Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 83


__ADS_3

rasa gugup kian mendera hati Sila, ketika sampai di pengadilan, rasa yang sulit di artikan oleh dirinya, kembali harus berseteru dan bertemu dengan mantan suaminya yang seharusnya masalah antara mereka sudah berakhir.


Sila meremas ujung bajunya untuk mengurangi rasa gugupnya, hal itu tidak luput dari perhatian Vania sahabatnya.


" apa kau gugup?, tanya Vania pada sahabatnya.


Sila hanya mengangguk dan mengigit bibir bawahnya tanda ia benar - benar kuatir dan gugup.


" semua akan baik - baik saja, tenangkan dirimu, jangan sampai Aldi menertawakan mu karena hal ini Sil", ucap Vania pada sahabatnya agar Sila bisa lebih tenang.


Vania memberi instruksi pada Sila untuk menarik napasnya dalam lalu menghembuskan nya perlahan untuk mengurangi kegugupan yang ada dalam diri Sila.


Alex menghampiri istri dan Sila, lalu mengajak mereka masuk keruang persidangan karena sidang akan segera di mulai. Sila berusaha menenangkan dirinya saat matanya bertemu dengan mata Aldi, orang yang dulu sangat di cintainya namun akhirnya justru membuat luka yang dalam untuknya dan kedua anaknya.


sidang dimulai dengan membacakan tuntutan sang penggugat yaitu Aldi yang ingin Hak Asuh salah satu anaknya jatuh pada dirinya, dalam hal ini adalah Dania yang diinginkan oleh Aldi.


Alex sebagai pengacara Sila mengungkapkan keberatannya jika Hak Asuh Dania diambil oleh Aldi, dengan pertimbangan masa lalu, sikap Aldi yang membuat kedua anaknya trauma hingga kini kedua anak itu tidak ingin bertemu.


perdebatan dipersidangan yang berlarut - larut antar Lawyer karena mempertahankan keinginan masing - masing kliennya, membuat persidangan itu kian memanas, apalagi ketika pihak Aldi memberikan bukti bahwa Sila sering menitipkan kedua anaknya pada sahabatnya, dan lebih memilih bekerja dan pergi bersama bosnya, bahkan waktu Arsya dan Sila menginap di hotel dan kamar yang sama di Kuala lumpur, di rumah sakit ketika ia sedang sakit, dan seringnya Arsya berkunjung ke rumah Sila membuat Aldi seakan terbang melayang karena bukti itu menunjukkan bahwa Sila bukan wanita baik - baik yang bisa mengasuh dua anak sekaligus.


Sila merasa terhina dan terpukul atas tuduhan itu, yang membuat ia tak dapat menahan air matanya, tak disangka Aldi yang ia kenal dulu sangat tega menyakitinya hingga sejauh itu.


Vania menggenggam erat tangan sahabatnya, untuk memberi kekuatan padanya, sidang akhirnya di tunda untuk beberapa minggu ke depan mengingat alotnya persidangan pertama yang saling mempertahankan keinginan masing - masing.


Sila masuk kedalam mobil bersama Alex, Vania lalu meluncur menuju perusahaan Mhs Group. untuk bertemu Arsya dan membahas hasil persidangan pertamanya.

__ADS_1


satu jam mereka baru sampai di lobi kantor Mhs Group, lalu mereka masuk melalui Lift khusus pemilik Mhs Group dan langsung menuju gedung paling atas yang hanya terdapat ruang CEO, Asisten Reno dan Sila.


Sila, Vania dan Alex masuk ke ruangan Arsya setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, Arsya langsung menghentikan pekerjaannya setelah melihat istri dan pengacaranya datang, melihat wajah istrinya yang sendu dan sembab, Arsya yakin sidang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.


Arsya lalu menyambut istrinya dengan kecupan di keningnya lalu memeluknya, tanpa mau bertanya apapun, ia hanya ingin istrinya dalam keadaan baik - baik saja.


Arsya meninggalkan istri dan sahabatnya di ruangannya, sedangkan Alex dan Arsya menuju ruangan Asistennya untuk membahas langkah selanjutnya, tanpa melibatkan Sila.


setelah pembahasan mereka selesai Alex mengajak istrinya untuk pulang, sedangkan Sila tetap tinggal di kantor bersama Arsya.


