
Sila hanya termenung di meja kerjanya, ia tak dapat berkonsentrasi dalam bekerja memikirkan ancaman Aldi padanya, ia sungguh tak tenang memikirkan hari - hari selanjutnya.
Sila menatap Arsya yang sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Arsya sering mencuri pandang pada sekretarisnya untuk memastikan bahwa wanita itu baik - baik saja.
Arsya berjalan mendekati Sila yang hanya duduk termenung, sedangkan Sila tak menyadari jika Arsya sudah berdiri di depan mejanya, Arsya menarik tangan Sila perlahan dan membawanya ikut bersamanya. Sila hanya menurut kemana Arsya membawanya.
" kita mau kemana, Tuan?, tanya Sila pada Arsya yang sedang mengemudikan mobilnya.
" kita akan pergi ke suatu tempat", jawab Arsya singkat.
sampai di tempat yang dituju, Arsya turun dan di ikuti oleh Sila. Arsya mengandeng tangan Sila dan mencari tempat untuk mereka berdua.
sebuah Resto dengan nuansa alam menjadi pilihan Arsya, hiruk pikuk nya ibu kota kadang membuat pikiran juga butuh penyegaran, apalagi jika sedang dalam masalah yang menambah beban pikiran.
" apa kau ada alergi makanan atau seafood?, tanya Arsya pada Sila.
" tidak Tuan, apapun bisa saya makan" jawab Sila singkat.
Arsya memesan makanan dan minuman, kebetulan mereka berdua juga belum sempat untuk makan siang, karena adanya insiden itu.
makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja, Arsya segera mengambil makanan yang diinginkannya, dan segera mengisi perutnya yang sedari tadi memberontak minta di isi.
" minumlah coklat hangat ini, agar pikiranmu tenang, dan seafood ini bagus untuk menganti energi mu yang terkuras tadi, makanlah dan jangan biarkan dirimu sakit, pikirkan kedua anakmu, mereka butuh dirimu", ucap Arsya menyemangati Sila dan langsung menyantap hidangan yang tersedia.
melihat Arsya yang begitu lahap, Sila pun tergiur untuk mengikuti Arsya melahap makan siang mereka, benar yang di katakan Arsya bahwa ia harus kuat dan sehat demi kedua anaknya.
" terima kasih Tuan, atas semua yang anda berikan kepada saya", Sila mengucapkan rasa terima kasihnya pada Arsya setelah usai menikmati makan siangnya.
" dan maafkan saya, karena membawa anda masuk terlalu jauh dalam masalah saya dengan mantan suami saya", lanjut Sila.
__ADS_1
" tak perlu berterima kasih padaku, aku juga tidak merasa berada dalam masalah karena membantumu, sudah ku katakan padamu, kalian adalah tanggung jawabku, karena Oma Cintya menitipkan kalian padaku, hanya dengan cara menjaga kalian, kami dapat membalas budi keluarga Sanjaya, jadi apapun masalahmu itu akan menjadi urusanku juga", jelas Arsya, agar Sila mengerti mengapa Arsya melakukan semua ini padanya.
flashback on
" Tuan, bolehkan saya meminta bantuan anda", Sila berdiri didepan meja Arsya yang sedang sibuk memeriksa dan menandatangani berkas yang ada di mejanya.
" apa yang bisa ku lakukan untukmu?, tanya Arsya tanpa melihat Sila, dan masih sibuk dengan pekerjaannya.
" Aldi ingin bertemu dengan saya, dan saya takut jika ia ingin kembali mengajak saya untuk kembali padanya seperti waktu itu, saya tidak ingin berurusan lagi dengan istrinya Sonia yang terus membenci dan menyalahkan saya", jelas Sila pada Arsya yang tanpa menghentikan kegiatannya.
" lalu apa yang harus saya lakukan?, tanya Arsya singkat.
" bisakah anda membantu saya untuk berpura - pura bahwa anda adalah calon suami saya, agar mantan suami saya tidak terus mengejar saya, karena saya tidak ingin di sebut sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Aldi dan Sonia" ucap Sila dengan sedikit salah tingkah karena meminta Arsya untuk menjadi calon suaminya.
