
Arsya begitu menikmati kebersamaannya dengan Sila, bahkan tak sedikitpun ia ingin jauh dari Sila, seharian mereka selalu menempel seperti prangko, sehingga membuat Sila sedikit risih karena sikap Arsya yang manja.
" sayang apa kau benar - benar tak ada kegiatan hari ini", tanya Sila pada Arsya yang terus menerus berada disampingnya.
" tidak, hari ini semua waktu ku hanya untuk mu, aku ingin menikmati masa jadian kita, jadi aku tak ingin kemana - mana" jawab Arsya yang masih memeluk tubuh Sila di sampingnya.
" bisakah kau lepas pelukan mu, aku hampir tak bisa bernapas", pinta Sila pada laki - laki yang seperti bayi.
" oh maafkan aku, mungkin karena hari ini aku sangat bahagia sehingga aku ingin selalu memelukmu", jelas Arsya dan melepaskan pelukannya.
" kau bahagia, tapi aku sengsara karena ulah mu, kau pikir aku guling yang bisa kau peluk terus, aku juga butuh aktifitas lainnya", umpat Sila pada Arsya yang masih saja menempel pada dirinya.
Sila berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa terbebas dari kungkungan Arsya, baru saja sehari sudah membuatnya ingin lari, apalagi membayangkan jika Arsya terus bersamanya seperti ini, bisa jadi guling sungguhan tubuhnya karena didekap terus - terusan oleh Arsya.
" sayang bolehkah aku meminta sesuatu", tanya Sila pada Arsya.
" apa yang kau inginkan, aku akan memberikannya untukmu", jawab Arsya dan membelai rambut hitam Sila.
" kau janji, apapun yang ku minta kau akan memberikannya untukku", ucap Sila.
" apa kau tak percaya padaku, apa yang tak bisa aku berikan padamu ", ucap Arsya sedikit kesal pada kekasihnya yang baru sehari.
" aku tau apapun bisa kau berikan untukku, tapi aku ingin kau berjanji dahulu padaku, apapun yang aku inginkan kau akan mengabulkannya", ungkap Sila dengan senyum manisnya.
" baiklah aku janji padamu, apapun itu aku akan mengabulkannya untukmu", jawab Arsya dengan sombongnya.
Sila tersenyum dengan licik, untuk bisa terbebas dari penjara Arsya untuk sementara waktu dan bisa bernapas lega.
" aku ingin makan makanan Resto ku, dan aku ingin yang membawanya kesini adalah kamu sendiri, tidak boleh orang lain", pinta Sila pada Arsya.
mendengar permintaan Sila membuat Arsya menatap kekasihnya itu dengan tajam, sebenarnya Arsya memang sedang tak ingin jauh dari Sila, dan ingin terus berada di samping kekasihnya.
" permintaan apa itu, aku bisa memberikanmu semua menu Resto mu itu, tapi biarkan Reno atau Asisten mu yang membawanya kesini, aku akan membayarnya 5x lipat dari harganya", pinta Arsya agar Sila tak menyuruhnya pergi dari sampingnya walau hanya sebentar.
__ADS_1
" ish... menyebalkan sekali, aku hanya meminta itu padamu, tapi kau tak ingin mengabulkannya untukku, apa itu namanya cinta dan kau juga sudah berjanji padaku", ucap Sila sambil mengerucutkan bibirnya dan duduk menjauh dari kekasihnya.
Arsya menyugar rambutnya dengan kasar, baru saja menikmati indahnya jatuh cinta dan menjadi sepasang kekasih, namun harus diselingi dengan pertengkaran kecil.
" baiklah demi dirimu, aku akan membawakan semua menu dari Resto mu, tapi ada syaratnya", cicit Arsya yang terpaksa memenuhi keinginan Sila demi perdamaian dunia.
Sila langsung menoleh pada Arsya mendengar ucapannya dan tersenyum bahagia, karena Arsya mau menuruti keinginannya.
" apa syaratnya ", tanya Sila.
Arsya melambaikan tangannya pada Sila, agar wanita itu datang padanya, lalu menepuk pahanya agar wanita itu duduk di pangkuannya.
Sila dengan ragu - ragu duduk dipangkuan Arsya, namun Arsya segera menariknya sehingga Sila terjatuh dipangkuan Arsya serta melingkarkan tangannya di pinggang ramping Sila.
