
Arsya menyunggingkan bibirnya mendengar apa yang diucapkan Sila pada pria yang dianggap rivalnya, ia merasa menang karena Aldi pria yang sudah meninggalkan luka yang dalam terhadap Sila dan kedua anaknya.
" maafkan aku yang sudah membuat kalian menderita dan terluka karena sikapku dahulu, aku menyesal telah menelantarkan kalian, aku ingin memperbaiki semuanya kembali", ucap Aldi dengan penuh rasa penyesalan dan sedih.
Arsya sedikit emosi melihat Aldi yang memasang wajah sedih, ntah mengapa Arsya seakan takut jika Sila menerima keinginan Aldi yang secara tidak langsung ingin kembali pada Sila. ia takut jika Sila akan merasa kasihan pada mantan suaminya itu.
" sudahlah mas, semua telah berlalu tak perlu diungkit lagi, aku dan anak - anak sekarang juga sudah bahagia, semua itu karena Tuan Arsya yang selalu membantu kami, dan aku sudah memaafkan mas dan Sonia, jadi tak perlu seperti ini", jelas Sila yang tak tega melihat Aldi mengiba padanya.
" apakah tidak ada kesempatan untukku lagi Sila, kita perbaiki semuanya dari awal lagi", tanya Aldi tanpa rasa malu di depan Arsya dan Sila.
Sila dan Arsya saling berpandangan mendengar ucapan Aldi, sungguh laki - laki di depannya ini tidak tahu malu, dan hampir saja Arsya ingin menghajar laki - laki tak tahu diri didepannya ini.
" anda laki - laki yang benar - benar tak tahu malu Tuan, dulu sedikitpun anda tak punya rasa kasihan memperlakukan mereka, bahkan anda tega membuang darah daging anda sendiri hanya karena seorang wanita, dan sekarang anda datang meminta belas kasihan karena mereka sudah hidup enak, begitu maksud anda Tuan Aldi Anggara?, Arsya yang sudah tak tahan lagi melihat sikap Aldi pada Sila membuatnya terbawa emosi dan ingin menghajar laki - laki didepannya.
" sebaiknya anda keluar dari kantor saya, sebelum kesabaran saya habis", lanjut Arsya yang sudah sangat muak.
" saya tidak bicara pada anda Tuan, saya bicara pada Sila, biarkan dia yang memutuskannya, apa anda takut jika Sila lebih memilih saya dari pada anda", jawab Aldi sombong dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Arsya menarik kerah baju Aldi dan melayangkan tinjunya pada Aldi, ia sudah tidak tahan lagi dengan mulut Aldi, yang membuat darahnya mendidih.
Reno yang mendengar keributan dari dalam segera masuk dan memisahkan mereka berdua, jika tidak karena Reno menghentikannya mungkin Aldi akan dihajarnya habis - habisan.
" lihatlah, apa laki - laki yang tak bisa mengontrol emosinya dan mudah marah seperti ini yang ingin kau jadikan pengganti diriku, apa kau yakin dengan pilihanmu hah... apa kau tidak takut jika anak kita nanti akan menjadi pelampiasan amarahnya", Aldi menunjuk Arsya yang sedang dipegang oleh Reno, dengan sombongnya Aldi mencoba untuk mempengaruhi Sila.
" cukup... cukup mas, hentikan... jangan bicara seolah kamu laki - laki lemah lembut mas, setidaknya Arsya yang selama ini menjaga kami, dimana kamu mas ketika kami butuh seseorang untuk melindungi kami, saat aku dan anak - anak butuh tempat tinggal, butuh makan... dimana!, apa kamu pikir selama ini kami hidup enak, tidak menderita karena perbuatan mu, apa kamu tahu, karena dirimu kedua anakku harus masuk rumah sakit karena trauma atas sikapmu, dan Arsya yang bukan siapa - siapa datang membantuku, sedangkan kamu dimana mas, dimana?, teriak Sila yang sudah tak tahan lagi dengan sikap kedua laki - laki dihadapannya.
