Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 35


__ADS_3

" mama.... " teriak Dania berlari menyambut kedatangan Sila dan Arsya.


" om ganteng, kok pergi dan pulangnya barengan mama terus" tanya Dania polos.


" kan om ganteng sama mama kerjanya satu kantor, jadi bisa bareng terus...!, jelas Arsya dengan mensejajarkan tingginya dengan Dania.


gadis kecil itu tampak manggut - manggut seperti mengerti sesuatu.


" kita siap - siap untuk pulang ya.." ajak Sila kepada putrinya.


" adek mau di sini ja ah ma, di sini seru banyak temennya, Oma juga baik ngajakin kita main, kasih kita mainan, makanan" jelas Dania yang merasa betah tinggal di mansion Arsya.


" adek gak boleh gitu donk, kita kan punya rumah, kalau gak di tempati nanti diambil orang lo", bujuk Sila kepada putrinya.


namun Dania tetap pada pendiriannya ingin tinggal di rumah Arsya.


Sila hampir kehabisan akal untuk membujuk Dania, dan memberikan kode kepada Arsya agar ia mau membantu membujuk Dania.


" Dania cantik, sayangnya om, malam ini pulang dulu ya, kasian mama, capek belum mandi, besok kan hari libur, besok om jemput kita jalan - jalan", bujuk Arsya dan langsung disetujui oleh Dania.


" bener ya om, besok jalan - jalan" ucap Dania meyakinkan dan meminta Arsya berjanji padanya.


seperti biasa Sila pulang dengan diantar oleh supir pribadi Arsya.


" adek dan abang ganti baju dulu ya, terus kita makan malam sama- sama" ucap Sila kepada kedua anaknya, setelah mereka memasuki rumah mereka.


" adek udah kenyang ma, tadi Oma kasih banyak makanan sama kita, ma!, jelas Dania yang didukung oleh Adit.


" jadi mama makan sama siapa donk?, tanya Sila kepada putra dan putrinya.


kedua anak itu kompak menjawab dengan mengangkat kedua bahu mereka, dan pergi menuju kamar masing - masing.


Sila bergegas menuju kamarnya, rasa gerah membuatnya ingin sekali merendam tubuhnya di bathtub.


Setelah bersih - bersih badan usai, Sila hanya menggunakan gaun mini dress berwarna hitam yang tidak berlengan.

__ADS_1



ia segera menuju dapur untuk membuat makan malam untuk dirinya sendiri.


" ah kalian sungguh tidak asyik, membiarkan mama makan malam sendiri" gerutunya kepada kedua anaknya.


" aku buat mie sayur saja, kan mereka tidak ikut makan " guman Sila dengan senyum mengembang.


Sila memang tidak meminta Art nya untuk memasak dan menyiapkan makanan untuk mereka, karena kedua buah hatinya selalu ingin makan masakan tangan mamanya.


setelah semua bahan siap, Sila mulai memasak


menu yang diinginkannya. rasa lapar membuatnya selalu menelan air liurnya karena bau mie yang dibuatnya.


" em... baunya harum sekali" batinnya dan segera mengambil garpu dan sendok untuknya.


" tok.... tok... tok... " baru ingin menyuapkan makanan ke mulutnya, pintu rumahnya tiba - tiba ada yang mengetuk dari luar.


Sila merasa malas untuk membukakan pintu.


" menganggu orang saja, siapa sih malam - malam gini bertamu" gerutunya kesal, dengan wajah kesal ia berjalan menuju pintu rumahnya.


tanpa dipersilahkan masuk, Arsya langsung menerobos masuk tanpa permisi.


Sila merasa risih dengan keberadaan Arsya, rasa lapar yang sejak tadi di rasa dan bayangan menyantap mie sayur miliknya, kini bahkan menguap begitu saja.


" ada apa malam - malam, anda ke rumah ku, Tuan?, tanya Sila dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.


" aku lapar, dan ingin memakan masakan mu, jadi aku putuskan ke sini saja", jawab Arsya tanpa merasa bersalah.


Arsya duduk di meja makan rumah Sila, yang terdapat mie sayur miliknya, tanpa rasa malu ia langsung mencicipinya.


