
sesampainya Sila dikediaman Arsya, ia dibuat takjub dengan pemandangan didepannya. Sila benar - benar tidak menyangka jika Bosnya itu tinggal di rumah seperti istana. rumah Vania yang sudah dianggapnya seperti istana bahkan tidak bisa menandingi rumah Arsya.
Sila teringat perlakuan dirinya kepada Arsya, yang selalu ketus kepadanya.
", Apakah Nyoya tau jika aku memperlakukan Tuan Arsya begitu, sehingga beliau ingin bertemu denganku", batinnya mulai berandai - andai.
", mari Nona, silahkan masuk Nyoya sudah menunggu anda", ucap Dion mengagetkan Sila yang masih termenung.
Sila mengikuti kemana langkah Dion menuntunnya, perasaan campur aduk antara takut, bingung, cemas menjadi satu. ada apakah gerangan seorang Nyoya Mahesa ingin bertemu dengannya.
Sila terus mengikuti Dion yang ntah akan kemana membawanya, rasa kagum dan takjub melihat rumah yang begitu luas dan megah, seperti dalam sebuah dongeng.
", apa tidak capek berjalan di rumah yang seluas ini, aku saja lelah", batin Sila bermonolog.
", Silahkan masuk Nona", ucap Dion memecahkan lamunannya.
Sila masuk kedalam ruangan yang ditunjukkan oleh Dion, dengan pelan dan hati - hati Sila memasuki ruangan yang sepertinya sebuah kamar.
", bahkan kamar ini seluas rumahku", gumas Sila merasa takjub.
Sila melihat seorang nenek yang masih kelihatan energik, cantik, dan elegan. ia berjalan mendekati Oma Cintya yang sedang duduk di sofa sambil melihat kearah jendela.
menyadari adanya langkah kaki seseorang Oma Cintya segera menoleh, ia menatap wanita yang sedang berjalan dengan hati - hati dan pelan.
__ADS_1
", selamat sore Nyonya, saya Sila", sapa Sila dan langsung memperkenalkan diri.
", duduklah", perintah Oma Cintya.
", kau pasti bertanya - tanya mengapa aku ingin bertemu denganmu", ucap Oma Cintya mencairkan suasana.
Sila hanya mengangguk dan tersenyum kepada Oma Cintya.
", apa kau masih ingat padaku", tanya Oma Cintya pada Sila yang langsung menatapnya untuk mencoba mengingatkannya.
Sila menggelengkan kepala karena tidak ingat siapa sesungguhnya Oma Cintya.
", kau tak perlu sungkan padaku, kau lihatlah ini", Oma Cintya memperlihatkan album foto yang sedari tadi ia siapkan untuk Sila, agar ia tahu bahwa dirinya memiliki hubungan dengan keluarga Sila.
Sila melihat - lihat foto di album, ia masih bingung mengapa ada foto dirinya dan keluarganya.
Sila masih ingat jika Jihan dan Arya sering berkunjung kerumahnya, bahkan disaat terakhir hidupnya mereka dari rumah Sila.
", Jadi maksud Nyonya, Arsya adalah anak dari Tante Jihan dan Om Arya", tanya Sila kepada Oma Cintya.
Oma Cintya hanya mengangguk mengiyakan pendapat Sila. raut sedih jelas terlihat di wajah tuanya.
", kau tak perlu memanggilku Nyoya, panggil aku Oma, seperti kau memanggil Oma Laura", pinta Oma Cintya kepada cucu sahabatnya.
", aku baru tahu jika masih ada keluarga Sanjaya yang hidup, karena kau tak memakai nama keluargamu", jelas Oma Cintya pada Sila.
__ADS_1
", papa melarang ku memakai nama keluargaku, aku tak tahu apa sebabnya, yang ku tahu papa selalu bilang demi keselamatan ku", jelas Sila kepada Oma Cintya.
Oma Cintya menceritakan masa lalu keluarga mereka, mengapa Arsya mengalami trauma dan depresi, dan juga menceritakan tentang kematian Jihan dam Arya.
****
Sila mengetuk kamar Arsya, menurut cerita Oma Cintya ia sudah sehari tak keluar kamar. bahkan Reno sendiri tidak bisa membujuknya.
kini Reno lah yang harus menangani segala urusan kantor di bantu oleh Dion ayahnya.
tak jua mendapat balasan dari sang penghuni kamar, Sila memutuskan masuk, dengan membawa nampan berisi makanan.
", tak dikunci, kenapa gelap sekali", pikir Sila dan ragu - ragu untuk masuk.
Sila terus melangkah maju meski ia merasa sungkan, tapi demi membantu Oma Cintya dan demi kedua orang tua Arsya, rasa ragu itu ia tepis.
Sila menyalakan lampu kamar Arsya, ia mendapati Arsya sedang meringkuk dibawah selimut.
", Ac disini sangat dingin, mengapa dia berkeringat", batin Sila memandang wajah Arsya dan meletakkan nampan di nakas.
dengan hati - hati Sila mendekati Arsya dan duduk dibibir ranjang, agar Arsya tak terganggu karena kedatangannya. perlahan Sila menempelkan punggung tangannya di kening Arsya.
", Rupanya dia demam, pantas saja ia berkeringat", Sila berdiri hendak mengambil air hangat dan handuk untuk mengompres, namun tangan Sila dipegang oleh Arsya.
", mama... jangan pergi, mama jangan tinggalin aku,.. mama... mama.... " , Arsya terus mengigau memanggil mamanya.
__ADS_1
Sila mengurungkan niatnya untuk pergi, dan duduk menemani Arsya hingga ia merasa tenang terlebih dahulu. Sila memangil Asisten rumah tangga untuk membantunya membawa air hangat dan handuk untuk mengompres Arsya.