
" Nona ini ada surat untuk Nona", Art Sila memberikan surat itu pada majikannya.
" surat, surat apa bik " tanya Sila yang penasaran lalu menerima surat itu.
Sila melihat alamat pengirim dan membuka surat tersebut untuk mengetahui apa maksud dan tujuan surat itu di kirimkan kepadanya.
Sila terduduk di kursi meja makan tempat ia berkutat sejak pagi menyiapkan bekal dan sarapan untuk kedua buah hatinya. wajahnya mendung dan hatinya terasa nyeri ketika membaca isi surat itu. apa yang ditakutkan olehnya kini benar terjadi, dan ia mulai bingung harus berbuat apa.
" kamu benar - benar keterlaluan mas, aku tak habis pikir dengan jalan pikiranmu, bagaimana bisa kau akan mengambil Dania dariku, apa kau tak melihat anak kita yang ketakutan ketika melihatmu, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi " batin Sila geram dan mencengkram surat itu dengan erat.
" kali ini aku tidak akan lemah dan menyerah padamu, tidak akan", guman Sila lalu naik keatas menuju kamarnya, untuk bersiap - siap menuju kantornya.
kedua anak Sila sudah duduk di meja makan, ketika Sila turun dari kamarnya, Sila segera mengambilkan sarapan untuk mereka dan memberikan bekal kepada mereka. seperti biasa mobil jemputan mereka sudah menunggu di depan rumahnya, Sila segera mengantar mereka masuk ke dalam mobil.
Sila segera masuk ke dalam rumahnya setelah mobil yang membawa kedua buah hatinya tak terlihat lagi, ia segera mengambil tas dan kunci mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju kantor Mhs Group tempatnya bekerja selama ini.
Sila segera menyiapkan semua pekerjaannya, dan duduk di kursinya untuk menunggu sang bos. Sila duduk termenung memikirkan jalan yang harus ia tempuh untuk melawan Aldi, ia tak ingin kehilangan putri kesayangannya dan membiarkan Aldi menang dalam gugatan ini.
pukul 8 pagi, Arsya belum ada tanda - tanda bahwa Arsya akan datang, padahal biasanya sebelum jam 8 laki - laki itu sudah muncul di ruangannya.
" apa dia tidak masuk hari ini, apa dia marah padaku ", batin Sila yang berandai - andai.
Sila mengambil handphonenya dan berkali - kali melihat nomor Arsya, namun rasa gengsi membuatnya membatalkan niatnya untuk menghubungi Arsya.
pukul 9 belum juga ada tanda - tanda Arsya muncul di kantornya, yang membuat Sila semakin gelisah. Sila mengambil handphonenya dan mencari nomor Asisten Reno untuk menanyakan keberadaan Arsya.
" permisi Nona, apa ada yang bisa saya bantu ", tanya Reno yang langsung masuk ruangan CEO ketika Sila mengirimkan pesan padanya.
" eh em.. maaf Asisten Reno, saya kira anda bersama Tuan Arsya, jadi saya ingin bertanya tentang beliau ", ucap Sila dengan sedikit gugup dan tidak enak pada Reno.
__ADS_1
" Tidak Nona, saya sudah berangkat sejak pagi, sedang Tuan tadi masih berada di Mansion nya, jadi saya tidak tahu jika Tuan tidak ke kantor hari ini ", jelas Reno pada Sila.
" baiklah asisten Reno, terima kasih atas informasinya", jawab Sila lesu.
" apa ada yang anda butuhkan Nona?, tanya Reno.
Sila hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tak membutuhkan sesuatu.
Sila merasa sedih tak mendapat kabar apapun dari Arsya, baru kali ini Arsya mengabaikan dirinya, rasanya seperti terdampar di pulau asing, bingung itulah yang di rasakan oleh Sila.
***
" bagaimana keadaannya?, tanya seseorang dari sebrang sana.
setelah keluar dari ruangan CEO, Reno langsung menghubungi Arsya, untuk memberitahukan tentang keadaan Sila. sebenarnya itu adalah ide Oma Cintya untuk mengetahui sejauh mana Sila mencintai Arsya.