" beri aku kecupan, agar aku bisa jauh darimu" ucap Arsya nakal.
" kau bukan pergi untuk satu bulan, tapi hanya beberapa saat saja, kau lebay sekali" ucap Sila yang tak habis pikir dengan sikap Arsya.
Sila menatap jengah laki - laki dihadapannya, demi rencananya terpaksa ia melakukan apa yang di minta oleh Arsya. Sila mengecup pipi kanan dan kiri Arsya, namun Arsya menahan wajah Sila lalu mengecup bibir Sila secara perlahan, yang berujung menjadi pangutan yang memabukkan.
Arsya melepaskan panggutannya karena mendengar suara cacing perut yang meronta ingin di isi.
" apa kau lapar ", tanya Arsya pada Sila
Sila mengangguk malu, karena perutnya yang tak bisa di ajak bekerja sama.
Arsya menurunkan Sila dari pangkuannya, lalu berdiri mengambil kunci mobilnya untuk segera pergi membeli makanan yang diinginkan Sila.
Sila bernapas lega karena akhirnya Arsya pergi darinya meski hanya untuk sementara, paling tidak dia bisa terbebas dari belenggu Arsya yang sangat posesif padanya.
Sila membuka handphonenya untuk mengirim pesan pada Vania untuk menanyakan kabar kedua anaknya. Sila menerima pesan dari Vania dan melihat foto kedua buah hatinya yang sedang berada di water park.
" tok.... tok... tok... " tiba - tiba pintu kamar Sila diketuk.
__ADS_1
" apa mungkin Arsya sudah sampai, baru setengah jam yang lalu, cepat sekali datangnya", guman Sila dalam hati.
Sila merasa ragu untuk membuka pintu, tapi ketukan pintu terulang lagi sehingga Sila terpaksa bangkit dari ranjangnya menuju pintu.
" ma mas Aldi ", Sila terkejut ketika mendapati Aldi saat membuka pintu kamarnya.
" ya aku, aku ingin menjenguk mu, aku dengar kau sakit" ucap Aldi
" bolehkah saya masuk ", tanya Aldi lagi.
Sila merasa bingung karena takut Arsya salah paham jika melihat Aldi berada di kamarnya hanya berdua, meski itu di rumah sakit.
Silahkan duduk, Sila mempersilahkan Aldi duduk di sofa dalam kamarnya dan tidak menutup pintu kamarnya kembali, agar Arsya tidak salah paham padanya.
" kelihatannya kau sudah lebih baik, dan sudah tidak memakai infus lagi ", tanya Aldi dan melihat sekeliling kamar tempat Sila di rawat.
" ya aku sudah lebih baik sekarang", jawab Sila singkat, karena tak tahu harus bicara apa lagi pada Aldi.
" maaf aku baru bisa menjenguk mu saat ini, karena aku baru tahu jika kau sakit dan di rawat di rumah sakit", jelas Aldi sekedar mencairkan suasana.
" tidak apa - apa, selama ini aku juga selalu sendiri", ucap Sila singkat dan tentunya membuat Aldi merasa tersindir.
" siapa yang menjagamu di sini ", tanya Aldi ingin tahu.
" ada Vania, Adit, Dania dan Arsya yang menjagaku bergantian ", jawab Sila tanpa menutup - nutupi yang sebenarnya.
mendengar nama Arsya ikut disebut sebagai orang yang ikut menjaga Sila di rumah sakit, membuat hati Aldi panas, namun ia harus berusaha menutupi rasa itu, agar tak membuat Sila semakin menjauhinya.
" jika aku tahu kau sakit, aku akan dengan senang hati ikut menjagamu di sini", ungkap Aldi.
" terima kasih atas niat baiknya, tapi tak perlu repot - repot, selama 5 tahun aku sudah terbiasa sendiri ", jawab Sila yang semakin membuat Aldi merasa tertampar atas ucapan mantan istrinya.
sebenarnya Sila tak Nyaman berada di satu ruangan bersama Aldi, dan saat - saat seperti ini ada rasa sesal karena menyuruh Arsya pergi. jika ada Arsya bersama mereka, Sila tidak akan sekaku ini. bertemu dengan Aldi adalah hal yang ingin ia hindari, biar bagaimana pun Sila tak ingin berurusan lagi dengan Sonia istri Aldi, yang semakin menambah rasa sakit dihatinya karena ulah mereka.
__ADS_1