
" bagaimana Dania bisa sama kamu Van?, tanya Sila pada sahabatnya setelah tahu jika Dania bersama Vania dan berada di Mansionnya.
flashback on
Vania sedang berada disebuah Restoran bersama teman sosialitanya, mereka sedang asyik bersenda gurau dan membahas hal - hal yang tidak begitu penting.
sekilas Vania melihat gadis kecil yang sangat familiar baginya, dan berlari sambil menangis, dan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.
" Dania... benarkah itu Dania, tapi tidak mungkin aku salah lihat", batin Vania yang sedikit ragu dengan penglihatannya.
Vania langsung keluar untuk memastikan penglihatannya, dan mencari tahu apa yang sedang terjadi.
" jeng mau kemana?, tanya salah satu teman sosialitanya yang melihat Vania keluar tanpa mengatakan sesuatu kepada mereka.
" aku ada urusan sebentar Jeng, kalian lanjutkan saja makannya, aku buru - buru" teriak Vania pada temannya.
Vania segera mengejar gadis kecil yang menurut penglihatannya adalah Dania. meski sempat tertinggal agak jauh tapi Vania masih bisa melihat tubuh kecilnya yang sedang menuju keluar Mall.
" Dania... Dania... Dania", panggil Vania untuk membuktikan bahwa gadis kecil itu memang benar Dania.
mendengar namanya dipanggil Dania menghentikan langkahnya dan berbalik melihat siapakah yang sedang memanggilnya.
" mama Vania" ucap Dania dan langsung berlari memeluk wanita yang sudah dianggapnya sebagai mamanya.
Vania membalas pelukan gadis kecil itu dan membiarkannya menangis dalam pelukannya.
" ada apa?, kenapa kamu berlari sambil menangis, di mana mama dan Daddy mu", tanya Vania pada putri angkatnya, namun yang ditanya hanya menangis.
__ADS_1
Vania membawa Dania menuju mobilnya, lalu membawa gadis kecil itu ke Mansionnya, karena tak ingin semua mata melihat pada mereka.
di dalam mobil dan selama perjalanan Dania tak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menangis dan menangis, membuat Vania merasa khawatir akan mental gadis kecil itu.
sampai di Mansion nya, Vania langsung membawa Dania ke kamarnya yang biasa ia tempati ketika menginap di sana.
" mama akan menghubungi mamamu dan Daddy mu, kalau kau bersamaku", ucap Vania segera mengambil handphonenya di dalam tas untuk menghubungi sahabatnya.
" jangan mama, aku hanya ingin di sini sementara waktu saja", pinta Dania dengan raut wajah sedih.
tak tega melihat wajah sedih putri angkatnya, Vania pun menuruti permintaan putrinya. lalu membiarkan Dania yang masih melanjutkan tangisnya, sedangkan Vania hanya diam menunggu Dania.
lama Vania menunggu namun Dania tak kunjung menghentikan tangisnya, dan hal itu tentu saja membuat Vania merasa khawatir sekaligus kesal melihat sikap putrinya.
" tolong berhentilah menangis Dania, jangan buat mama khawatir, jika kau tak berhenti menangis mama akan menghubungi Daddy mu kalau kamu bersamaku", ancam Vania pada Dania.
" Dania, mama dan Daddy mu pasti sangat mengkhawatirkan dirimu, karena kamu pergi tanpa memberitahu mereka, mama yakin Daddy mu pasti sudah menyuruh orang untuk mencari mu, jadi biarkan mama memberitahukan pada mereka jika kamu berada disini, jika kamu masih ingin disini tidak apa - apa yang penting mereka tahu jika kamu baik - baik saja", Vania menasehati Dania, agar mengijinkannya untuk memberitahukan keberadaannya pada Sila dan Arsya.
Dania akhirnya pasrah dan mengijinkan Vania untuk menghubungi Daddy nya dan memberitahukan keberadaannya saat ini
flashback off
Sila mendengarkan cerita dari sahabatnya, ia tahu jika putrinya belum siap untuk mendengar dan melihat perdebatannya dirinya dengan papanya. namun Dania harus tahu yang sebenarnya sebelum Aldi benar - benar nekat untuk mengambilnya dari dirinya.