" aku pulang dulu, kamu harus sabar dan kuat Sil, kata akan berusaha dengan sebaik - baiknya untuk mempertahankan Dania" ucap Vania lalu memeluk sahabatnya dan pergi meninggalkan sahabatnya.


" saya permisi Tuan", ucap Alex pamit pada Arsya lalu menjabat tangannya.


sepeninggalan sahabatnya Sila hanya duduk termenung di sofa panjang yang berada di ruangan suaminya, hatinya masih sakit dan sedih ketika mendengar tuduhan yang dialamatkan padanya.


dan menikah dengan Arsya adalah pilihan yang tepat selain laki - laki ini penyayang, perhatian juga tak tulus padanya.


" apa kau akan seperti ini terus Anya, jangan menyiksa dirimu sendiri, masalah harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya bukan ditangisi, kau akan terlihat lemah jika menangisinya, dan lawan mu akan semakin meremehkan mu, bangkit dan buktikan bahwa kau bukan seperti yang mereka sangka kan", ucap Arsya lembut menasehati istrinya.


mendengar nasehat Arsya, semangatnya kembali tumbuh, apa yang dikatakan suaminya adalah benar, ia harus berjuang dan lebih kuat lagi menghadapi lawannya, agar tak selalu dianggap lemah.


perlahan Sila menghapus air matanya dengan tangannya, lalu mengangguk dan menatap wajah tampan Arsya lalu tersenyum.


" itu baru istriku yang hebat, jangan menyerah bangkitlah dan kalahkan lawan mu, jangan menghakimi dirimu lemah jika kau tak ingin dianggap lemah oleh orang kain" ucap Arsya memompa semangat sang istri.

__ADS_1


Sila bangkit dan memeluk suaminya, ia bersyukur memiliki Arsya disampingnya.


" terima kasih sayang, aku tak akan seperti ini lagi, terima kasih sudah mengingatkanku", ucap Sila lalu mengecup pipi suaminya.


Arsya tersenyum bahagia, karena istrinya sudah tidak terlalu bersedih atas masalah yang dihadapinya.


" apa aku boleh minta makan suamiku, istrimu sangat kelaparan sekarang" ungkap Sila pada suaminya.


mendengar ucapan Sila, Arsya tertawa geli, karena baru kali ini istrinya memanggilnya dengan sebutan suami.


" hei... kenapa kau tertawa, apa tidak boleh aku memanggil mu suami" ucapnya cemberut sambil memancungkan bibirnya, yang membuat Arsya gemas untuk tidak menciumnya.


" aku hanya bercanda sayang, jangan marah, aku suka kau memanggilku seperti itu" jawab Arsya lalu menghentikan tawanya dan sekilas mengecup bibir mancung istrinya.


Sila menatap tajam suaminya, yang masih bisa - bisanya mencuri kesempatan saat ia sedang marah.


" apa yang ingin kau makan sayang, aku akan memesannya untukmu" tanya Arsya pada Sila.


" apapun akan ku makan, asal kau yang menyuapiku", jawab Sila tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Arsya hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya, Wanita dulu yang selalu mandiri dalam segala hal kini berubah menjadi manja, namun Arsya sangat menyukainya.


" aku menyukai sifat manja mu, jangankan hanya menyuapi mu, untuk yang lainnya pun aku siap", goda Arsya sambil mengerlingkan matanya.


Arsya lalu mengendong istrinya dan membawanya menuju ruangan yang ada dalam ruangan kerjanya, yang ia gunakan untuk istirahat jika ingin menginap di kantor.

__ADS_1


" hei... apa yang kau lakukan, aku lapar bukan ingin tidur" prosesnya pada Arsya.


" sambil menunggu makanan yang datang, tidak ada salahnya jika kita melakukan kegiatan yang bisa menyegarkan pikiran, agar kau tak bersedih lagi", ucap Arsya lalu membaringkan tubuh istrinya di ranjang, lalu membuka kancing baju istrinya satu persatu, kemudian terjadilah kegiatan panas yang membuat mereka merasakan kenikmatan dan menambah rasa lapar karena terkurasnya tenaga.


__ADS_2