" hem... enak, boleh kah kau buatkan aku seperti ini untukku", Arsya menunjuk mie sayur milik Sila dan memintanya untuk membuatkan untuknya.


" jika Tuan sudah lapar, silahkan makan milikku, aku belum menyentuhnya, aku akan buat lagi untukku" jawab Sila dan segera menyiapkan bahan untuk membuat mie sayur untuknya.

__ADS_1


Arsya sangat menikmati mie sayur buatan Sila, mungkin seumur hidup ini pertama kalinya ia memakan mie instan dengan topping sayuran di atasnya.


Sila yang sudah menelan air liurnya melihat Arsya yang sangat lahap menyantap mie nya, segera memakan miliknya yang baru saja matang. Sila tak perduli lagi akan image nya, karena perutnya menuntut untuk cepat di isi.


Arsya memperhatikan Sila yang sedang makan, wanita didepannya ini memang beda dengan yang lain, di saat mereka sibuk menjaga image nya di depan laki - laki, justru ini sebaliknya bahkan tak perduli apa itu yang namanya image.


" apa kau sangat lapar, sehingga terburu - buru seperti itu, pelan kan makan mu nanti kau tersedak" ucap Arsya memperingati Sila.


Sila hanya mengangguk dan melanjutkan aktifitasnya.


Arsya lebih dulu menyelesaikan makan malamnya, dan memperhatikan seorang wanita dihadapannya yang membuatnya ingin selalu berada di sampingnya.


Arsya baru menyadari jika penampilan Sila malam ini sangat ****, mini dress hitam selutut tanpa lengan, dan bagian dada terbuka membuatnya susah menelan saliva nya.


Sila tak menyadari jika Arsya sedari tadi memperhatikannya, setelah usai menikmati makan malamnya, Sila segera membereskan meja dan membawa piring kotor ke wastafel.


" apa anda sudah kenyang, Tuan! , tanya Sila sekedar basa basi.


Arsya tidak menjawab pertanyaan Sila, ia terus menatap tajam pada Sila tanpa berkedip sedikit pun.


Sila yang diperhatikan sedemikian rupa, menjadi salah tingkah, ia baru sadar jika penampilannya malam ini sungguh sangat terbuka, rasa lapar memang kadang membuat seseorang sering lupa.


" apa kau sedang ingin menggodaku", tanya Arsya dengan wajah datarnya.


" tidak, aku bahkan tidak tahu jika Tuan, mau berkunjung ke rumahku," jawab Sila ketus.


" kau memakai baju yang sangat terbuka, bagaimana jika bukan aku yang datang, apa kau tetap seperti ini, jangan memamerkan tubuhmu pada pria lain, karena hanya aku yang boleh melihatnya" jelas Arsya tegas dan berjalan mendekati Sila, perlahan Sila memundurkan langkahnya namun tak membuat Arsya menghentikan langkahnya, ia terus maju membuat tubuh Sila terbentur wastafel dan membuatnya tak dapat berkutik.


Arsya terus maju hingga tak ada jarak diantara mereka, mata mereka saling beradu, bahkan hembusan napasnya dapat dirasakan oleh Sila. Arsya membelai rambut Sila dan mengecup kening wanita yang di cintainya, Sila berusaha mendorong dada Arsya, agar ia menghentikan perbuatanya, karena tak ingin Arsya melihat rona merah di pipinya karena perbuatan bosnya.


" jangan memakai pakaian seperti ini lagi jika ada tamu yang datang, laki - laki dewasa mana pun akan bisa berbuat jahat padamu, jika melihat dirimu seperti ini", bisik Arsya lembut ditelinga Sila.


Sila merona mendengar ucapan Arsya, dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Arsya.


" aku pulang dulu, terima kasih atas makan malamnya", Ucap Arsya dan berlalu pergi meninggalkan Sila yang masih membeku di tempatnya.

__ADS_1


setelah Arsya menutup pintu rumah Sila, baru Sila sadar jika bos gilanya itu telah pergi dari rumahnya.


" seperti jelangkung saja, datang tak di undang pergi tak diantar" gumanya kesal, dan segera mengunci pintu rumahnya, lalu pergi menuju kamarnya.


__ADS_2