" Nona nampak sedih Tuan, karena anda tidak memberi kabar padanya, bahkan Nona menanyakan keadaan anda pada saya", jelas Reno pada Arsya lewat telpon.
" Oma bolehkah aku ke kantor sekarang", tanya Arsya pada Oma Cintya.
wanita yang sudah berusia senja itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah cucunya, belum ada setengah hari tidak bertemu Sila sudah membuatnya seperti cacing tersiram air panas.
" apa kau sudah tak ingin mendengarkan ku lagi, ini belum ada jam 12 tapi tingkah mu sudah seperti lumba - lumba saja " ledek Oma pada Arsya.
" bukan begitu Oma, aku hanya tidak ingin Sila merasa sedih saja, karena aku tidak mengabarinya", jelas Arsya pada Oma Cintya.
" tetap di tempatmu dan jangan coba - coba melanggar aturan ku, semua ini demi dirimu agar kau bisa mengendalikan dirimu, dan Sila juga bisa mengoreksi sikapnya padamu, jika kau melanggarnya aku akan menambah hukuman untukmu, kalian tidak akan bertemu selama seminggu", titah Oma Cintya tanpa melihat ekspresi Arsya yang sedang frustasi.
" jangan Oma, baiklah aku akan menurut pada Oma", jawab Arsya lesu.
__ADS_1
" bagus, itu yang terbaik untuk kalian, besok baru kalian bisa bertemu, dan jangan coba - coba untuk mengelabui ku", ucap Oma cintya dengan tegas.
Arsya akhirnya memutuskan untuk berenang untuk mendinginkan hati dan pikirannya. ia terlalu bucin jika sedang jatuh cinta sehingga membuatnya tak bisa jauh dari Sila.
***
Sila mengerjakan pekerjaannya dengan tanpa semangat, hati dan pikirannya tidak berada di kantor bersama tubuhnya, tapi berkelana mencari cintanya.
" begini rasanya diabaikan dan merindukan seseorang, aku seakan mati rasa dengan rasa ini sejak bercerai dan sekarang aku merasakannya lagi" lirihnya dan menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu menatap kursi Arsya yang kini kosong tanpa penghuni.
" maafkan aku jika selama ini terlalu egois padamu, dan sering mengabaikan mu", batin Sila.
jika ada sahabatnya mungkin Sila tak akan merasa sesedih ini, ia akan menghabiskan waktunya bersama Vania, namun wanita itu sedang berlibur keluar negeri ntah kapan ia akan kembali.
waktu sudah menunjukkan untuk makan siang, namun Sila merasa malas untuk beranjak dari kursinya. seolah perutnya tak merasa lapar meski ia melewatkan sarapannya tadi.
tok.. tok.. Reno mengetuk pintu lalu masuk dan duduk di kursi tempat biasa mereka menikmati hidangan siang mereka.
" Nona mari makan, anda pasti belum makan ", ajak Reno yang sudah menyiapkan dua hidangan di meja.
melihat menu yang dibawakan Reno, Sila merasa lapar, meski tak ada nafsu untuk menyantap makanan itu, tapi rasa lapar yang mendera membuatnya harus memakannya.
" apa anda sakit Nona", tanya Reno berbasa basi.
" tidak asisten Reno, saya hanya sedang tidak berselera saja ", jawab Sila singkat.
lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutnya sedikit demi sedikit, Reno yang melihat hal itu merasa kasihan dan juga ingin tertawa, ternyata cinta bisa mengubah seseorang menjadi seperti ini.
" apa anda tidak cocok dengan menunya Nona, saya akan memesankan ulang untuk anda jika anda tidak selera", tanya Reno karena Sila hanya mengaduk - aduk makanannya.
__ADS_1
" eh.. tidak Tuan, makanan ini enak hanya saja saya kehilangan nafsu makan saya" jawab Dila dan kembali memaksa dirinya untuk memakan makanannya demi menghargai Reno yang sudah membawakan makanan untuknya.