Arsya menghentikan aktifitasnya, dan menatap lekat- lekat wanita di hadapannya, ada perasaan senang mendengar permintaan Sila padanya, andai saja permintaan itu tidak pura - pura tentu saja Arsya tak akan pernah menolaknya.
Arsya mengajak Sila duduk di sofa ruangannya, belum sempat untuk mengiyakan permintaan Sila, pintu ruangan CEO sudah terbuka dan Aldi sudah masuk dengan gaya coolnya.
Arsya dan Sila keluar dari Resto setelah usai menikmati makan Siang berdua. Arsya membukakan pintu mobil untuk Sila dan segera menuju kemudi untuk melajukan mobilnya.
Sila sudah merasa lebih baik saat ini, tidak seperti tadi yang terus murung karena mengingat ucapan Aldi.
" kita mau kemana Tuan, jalan ini bukan jalan menuju arah kantor?, tanya Sila pada Arsya.
" bertemu dengan anak - anakmu mungkin bisa mengembalikan mood mu, jadi beristirahatlah di rumah dan habiskan Waktu kalian bersama", jawab Arsya yang masih mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" tapi saya tadi pagi membawa mobil, Tuan!, ucap Sila lagi.
" aku akan menyuruh supir kantor untuk mengantar mobilmu, tak perlu kuatir ", jelas Arsya singkat.
__ADS_1
Sila hanya diam saja mendengar ucapan Arsya , berdebat dengan Arsya tak akan pernah menang, karena laki - laki di sampingnya memiliki seribu cara untuk menang darinya.
Arsya menurunkan Sila di depan rumahnya, dan setelah memastikan sekretarisnya sudah memasuki rumahnya, Arsya segera melajukan mobilnya untuk menuju kantornya.
sampai di kantor Arsya langsung memanggil asistennya untuk keruangan nya.
" ada apa Tuan, memanggil saya?, tanya Reno pada bosnya.
" bawa semua berkas yang berhubungan dengan Anggara group sekarang", jawab Arsya.
Reno segera kembali ke ruangannya, untuk menyiapkan apa yang diminta oleh bosnya, dan kembali keruangan CEO untuk menyerahkan berkas yang di minta oleh Arsya.
Arsya mulai memeriksa satu demi satu berkas yang diberikan oleh asistennya.
" sudah sampai dimana proyek yang di kerjakan oleh Anggara group?, tanya Arsya pada asistennya.
" proyek itu sudah berjalan 50%, Tuan!, dan dana yang sudah dikeluarkan sebesar 15 Milyar", jelas Reno pada Arsya.
" batalkan proyek kerja sama kita dengan Anggara Group", titah Arsya pada asistennya
" kita akan mengalami kerugian karena membatalkan kerja sama itu Tuan", jelas Reno pada sang CEO.
" berapa total kerugian kita, jika kita membatalkan proyek itu?, tanya Arsya singkat.
" kita akan merugi senilai kontrak itu Tuan, sebesar 30 Milyar", jawab Reno
" aku rasa keuangan kita akan tetap aman jika hanya kehilangan 30 Milyar, putuskan kerja sama kita segera, aku ingin memberi pelajaran untuk laki - laki sombong seperti Aldi ", jelas Arsya.
" dan satu lagi, aku menginginkan saham Anggara Group sebanyak 50%, gunakan anak perusahaan Mhs group sebagai investornya dan kau tahu yang harus kau lakukan, aku ingin mengambil alih perusahaan itu untuk Sila dan kedua anaknya", jelas Arsya kepada asistennya dengan senyum devilnya.
__ADS_1
asisten Reno segera kembali ke ruangannya untuk melaksanakan perintah Arsya, Reno tahu jika Arsya sangat pintar untuk bermain cantik dalam membuat perusahaan saingannya menjadi miliknya atau bahkan untuk membuatnya bangkrut sekalipun.
Arsya tak ingin membuat perusahaan Anggara Group gulung tikar, karena Arsya menginginkan suatu saat nanti Sila atau kedua anaknya yang akan memegang kendali perusahaan itu, tentu saja di bawah pengawasan Mhs Group.