" pergi dari sini mas, dan jangan berharap apapun dariku, pintu hatiku sudah tertutup untukmu", lanjut Sila.
" kau mengusirku!, biar bagaimana pun aku ayah dari anak - anakmu, seharusnya kau tak perlu membelanya, baiklah jika itu pilihanmu, jangan salahkan aku jika aku akan menuntut hak asuh atas kedua anak - anakku", Jelas Aldi marah dan meninggalkan ruangan itu.
" kau tak bisa seenaknya mengambil mereka dariku, mereka anak - anakku, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi", teriak Sila pada Aldi yang sudah keluar dari ruang CEO.
Sila terduduk lemas mendengar ancaman Aldi, ia tahu jika Aldi tak akan main - main dengan ucapannya, ia tak dapat membayangkan jika hidup tanpa kedua anaknya, lebih baik di pergi untuk selamanya jika hal itu terjadi.
Arsya dan Reno menatap iba pada Sila, ia tahu bagaimana beratnya Sila memperjuangkan hidup kedua buah hatinya tanpa suami disampingnya, dan kini laki - laki itu datang ingin mengambil sebagian hidupnya dengan paksa dan tanpa rasa iba.
__ADS_1
Arsya duduk di samping Sila dan memeluk sekretarisnya yang selama ini selalu menganggu hatinya, ia tak ingin melihat wanita yang diam - diam bisa mengisi hatinya itu merasa sendiri menghadapi beratnya cobaan hidup.
Sila menangis di pelukan Arsya, hatinya terasa sakit dan sangat kuatir akan hari esok, sanggupkah ia berpisah dengan buah hatinya jika Aldi benar - benar ingin mengambil mereka darinya.
" tenanglah, aku tak akan membiarkan siapa pun untuk mengambil Adit dan Dania dari hidupmu, aku janji padamu, apapun akan aku lakukan untuk membuat kalian bahagia", Arsya berusaha menghibur Sila agar wanita itu merasa lebih tenang.
Sila menghentikan tangisnya dan menarik diri dari pelukan Arsya, ia mencoba mencari kebohongan dari mata Arsya atas apa yang ia ucapkan, namun di sana tidak ada kebohongan sedikitpun justru kejujuran yang ada.
" apa kau meragukan kemampuanku, aku adalah CEO Mhs Group yang memiliki banyak kekuatan dan perusahaan, jadi kau jangan terlalu kuatir atas ancaman mantan suamimu", lanjut Arsya lagi.
Sila merasa tidak pantas mendapat begitu banyak bantuan dari Arsya, ia harus sadar diri jika antara ia dan Arsya tidak terikat oleh sesuatu, dan ia tak ingin jika Arsya masuk terlalu jauh dalam masalahnya.
" anda sudah terlalu banyak membantu saya Tuan, saya tidak pantas untuk mendapatkan itu semua, sedangkan saya masih belum bisa membuka diri saya untuk anda", jelas Sila dengan penuh perasaan bersalah dan menyesal.
" kau tak perlu memikirkan itu, aku akan menunggumu hingga kau bisa membuka hatimu, kedua orang tua kita dulu ingin sekali kita bersatu, itu sebabnya mereka menjodohkan kita, tapi takdir tak pernah mempertemukan kita hingga mereka telah tiada, dan mungkin ini jalan yang diberikan Allah pada kita agar kita saling mengenal dan menyanyangi", jawab Arsya dengan penuh rasa kasih dan sayang.
sungguh Sila merasa sangat bersalah pada laki - laki yang begitu baik padanya, meski dari awal hubungan mereka sangat menjengkelkan Sila karena sikap Arsya yang kekanak - kanakan dan sangat posesif padanya, namun semakin kesini Arsya tumbuh menjadi laki - laki yang bertanggung jawab dan dewasa meski kadang - kadang sangat manja dan cemburuan.
__ADS_1