
Aldi memukul stir mobilnya dengan kuat untuk meluapkan emosinya, ia mengibas - ngibaskan tangannya yang terasa sakit akibat terlalu kuat menghantam stir mobil. rasa cemburu yang masih bersarang di hatinya membuatnya sulit meredam emosinya, bayangan Arsya yang memperlakukan Sila layaknya ratunya terus bermain di benaknya, mengingatkan dirinya dulu di awal pernikahan mereka.
tak terasa sudah setengah jam Aldi berdiam diri di dalam mobilnya, setelah merasa hatinya lebih tenang ia melajukan mobilnya menuju kantornya.
" di mana Sonia ", tanya Aldi pada asistennya saat sampai di ruangannya.
" istri anda sudah pulang Tuan, sepertinya ia sangat lelah ", jawab Asistennya.
" ini surat yang sudah ditanda tangani oleh Nyonya Sonia, Tuan", asisten itu menyerahkan map yang berisi surat perjanjian antara Aldi dan Sonia.
sebenarnya Aldi tak ingin melakukan ini semua, tapi tak ada jalan lain untuk membuat Sonia jera dan patuh padanya, biar bagaimana pun di hatinya masih ada rasa cinta untuk mantan sekretarisnya, meski rasa itu masih lebih besar untuk Sila yang kini baru disadarinya.
" bagus, pilihan yang bagus, ternyata dia lebih memilih tetap menjadi istriku dari pada hidup susah berpisah denganku ", batin Aldi dan tersenyum melihat surat pernyataan itu.
" aku butuh bantuan mu, aku ingin tahu di mana Sila dan anak - anakku tinggal ", Aldi menghubungi Vino untuk mencari informasi dimana rumah Sila.
" aku memang laki - laki bodoh, yang meninggalkanmu hanya karena nafsu dan rasa egois, tapi sekarang aku tak akan menyerah begitu saja demi untuk mendapatkan mu kembali ", guman Aldi yang membayangkan wajah cantik mantan istrinya.
***
Sore ini Sila sudah diperbolehkan untuk meninggalkan rumah sakit milik Arsya, ia begitu bahagia karena akan menghirup udara bebas dan bisa berkumpul kembali dengan kedua buah hatinya, yang sudah beberapa hari tidak bertemu.
" apa yang kau lakukan " tanya Arsya yang melihat Sila begitu sibuk mengemasi barang - barangnya.
" aku hanya ingin mengemas barang - barang ku, agar tidak ada yang tertinggal nanti". jelas Sila pada Arsya.
Arsya mendekati Sila yang masih sibuk dengan pekerjaannya, laki - laki itu memeluk Sila dari belakang, yang membuat Sila terkejut dan menghentikan aktivitasnya.
Arsya membalikkan tubuh Sila agar menghadapnya, Arsya membelai anak rambut yang menutupi mata kekasihnya dengan lembut .
" aku tidak ingin kau melakukan apapun, aku tidak ingin kau capek dan kembali sakit, biarkan barang - barang itu, nanti akan ada orang yang membereskannya, dan aku tak menerima bantahan apapun" ucap Arsya lembut namun penuh ketegasan.
Sila menelan Saliva nya dengan susah, karena mendapat peringatan tegas dari Arsya. namun hal itu membuat hatinya bahagia, karena perhatian dan perlakuan Arsya yang begitu baik padanya.
__ADS_1
Arsya menarik tangan Sila lalu mengandeng nya, sedangkan Sila hanya bisa menuruti kemana Arsya membawanya. Arsya membawa Sila menaiki lift khusus untuk keluarganya dan menuju mobilnya berada.
" kita mau kemana ", tanya Sila ketika sudah berada di salam mobil Arsya.
Arsya menatap lembut kekasihnya lalu mengecup kening, pipi dan sekilas mengecup bibir Sila dengan tersenyum.
" aku akan membawamu ke tempat yang kau inginkan ", ucap Arsya yang masih menyisakan tanda tanya di hati Sila.
Sila membalas senyuman Arsya, dan tak ingin kembali bertanya meski hatinya masih bingung kemana Arsya akan membawanya.
mobil melaju secara perlahan menembus jalanan ibu kota, dan semakin lama berubah kadar kecepatannya. Sila bernapas lega karena masih bisa menikmati pemandangan luar yang indah, tidak seperti saat di rumah sakit yang membuatnya jenuh dan bosan.
" tunggu disini, aku akan membeli sesuatu ", jelas Arsya pada Sila dan keluar meninggalkan Sila seorang diri.
