Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 71


__ADS_3

Arsya membukakan pintu mobil untuk Sila, lalu berjalan ke pintu yang lain dan membukanya untuk dirinya. Arsya segera menghidupkan mobil Rolls Royce miliknya dan segera melajukan mobilnya.


Sila nampak termenung, ingin memulai mengajukan berbagai pertanyaan yang bersarang di kepalanya pada Arsya namun ia masih ragu dan takut.


" sayang,.. bisakah kamu jelaskan tentang gaun pengantin itu ", tanya Sila yang sudah tak bisa memendamnya.


mendengar pertanyaan Sila, Arsya segera mengurangi kecepatan mobilnya.


" kita akan menikah seminggu lagi ", jawab Arsya singkat.


Sila terkejut mendengar pernyataan Arsya, bagaimana bisa menikah tanpa meminta persetujuan darinya terlebih dahulu.


" apa maksudmu ", tanya Sila gusar.


Arsya segera meminggirkan dan menghentikan laju mobilnya, karena tak ingin mereka dalam bahaya jika kurang berkonsentrasi. Arsya menatap tajam wanita yang duduk disampingnya, begitu juga dengan Sila yang kesal pada Arsya.


" kita tidak pernah membicarakan soal pernikahan, kenapa sekarang justru kamu seolah ingin menikahi aku secara paksa, apa sih maksud mu", tanya Sila yang seakan tak dianggap oleh Arsya.


Arsya berusaha mengendalikan emosinya dengan menghela napasnya dalam - dalam.


" apa yang membuatmu selalu menolak jika aku mengajakmu menikah?, tanya Arsya pada Sila.


" aku hanya belum siap, aku takut mengecewakanmu, aku takut terluka lagi, dan aku takut.... ", jelas Sila tak melanjutkan ucapannya.


Arsya menatap wajah sendu Sila, di sana nampak kecemasan yang membuat wanita itu rapuh.


" tak semua laki - laki akan bersikap seperti Aldi, buang jauh - jauh ketakutan mu, aku hanya ingin menjaga dan melindungi mu, dan dengan kita menikah aku bisa melakukan itu ", jelas Arsya yang mulai dapat menguasai hatinya.


" beri aku waktu, aku masih belum siap untuk membina rumah tangga kembali ", ungkap Sila sendu.

__ADS_1


mendengar penuturan Sila, Arsya kembali terpancing emosi, ia menatap nanar Sila yang dengan tega menolaknya dengan halus, tapi Arsya tak akan menyerah begitu saja, dan akan tetap berjuang demi keinginannya.


" kau belum siap atau masih mengharapkan Aldi rujuk denganmu?, kau pikir aku tak tahu jika Sonia menemui mu, dan memintamu untuk menjauhi Aldi, bahkan aku tahu niat licik Aldi yang akan mengambil hak asuh anakmu dari tanganmu, Aldi ingin mendapatkan mu dengan cara apapun termasuk mengorbankan darah dagingnya sendiri, aku hanya ingin melindungi dirimu dan anak - anakmu, jika kau menolak ku kali ini maka jangan pernah menemui ku lagi", ancam Arsya pada Sila.


Arsya menatap kesal Sila, entah karena kepolosan atau kebaikan nya sehingga ia menjadi wanita yang mudah diperdaya oleh orang disekitarnya, jika tidak karena janjinya pada Oma Cintya untuk menjaga cucu sahabatnya, Arsya akan meninggalkan Sila yang tak menurut padanya, semoga dengan cara ini Sila akan mengerti jika Arsya ingin menjaganya dari kelicikan Aldi.


Arsya tahu jika Aldi sudah tidak ada di hati Sila, dan wanita disampingnya itu benar - benar mencintainya, namun bukan hubungan seperti ini yang diharapkan Arsya, biar bagaimana pun ia laki - laki dewasa dan tak ingin terlalu lama menjalani hubungan seperti ini.


" maafkan aku, beri aku waktu untuk bicara pada kedua anakku", jawab Sila.


Sila hanya bisa menangis mendengar ucapan Arsya, sejujurnya ia sangat mencintai Arsya, hanya saja rasa takutnya menjadi penghalang untuk dirinya bisa membangun rumah tangga bersama Arsya.


