, hingga tanpa ia sadari waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


" abang dan Adek, bobok ya besok kita mau pulang jadi kalian harus cukup istirahat", ucap Sila mengingatkan kedua anaknya.


kedua anak itu menurut apa yang diucapkan oleh Sila, mereka bergegas menggosok gigi dan segera pergi untuk tidur.


Sila segera menyusul kedua anaknya untuk istirahat, Sila mengambil selimut dan bantal lalu membaringkan dirinya di sofa, ia tak mungkin tidur di ranjang yang sama dengan Arsya, ia cukup tahu diri jika mereka bukan sepasang suami istri.


pukul 11 malam Arsya masuk ke dalam kamar, ia melihat kedua anak itu tidur dengan nyenyak, sedangkan Sila juga sudah terbuai oleh mimpinya.


" dasar wanita bodoh, dia pikir aku akan membiarkan dia tidur di sini", batin Arsya.


Arsya perlahan mengangkat tubuh Sila dan memindahkannya ke ranjang, perlahan ia meletakkan tubuh Sila dan menyelimutinya, Arsya memberikan pembatas untuk mereka berdua agar mereka tak saling bersentuhan, lalu Arsya merebahkan tubuhnya di sisi ranjang lainnya dan tak berapa lama mulai terlelap.

__ADS_1


****


Sila bangun lebih awal karena ia harus mempersiapkan segalanya, sebelum bertolak ke negaranya. Sila ingin mengerakkan tubuhnya namun terasa berat seolah ada sesuatu yang menimpa dirinya, perlahan ia meraba - raba perut dan kakinya yang seperti tertimpa pohon, ia masih ingat jika semalam ia tidur di Sofa tidak seperti saat ini berada di ranjang.


"Aaaaaaaa.... ", Sila berteriak, ternyata yang menimpanya adalah tangan dan kaki Arsya, Sila segera menghempaskan tangan dan kaki Arsya hingga Arsya terjatuh dari ranjang.


" aw.... aduh bokong dan kepalaku sakit sekali", ucap Arsya lalu berdiri.


" bisa gak sih pelan sedikit, kau ingin membunuhku", teriak Arsya geram dengan Sila.


" seharusnya saya yang marah pada Tuan, kenapa saya bisa tidur di ranjang yang sama dengan anda, pasti anda kan yang mengangkat tubuh saya, anda ingin mencari kesempatan ya!, geram Sila yang tak kalah garang pada Arsya.


" hei.... seharusnya kau berterima kasih padaku, aku kasihan padamu tidur di sofa bisa membuat badanmu sakit, lagi pula aku sudah meletakkan guling sebagai penghalangnya, mana aku tahu jika guling nya sudah tidak ada", jelas Arsya kesal, bokong dan kepalanya masih terasa sakit karena terbentur lantai.


" itu alasan anda saja Tuan, jangan pikir saya tidak tahu apa yang anda pikirkan, awas saja jika berani macam - macam" , ucap Sila lalu meninggalkan Arsya menuju kamar mandi.


kedua anak Sila bingung menatap kedua orang dewasa didepannya yang selalu tidak pernah akur, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi yang membuat keributan di pagi hari ini.


" mereka seperti Tom & Jerry ya bang?, tanya Dania pada Adit yang di balas dengan anggukan kepala Adit.


" jika kau sudah besar jangan seperti mamamu, kasar sekali", ucap Arsya kepada Dania.


Dania hanya mengangguk menanggapi ucapan Arsya padanya.


Sila sudah selesai dengan ritual mandinya, dan keluar dengan sudah mengenakan pakaian lengkapnya, lalu berjalan menghampiri kedua buah hatinya dan mengajak mereka untuk mandi.

__ADS_1


" kenapa dia yang marah, seharusnya aku yang marah karena dia aku terjatuh", guman Arsya


Arsya masuk ke kamar mandi setelah ibu dan anak itu keluar dari kamar mandi, Sila masih kesal hingga tak mau melihat Arsya sedikit pun. Sila segera mengurus kedua buah hatinya untuk memakai pakaiannya, dan memeriksa kembali barang - barang mereka agar tidak ada yang tertinggal.


Arsya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, tak dipungkiri jika Arsya memiliki wajah yang tampan dan body yang atletis. Sila tanpa sadar memperhatikan mahkluk Tuhan dihadapannya dengan rasa kagum.


" apa yang aku pikirkan?, dia laki - laki mesum dan menyebalkan" guman Sila yang mencoba membohongi dirinya sendiri.


" apa kalian sudah siap, ayo kita turun untuk sarapan, biarkan barang - barang kalian tinggal di sini nanti akan ada orang yang membawanya", ucap Arsya tanpa melihat ke arah Sila sedikitpun.


Arsya mengandeng tangan Dania, lalu pergi meninggalkan kamar hotel di ikuti oleh Sila yang mengandeng tangan Adit.


mereka memasuki lift untuk menuju lantai dasar dan menuju Restoran tempat mereka sarapan. Arsya sudah duduk terlebih dahulu di ikuti oleh Dania yang duduk di sampingnya, Adit melepaskan genggaman tangan Sila dan berlari serta memilih duduk di depan Dania, karena terkejut akan sikap Adit, Sila hampir menabrak pramusaji yang ingin mengantarkan pesanan tamunya, dengan cekatan Arsya menarik lengan Sila hingga Sila terjatuh di pangkuan Arsya dan bibir mereka saling bertemu.


" Maaf, aku hanya ingin menyelamatkan mu agar tidak terkena tumpahan makanan itu", jelas Arsya dan melepaskan pelukannya terhadap Sila.


" tidak apa - apa", ucap Sila dengan wajah yang sudah memerah seperti tomat.


Sila segara bangkit dari pangkuan Arsya dan duduk di kursi yang berada didepan Arsya, Sila masih tidak berani menatap wajah laki - laki yang ada didepannya, dadanya berdetak tak karuan dan ia mencoba untuk menormalkan keadaannya.


tak jauh berbeda dengan Arsya, mencium Sila bukanlah yang pertama kali untuknya, namun ntah mengapa ia merasa salah tingkah dan tidak bisa mengontrol detak jantungnya.


" mama maafkan aku, Adit tidak sengaja membuat mama terjatuh", ucap Adit takut dan tak berani menatap wajah mamanya.


" tidak sayang, Adit tidak salah, mama yang kurang hati - hati", ucap Sila dan memeluk putranya yang merasa bersalah atas insiden tadi.

__ADS_1


Arsya segera memesan sarapan untuk mereka semua, agar mereka dapat segera bersiap untuk pulang ke negaranya hari ini, tak butuh waktu lama pesanan mereka sudah datang, Arsya segera mengajak Sila dan kedua anaknya untuk segera memakannya, karena mereka sudah ditunggu oleh mobil jemputan yang akan membawa mereka ke bandara dan menaiki jet pribadi yang sudah siap untuk membawa mereka lepas landas menuju negaranya.


__ADS_2