
", mama cepat hubungi tante Cintya, mereka harus tau tentang keadaan putrinya", pinta Alina pada mamanya, yang masih berurai air mata.
mama Laura hanya mengangguk dan mengambil handphone, dan mengabari Cintya tentang keadaan anak dan cucunya.
***
derap langkah kaki yang memburu terdengar semakin mengerikan. Cintya yang baru mendarat Langsung menuju rumah sakit miliknya, yang ia bangun untuk putrinya yang berprofesi sebagai seorang dokter.
", dimana anakku Laura", tanyanya pada sahabatnya dan langsung diarahkan dimana menantu dan anaknya berada.
tubuh Cintya lemah tak bertulang dan membuatnya terkulai, mengetahui putri dan menantunya sudah tak bernyawa lagi, tangis sedih memenuhi ruang mayat. Cintya tak sanggup menerima kenyataan yang membuat ia tak sadarkan diri.
Abraham Mahesa suami Cintya segera meminta agar putri dan menantunya dimakamkan, agar Cintya tak terus terpukul karena kehilangan putri semata wayangnya.
Laura, Alina dan Ardian menemani dan mengawal semua proses hingga selesai, dan mereka tinggal di jakarta sementara waktu untuk menemani Cintya.
flashback off
__ADS_1
Arsya yang mendengar cerita Oma Cintya mengepal tangannya erat, amarah telah menguasai hati dan pikirannya. selama ini ia mengetahui jika kematian kedua orang tuanya karena murni kecelakaan, namun kenyataan justru sangat menyakitkan.
", kenapa Oma berbohong padaku", tanya Arsya dengan marah.
", Karena aku menjaga perasaanmu, dengan meninggalnya orang tuamu saja kau menjadi depresi, apalagi jika kamu tau yang sebenarnya", jelas Oma Cintya mengungkap fakta yang ada.
", kau satu - satunya harapan Opa dan Oma, jika kau lemah dan tidak bisa mengendalikan dirimu, maka apa yang telah kami bangun akan sia - sia", lanjut Oma Cintya
Arsya masih syok dan terpukul mengenai kematian kedua orang tuannya, pandangannya kosong, dipenuhi bayang - bayang kedua orang tua yang sangat menyayanginya.
Arsya pergi meninggalkan ruang kerjanya, pikirannya kacau, tak bisa berpikir dengan jernih. Arsya masuk ke kamarnya dan menyendiri dan mulai mencerna setiap ucapan Oma Cintya.
", Apa tuan tidak semakin terbebani dengan semua yang anda katakan, Nyoya?, tanya Dion kepada Oma Cintya, yang merasa kuatir dengan keadaan Tuannya.
Oma Cintya menarik napas dalam - dalam dan menghembuskan perlahan, mencoba merilekskan pikiran dan tubuhnya.
", kau tenang saja Dion, aku sudah konsultasikan hal ini kepada dokter yang menanganinya, semakin dewasa ia akan semakin berusaha untuk mengontrol emosinya, cucuku bukan gila Dion, ia hanya frustasi saja, aku hanya ingin menyadarkannya", jawab Oma Cintya kepada asistennya.
__ADS_1
", Reno, berikan peringatan pada Anna, jika dia masih menganggu Arsya, maka Ayahmu yang akan membereskannya", perintah Oma Cintya pada Reno.
Reno hanya mengangguk dan patuh pada perintah Oma Cintya, dengan cepat ia menghubungi Agensi tempat Anna bernaung.
mudah bagi Reno, untuk membuat Anna kehilangan pekerjaan karena Agensi itu masih dibawah Naungan Mhs Group.
Arsya masih mengurung dirinya di kamar, Reno menyuruh Art mengantarkan makan siangnya ke kamar, karena jam makan siang telah usai.
Reno tau, Arsya pasti sulit menerima semua ini, dan paham apa yang bosnya rasakan. ia mulai kuatir akan keadaan Arsya yang masih saja betah mengurung diri.
", Tuan muda masih saja mengurung diri di kamar, Nyoya!, ucap Reno memberitahukan keadaan Arsya pada Oma Cintya.
", biarkan dia menenangkan diri dan mulai berpikir tentang hidupnya, kau pantau saja keadaannya, dan jangan sampai kau lalai dalam menjaganya, aku sudah sangat tua Ren, jadi kau harus bisa membuat dia bangkit", Ucap Oma Cintya dengan tegas.
", Dion, atur pertemuanku dengan Sila dan kedua anaknya, aku ingin bertemu dengan mereka", titah Oma Cintya kepada Asistennya.
Dion mengangguk paham, apa yang diinginkan oleh Nyoya besarnya, mudah bagi Dion untuk menemukan dimana Sila berada, karena segala yang berhubungan dengan Sila sudah diketahuinya.
__ADS_1