Arsya melajukan kembali mobilnya menuju rumah Sila, ia masih merasa kesal dengan wanita disampingnya, dan bodohnya Arsya karena mencintai wanita yang polos dan terlalu baik seperti Sila.


sampai di rumah Sila, Arsya menurunkan Sila lalu melajukan kembali mobilnya menuju mansion miliknya.


melihat Sikap Arsya, Sila merasa bersalah, tak seharusnya bersikap seperti itu pada laki - laki yang kini mengisi relung hatinya. laki - laki yang sudah banyak membantunya disaat dalam kesulitan. Sila segera masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat agar pikirannya tidak kusut.


Arsya sampai di mansion miliknya dengan wajah dingin, lalu masuk menuju kamarnya. pikirannya masih berkutat pada satu wanita yaitu Sila. Arsya menatap foto Almarhum kedua orang tuannya, seolah ingin mengutarakan semua isi hatinya. Arsya membaringkan tubuhnya, hingga terlelap.


tengah malam Oma Cintya sampai di mansion cucu tunggalnya, ia merasa kesal karena hanya Reno yang menjemputnya sedang Arsya masih tertidur dan membuat Reno tidak berani untuk membangunkan Tuan nya.


" apa dia masih tidur ?, tanya Oma Cintya pada Reno asisten cucunya.


" masih Nyonya, sepertinya Tuan muda sangat lelah ", jawab Reno agar Oma Cintya tidak kecewa.


" ya sudah, biarkan dia istirahat dan kalian juga istirahat ini sudah sangat larut, aku juga ingin istirahat", ucap Oma Cintya lalu menuju kamarnya.


Dion dan Reno kembali ke kamar mereka masing - masing untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah sangat lelah.

__ADS_1


Arsya terbangun saat subuh, ia langsung melihat jam yang berada di dinding kamarnya.


" Oma ", lirihnya dan langsung bangkit dari tidurnya lalu membersihkan dirinya.


" Reno, kenapa dia tidak membangunkan ku, awas saja jika Oma marah padaku ", batinnya yang kesal karena semalam tertidur sehingga tidak bisa menjemput Oma Cintya.


Arsya segera turun ke lantai bawah melihat keadaan, tempat itu masih sepi hanya para Art yang sedang hilir mudik menyelesaikan pekerjaan mereka.


" Tuan Muda ", Arsya terkejut karena tiba - tiba ada Dion yang berada di belakangnya.


" oh pak Dion, jam berapa sampai semalam ", tanya Arsya sekedar basa - basi.


" jam 1 dini hari Tuan, sepertinya anda terlalu lelah dan banyak pikiran sehingga tak dapat menjemput Oma", sindir Dion pada Arsya yang membuat Arsya menelan salivanya.


" apa ada masalah Tuan?, tanya Dion.


" ish... jangan berpura - pura tak mengerti kondisiku, aku yakin pak Dion sudah mendapat laporan dari orang suruhan bapak, kalian selalu memata - mataiku, bahkan aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari kalian ", jelas Arsya kesal.


" semua itu kami lakukan hanya untuk melindungi anda Tuan, dan tak ingin anda berada dalam situasi sulit", jawab Dion.


pukul tujuh semua penghuni mansion sudah berada di meja makan untuk sarapan, begitu juga dengan Oma Cintya yang sudah duduk manis. Oma menatap sekilas cucu kesayangannya, lalu Melanjutkan aktifitas untuk mengisi perutnya.


Oma Cintya segera bangkit dari kursinya setelah menyelesaikan sarapannya, di ikuti oleh Arsya dan Asisten mereka masing - masing.


" Oma maafkan aku ", ucap Arsya yang tak menyelesaikan ucapannya karena mendapatkan tatapan tajam dari Oma Cintya.


" kemarilah", ucap Oma lalu tersenyum dan memeluk Arsya cucunya.


" kau memang cucu yang tidak pengertian, aku datang jauh - jauh kesini karena dirimu, tapi kau malah tidur nyenyak di sini, tidak mau menjemput ku, apa kau tidak kasihan dengan tubuh renta ini, untung saja ada Reno, jika tidak ku pastikan kalian akan menanggung akibatnya ", jelas Oma Cintya dengan tersenyum.

__ADS_1


" maaf Oma, aku ketiduran dan tidak ada yang membangunkan ku", jelas Arsya sambil melirik Reno asistennya.


__ADS_2