Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 104 lanjut puasa


__ADS_3

sudah hampir satu minggu Arsya bersikap dingin dan cuek pada Sila. Semua itu ia lakukan bukan tanpa sebab. Arsya hanya ingin berhasil menahan hasratnya untuk tidak menjamah istrinya. Ia hanya ingin pengobatan dan pengorbanannya demi mendapatkan keturunan membuahkan hasil. Usia yang sudah tidak muda lagi dan tidak adanya ahli waris lainnya yang membuat Arsya berusaha dengan keras untuk mendapatkan keturunan. Meski kini ia memiliki dua anak sambung tapi tidak mungkin ia akan melimpahkan semua beban dan tanggungjawab perusahaan kepada mereka berdua.


seperti malam malam sebelumnya Arsya sampai di Mansion hampir tengah malam. Ia memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja. Arsya pulang ketika Sila sudah tertidur pulas dan akan berangkat ke kantor sebelum Sila bangun. Tak jarang Arsya mandi dan mempersiapkan diri di kantor.


Arsya memandang wajah cantik istrinya yang tertidur pulas. Ada perasaan tak tega dan bersalah karena menghindarinya. Wanita yang sangat dicintainya dan mampu membangkitkan gairahnya hanya dengan satu sentuhannya. Sejak ia mengonsumsi obat penambah keperkasaan tongkat ajaibnya dapat tegang hanya dengan sebuah pelukan dari Sila.


" maafkan aku Anya. Aku terpaksa menghindari mu. Aku tak ingin menjadi laki laki yang lemah seumur hidupku. aku ingin membuatmu puas dan bahagia bersamaku. Aku juga tersiksa saat ini. Aku sangat ingin memeluk dan mencium mu seperti sebelumnya. Namun aku takut tidak dapat menguasai diriku. Tunggu aku sayang tinggal satu minggu lagi aku akan menebus semua yang terlewatkan di antara kita". Bisik pelan Arsya sambil memandang wajah pulas istrinya dan mengecup sekilas kening istrinya. Takut jika istrinya terbangun dan mendengar curahan hatinya.

__ADS_1


Arsya lalu beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mendengar pintu kamar mandi tertutup Sila membuka matanya. Sila hanya berpura pura tidur ketika mendengar suara pintu kamarnya terbuka. ia hanya mengikuti permainan yang diciptakan oleh suaminya. Sila juga tak ingin membebani suaminya dengan banyak protes dan menuntut ini dan itu.


" semoga perjuangan dan pengobatan mu berhasil Sayang. Aku akan bersabar menunggu dan selalu berdoa untukmu. Maafkan aku juga yang membalas sikapmu dengan cuek kepadamu. Apapun keinginanmu aku akan mendukungmu sepenuhnya". Lirihnya dalam hati dengan perasaan yang campur aduk. Sila kembali memejamkan matanya ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka.


Arsya merebahkan tubuhnya di samping istrinya setelah meletakkan guling sebagai pembatasnya. Arsya membalikkan tubuhnya membelakangi istrinya. Tidak seperti malam malam sebelumnya meski ia pulang larut malam ia akan tidur sambil memeluk istrinya dan mencoba mengganggunya agar Sila terbangun dan akhirnya mereka akan melakukan pertempuran sengit.


Sila bangun lebih pagi dari biasanya. Ia ingin menyiapkan semua keperluan suaminya setelah seminggu ia absen dari kegiatan itu. Setelah semua telah siap Sila membangunkan Arsya dengan menepuk nepuk tangannya. Berbeda dengan sebelumnya ia akan membangunkan suaminya dengan menghujani ciuman di wajah Arsya. Setelah membangunkan Arsya. Sila langsung turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan. Jika selama satu minggu kemaren ia bangun ketika Arsya sudah berangkat ke kantor maka untuk selanjutnya ia akan berusaha untuk bangun mendahului Arsya agar dapat menyiapkan segala kebutuhan suaminya.

__ADS_1


Mendengar ucapan barusan istrinya membuat hati Arsya sedikit perih. Biar bagaimana pun yang diucapkan Sila memang benar adanya. Seharusnya ia bersikap biasa dan bisa bicara baik baik dengan Sila. Bukan justru menghindari dan mendiamkannya. Seolah mereka suami istri yang tidak harmonis.


" Daddy. Sudah lama kita tidak sarapan bersama. Apa Daddy sangat sibuk akhir akhir ini". Tanya Dania saat sudah berada di meja makan.


" ia sayang Daddy sangat sibuk akhir akhir ini". Jawab Arsya sambil memakan sarapannya. Mereka akhirnya sarapan bersama tanpa bersuara. Arsya terlebih dulu menyelesaikan sarapannya. Ia masih diam di meja makan sambil mencuri curi padang wajah istrinya yang sedang memakan sarapannya. Wanita itu tampak biasa saja meski ada sedikit kekesalan diwajahnya.


" Niah. Daddy akan mengantarkan mu ke sekolah. Jadi cepat selesaikan sarapan mu" Arsya meninggalkan meja makan dan menunggu putri sambungnya di ruang tengah.

__ADS_1


" Apa tidak bisa dia bersikap biasa saja. aku tidak akan menganggu jika dia tidak ingin. Tapi tidak gini juga seperti orang bermusuhan". Batin Sila Kesal pada Arsya.


Arsya dan Dania berangkat bersama. Sila mengantar mereka hingga ke depan pintu tak lupa ia mencium punggung tangan suaminya meski tanpa ada ciuman seperti biasanya.


__ADS_2