Arsya menghentikan mobilnya di toko roti untuk membeli beberapa roti untuk persediaan di rumah Sila, Arsya yakin jika di rumah Sila tidak ada persediaan makanan karena sakit selama beberapa hari yang lalu.
setelah selesai membeli sekatong besar roti kering dan basah , Arsya segera kembali ke mobilnya, karena tak ingin Sila terlalu lama menunggunya.
" apa aku lama meninggalkanmu ", tanya Arsya saat sudah berada dalam mobilnya.
" untuk persediaan jika lapar ", jawab Arsya singkat dan membelai pipi Sila dengan mesra.
Sila merasa menjadi wanita paling bahagia saat ini, perlakuan Arsya yang manis, perhatian dan kelembutannya membuat dadanya semakin berdebar tak menentu, menyesal dulu ia menolak laki - laki yang benar - benar mencintainya.
Arsya mengemudikan mobilnya dengan satu tangan, dan satu tangannya yang lain terus menggenggam tangan Sila, seolah tak ingin melepaskannya walau hanya sesaat.
" ayo turun, apa kau ingin kita tidur di dalam mobil ", ungkap Arsya menggoda kekasihnya.
Sila belum menyadari jika sekarang dia berada di depan rumahnya, karena ia tertidur saat dalam perjalanan menuju rumahnya.
Sila menggeliatkan tubuhnya agar tidak kaku dan mengumpulkan kesadarannya, lalu turun dari mobil, saat Arsya membukakan pintunya.
" terima kasih sayang ", ucap Sila lalu memeluk kekasihnya, ketika menyadari jika Arsya membawanya pulang kerumahnya.
__ADS_1
Arsya hanya tersenyum dan mengecup kening Sila, mendengar ucapan Sila.
" mama... ", teriak Dania dan berlari menuju mamanya.
Sila langsung melepaskan pelukannya pada Arsya ketika mendengar teriakan Dania putrinya, dan menyambut gadis kecil itu dalam dekapannya.
" apa mama sudah sembuh " tanya Dania ketika melihat sang mama.
" tentu saja sayang, lihatlah mama sudah bisa berjalan dengan baik ", canda Sila pada putrinya.
Dania kembali memeluk Sila dan menyalurkan kerinduan pada sang mama.
" aku sangat takut ketika melihat mama tidak bangun - bangun ketika tidur, meski kami sudah berusaha untuk membangunkan Mama, please ..... ma, jangan tinggalin Dania dan bang Adit, kami sangat takut kehilangan mama ", ucap Dania sendu.
mendengar ungkapan hati Dania, membuat Sila tak mampu menahan air matanya, ia peluk erat gadis kecilnya yang selalu menjadi semangat hidupnya.
" hai cantik.... biarkan mama masuk dulu, nanti baru lanjutin kangen - kangen nya, kasian mama baru pulang dari rumah sakit" jelas Arsya pada Dania lalu menggendong gadis kecil itu dalam pelukannya.
Sila disambut oleh sahabatnya Vania dan putra sulungnya Adit. Sila memeluk putranya dan menciuminya karena rasa rindu setelah beberapa hari tidak bertemu, lalu berpindah pada Vania sahabatnya yang selalu dengan rela membantunya.
" bagaimana keadaanmu sekarang " tanya Vania.
" aku sudah sembuh dan lebih baik, jangan kuatirkan aku ", jawab Sila lalu mendudukkan bokongnya di sofa.
" syukurlah jika kau sudah sehat kembali, mereka sangat mengkhawatirkan mu, dan selalu menanyakan tentang keadaanmu " jelas Vania menggambarkan kekhawatiran kedua buah hati Sila.
Sila merasa bahagia dikelilingi oleh orang - orang yang menyayanginya dengan tulus. setelah bercengkrama dan saling melepas rindu, Sila merasakan perutnya Yang lapar lalu menuju meja makan untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan, ntah mengapa setelah keluar dari rumah sakit, nafsu makanya bertambah menjadi 2x lipat.
" apa kau yang memesan ini semua Van ", tanya Sila pada Vania ketika mendapati meja makannya penuh dengan makanan lezat.
" tentu tidak, Tuan Arsya yang mengirimkan ini semua, kami hanya menyiapkan saja ", jelas Vania pada sahabatnya.
mendengar yang dikatakan Vania, membuat Sila semakin mencintai Arsya, laki - laki itu tahu apa yang ia butuhkan tanpa bertanya terlebih dahulu.
__ADS_1
" terima kasih ", ucap Sila yang ditujukan pada Arsya, namun tak menambahkan panggilan sayangnya karena malu pada Vania dan anak - anaknya.
Arsya hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan kekasihnya. Arsya tahu jika Sila masih malu memanggilnya dengan panggilan sayang didepan sahabat dan kedua anaknya.