Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 73


__ADS_3

Arsya merasa sangat frustasi untuk menunggu hari esok, tak pernah sehari pun ia lewati tanpa bersama Sila, bahkan hingga keluar negeri ia akan selalu mengikutinya.


" kenapa hari ini terasa lama sekali, bahkan hari ini baru jam 4 sore, Sila pasti sudah bersiap - siap untuk pulang", batin Arsya kesal pada dirinya sendiri dan menyugar rambutnya dengan kasar.


" kirimkan foto - foto kegiatan Sila padaku!, perintah Arsya pada anak buahnya yang selalu menjadi bayang - bayang Sila.


" baik Tuan ", jawab anak buahnya dari seberang sana, lalu Arsya memutuskan panggilannya.


Arsya benar - benar merasa gelisah dan tak bisa dengan tenang menikmati hari liburnya di rumah, bahkan Asisten rumah tangganya menjadi pelampiasan atas kekesalannya.


ting... suara pesan masuk melalui handphone Arsya, ia langsung membukanya dan melihat pesan itu, foto - foto Sila menghiasi layar handphone Arsya, dan itu sedikit mengurangi rasa frustasinya.


" mengapa dia kelihatan tidak bersemangat, apa dia sakit?, guman Arsya.


Arsya langsung menghubungi Reno yang masih betah berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya, menjadi Asisten seorang Arsya bukanlah seenak yang orang kira, bahkan Reno tidak punya banyak waktu untuk urusan pribadinya, itu mengapa hingga berumur 33 tahun Asistennya itu masih menjomblo.


" apa kau masih di kantor?, tanya Arsya pada Asistennya.


" ya Tuan, saya masih ingin menyelesaikan pekerjaan saya", jawab Reno pada sang bos.


" apa yang dilakukan Sila seharian di kantor, kenapa dia nampak tidak bersemangat dan kelihatan sedih, apa dia sedang sakit?, tanya Arsya tanpa memberikan jeda seperti seorang ibu - ibu yang kehilangan Tupperware nya.


" Tolong satu - satu Tuan, jika bertanya jadi saya tidak bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu ", protes Reno yang pusing dengan pertanyaan yang tidak bermutu dari Arsya.


" jawab pertanyaan ku cepat, jangan biarkan aku menunggumu", kesal Arsya.


" Nona Sila bekerja seperti biasa Tuan, jika maksud Tuan, Nona tidak bersemangat dan sedih saya tidak tahu Tuan, karena saya berada di ruangan saya dan Nona berada di ruangannya, kelihatannya Nona sehat - sehat saja Tuan", jelas Reno yang ingin segera terbebas dari interogasi dari sang bos tentang hal yang seharusnya tidak melibatkan dirinya.

__ADS_1


Arsya memutuskan telponnya secara sepihak yang membuat Reno merasa kesal.


" kalian yang sedang jatuh cinta, mengapa selalu aku yang kalian repotkan ", umpat Reno.


Reno segera melanjutkan pekerjaannya, ia tak ingin mengambil pusing tentang urusan mereka berdua, yang membuat semakin menambah pekerjaannya.


sedangkan Arsya merasa kesal karena tidak bisa berbuat apa - apa, jika dia melanggar peraturan Oma Cintya pasti Oma akan melaksanakan ancamannya, dan Arsya tak ingin hal itu terjadi.


untuk mendinginkan hati dan pikirannya yang sedang panas dan frustasi , kerena tak bisa bertemu dan berhubungan meski hanya lewat handphone, Arsya kembali berenang dan berendam dirinya di dalam kolam renangnya.


" kau lihat anak itu, dia sudah berenang dan berendam sebanyak 3 kali dalam sehari ini, apa dia tidak punya pekerjaan lain, dulu aku sangat memanjakannya sehingga anakmu yang menjadi korbannya", ucap Oma Cintya pada Dion Asistennya, yang melihat kegiatan Arsya melalui cctv di kamarnya.


" Tuan muda seperti sedang frustasi Nyonya, karena peraturan yang anda berikan, yang tidak boleh menemui dan menelpon Nona Sila", jawab Dion pada Oma Cintya.


Oma Cintya menarik napasnya dalam - dalam, ada sedikit kekhawatiran di wajah tuanya tentang cucu kesayangannya.


" bantu Sila untuk memenangkan kasus perebutan hak asuh Dania, lakukan dengan rapi tanpa meninggalkan jejak agar Sila dan Arsya sekalipun tidak menyadari campur tangan kita, dan pantau terus kegiatan mantan suami Sila agar kita tahu kelemahannya ", titah Oma Cintya pada Dion sekretarisnya.


" baik Nyonya, akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin ", jawab Dion dan berlalu meninggalkan kamar Oma Cintya.


Arsya masih merendam tubuhnya didalam air kolam renang yang dingin, namun hal itu tak mampu membuat hati dan pikirannya merasa lebih baik dari sebelumnya.


selama satu jam merendam tubuhnya, akhirnya Arsya memutuskan untuk mengakhiri aktifitasnya merendam tubuhnya di dalam kolam renang, lalu segera mengeringkan tubuhnya dan menganti pakaiannya.


" aku merindukanmu Sila, kenapa hanya sehari tak bersamamu seolah duniaku hancur", guman Arsya yang melihat kembali foto - foto yang dikirimkan oleh orang suruhannya.


karena lelah berenang, membuat Arsya tertidur sambil memeluk handphonenya.

__ADS_1


**


Reno pulang pukul tujuh di saat penghuni Mansion sedang menyantap makan malamnya.


" kau baru pulang, bergabunglah bersama kami, aku yakin kau pasti belum makan malam", ucap Oma Cintya pada Reno.


Reno melihat meja makan itu dan melihat ayahnya yang menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan jika benar apa yang dikatakan oleh Oma Cintya.


Reno tak melihat Arsya berada ditengah - tengah mereka, kemanakah bos bucin nya itu berada, sehingga melewatkan makan malamnya.


" bagaimana pekerjaanmu di kantor, apa ada masalah?, tanya Oma Cintya pada Reno.


" semua berjalan lancar Nyonya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan " jawab Reno sopan.


" bagaimana keadaan Sila hari ini ?, tanya Oma Cintya.


" Nona seperti kurang bersemangat tidak ada Tuan Arsya bersamanya, bahkan Nona tidak memakan makan siangnya karena Tuan tidak memberikan kabar, Nona juga bertanya pada saya tentang Tuan ", jelas Reno.


Oma Cintya nampak tersenyum mendengar penjelasan Reno, dia yakin jika Sila benar - benat mencintai Arsya cucunya.


" lanjutkan makan malam mu, dan bersantai lah sejenak bersama ayahmu, aku yakin kalian saling merindukan satu sama lain", ucap Oma Cintya lalu meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


Oma Cintya menatap Foto Almarhumah putrinya yang sudah meninggalkannya sejak lama.


" sebentar lagi aku akan memenuhi keinginanmu untuk menikahkan Arsya dan Sila, andai kau masih hidup, kau pasti akan sangat bahagia", batin Oma Cintya sambil memeluk foto putrinya yang tak lain adalah mama Arsya.


raut wajah sedih Oma Cintya mengenang putri semata wayangnya yang meninggalkannya karena sebuah kecelakaan, membuat ia meneteskan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2