" apa yang harus aku lakukan sekarang Van?, tanya Sila sedih pada sahabatnya.
Vania mengerti kekhawatiran sahabatnya saat ini, apalagi Dania dulu pernah mengalami trauma karena perceraian mereka, dan tak ingin hal itu terulang lagi.
__ADS_1
" jika menurutku, sebaiknya kamu harus bicara jujur pada Dania, biar bagaimana pun dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, bicarakan dari hati ke hati dan perlahan, aku yakin Dania anak yang cerdas, dia akan mengerti masalah yang kamu hadapi, dan kamu juga sedang mempertahankan dia bukan menyerah begitu saja atas tuntutan Aldi, aku sarankan juga agar kamu memberitahukan status pernikahanmu dengan Arsya pada Aldi, agar dia tak selalu merendahkan mu, aku yakin Arsya punya kuasa dan cara untuk menghadapi Aldi" nasehat Vania pada sahabatnya, agar ia mau menerima bantuan dari Arsya dalam menghadapi Aldi.
Sila mendengarkan nasehat sahabatnya dan mulai mempertimbangkannya, mungkin sudah saatnya jika Aldi mengetahui pernikahannya dengan Arsya, agar Aldi tidak merendahkan dirinya.
" bantu aku untuk bicara pada Dania Van" pinta Sila pada Vania.
Tampak jelas kekhawatiran dimata Sila, ia takut jika masa - masa trauma putrinya akan terulang kembali, sudah cukup rasa itu dan Sila tidak ingin melihat putrinya syok dan sedih.
" kita akan sama - sama bicara pada Dania, jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi Sil, itu akan semakin membuatmu tertekan dan stress", jelas Vania pada sahabatnya.
Sila hanya mengangguk mendengar nasehat sahabatnya, dan mencoba menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.
Sila, Arsya dan Sila menemui Dania untuk membicarakan perebutan hak asuh Dania antara Sila dan Aldi. mereka mencoba menjelaskan dengan selembut dan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh Dania tentang Aldi yang ingin mengambil hak Asuh dirinya, Sila juga menjelaskan bahwa ia tak akan begitu saja membiarkan hak asuh itu jatuh pada Aldi, karena Sila tak ingin berpisah dengan Dania, apapun yang terjadi Sila akan berjuang untuk mempertahankan hak asuh yang memang sudah jatuh ke tangannya sejak mereka bercerai.
sedangkan Arsya mencoba menjadi suami dan Daddy yang baik, yang ingin keluarganya tetap utuh, dan akan berusaha untuk tetap mempertahankan putrinya.
" kenapa tiba - tiba Papa ingin mengambilku dari mama?, tanya Dania yang membuat ketiga orang dewasa itu saling menatap.
Sila menatap sedih putrinya, tak mungkin ia harus menjawab jika itu karena dirinya yang tak ingin di ajak rujuk oleh Papa mereka, egois memang kedengarannya namun hati tak pernah bisa dipaksakan.
" mama tidak tahu sayang, itu hanya Papa lah yang tahu jawabannya", jawab Sila lembut pada putrinya.
" sayang dengerin mama, kami yang ada disini itu sayang banget sama Dania, jadi Dania jangan mikir yang macem - macem, masalah mama sama Papa, biar mama dan Daddy yang cari jalan keluarnya, Dania gak perlu mikirin itu, anggap saja Papa itu sayang banget sama Dania, yang ingin tinggal sama Dania", jelasnya lagi pada Dania, agar gadis kecil itu tidak begitu memikirkan masalah orang tuanya.
" tapi Dania masih takut sama Papa ma, apa lagi dengan istri Papa, Dania gak mau tinggal bersama Papa", ucap Dania sedih.
Sila memeluk putrinya dengan sedih, saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin memenangkan kasus ini agar Dania bisa tetap tinggal bersamanya.
__ADS_1