Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bab 94


__ADS_3

Arsya membawa Dania untuk bertemu dengan Aldi, seperti yang sudah mereka sepakati. Arsya membawa putri serta istrinya menuju Resto milik Sila, karena Aldi ingin bertemu mereka di sana.


sampai di Resto, Sila membawa putri dan suaminya langsung menuju ruangan pribadinya, mereka datang lebih awal dari waktu yang sudah mereka sepakati. sebenarnya Sila sangat tidak menginginkan pertemuan ini, namun demi putrinya dan karena atas permintaan Aldi terpaksa Sila mengikutinya.


waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Aldi juga sudah datang untuk menepati janjinya bertemu dengan keluarga mantan istrinya, pupus sudah harapannya untuk dapat rujuk kembali dengan Sila, yang kini sudah memiliki pasangan yang lebih segalanya dari dirinya.


Arsya dan Sila mengajak Aldi serta putrinya untuk menikmati makan siang mereka, sepasang suami istri itu menikmati makan siang mereka dengan hikmat, dan Sila melayani suaminya dengan sangat sempurna karena itu adalah kebiasaannya sekaligus kewajibannya. Aldi menyaksikan kegiatan sepasang suami istri yang berada di depannya, rasa lapar yang sejak tadi dirasa seakan hilang entah kemana, melihat kebahagiaan mantan istrinya, dulu Sila juga memperlakukan dirinya sama seperti yang dilakukannya pada Arsya, namun karena tak tahan dengan godaan sang penggoda ia menyia - nyiakan istri dan anak - anaknya.


" apakah dengan menatap istriku seperti itu, anda akan merasa kenyang Tuan?, ucap Arsya menyindir Aldi yang sedari tadi menatap Sila.


Arsya merasa geram karena Aldi menatap Sila terus menerus, jika tidak karena putri sambungnya, Arsya tak mungkin membawa Sila ikut bersamanya. Arsya tau arti tatapan Aldi pada istrinya, karena ia juga seorang laki - laki, dan ingin rasanya ia mencongkel mata Aldi agar tak bisa menatap Sila lagi.


Aldi merasa salah tingkah dan malu karena tertangkap basah oleh Arsya, ntah kenapa sulit sekali untuk mengiklaskan mantan istrinya bersama laki - laki lain, justru cinta ini semakin bersemi ketika wanita itu sudah tidak lagi menjadi miliknya, dan hanya rasa penyesalan yang sekarang bersarang di hatinya.


Sila tak ingin mengambil pusing tentang Aldi dan suaminya, ia melanjutkan makan siangnya tanpa beban, Sila terlalu asyik dengan hidangan seafood dihadapannya yang menjadi menu favoritnya.


" makannya jangan seperti anak kecil Anya", ucap Arsya yang mengelap ujung bibir istrinya dan mengecup mesra kepala Sila.


Sila hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar ucapan suaminya lalu melanjutkan makan siangnya kembali.

__ADS_1


sedangkan Aldi tenggorokannya merasa tercekat dan sulit menelan makanannya melihat suami istri itu yang begitu romantis dan mesra, tidak seperti dirinya memiliki seorang istri yang hanya bisa menghabiskan uangnya dan pandai di ranjang saja, tanpa bisa melakukan hal lainnya. tidak seperti Sila yang serba bisa dalam segala hal.


" apa yang ingin kita bahas saat ini?, tanya Aldi pada pasangan yang ada didepannya, dan memilih menyudahi makan siangnya karena tak ingin lebih lama melihat kemesraan pasangan itu lebih lama.


Sila menghentikan makan siangnya dan menatap Aldi, mendengar mantan suaminya itu berbicara.


" Dania yang ingin bertemu denganmu dan berbicara padamu, kami hanya ingin mendampinginya saja", jawab Sila pada mantan suaminya.


Aldi menatap putrinya yang duduk disampingnya dengan kepala yang masih menunduk.


" Niah, apa kau ingin kami membiarkan kalian berdua saja disini?, tanya Sila pada putrinya, agar gadis kecil itu bisa berbicara dengan tenang dan nyaman bersama papanya.


" katakan pada Papa, apa yang ingin Dania sampaikan, jangan takut dan sungkan pada Papa " ucap Aldi pada putrinya.


Dania menatap wajah tua Papanya yang seperti tidak terurus, badan yang sedikit kurus dan mulai tumbuh rambut - rambut kecil diwajahnya, ingin rasanya Dania memeluk Papa yang selama ini ia rindukan, tapi bayangan masa lalu selalu menghantuinya yang membuatnya merasa takut untuk berdekatan dengan Papa kandungnya.


" apa Papa masih menganggap ku sebagai Putrimu?, tanya Dania pada Aldi, sekaligus hal itu membuat Aldi tertampar, tak disangka gadis kecil disampingnya memberinya pertanyaan seperti itu.


Aldi menatap putri kecilnya yang sekarang beranjak menjadi remaja, ntah sudah berapa tahun ia tak pernah memeluk atau sekedar berbicara pada gadis kecil itu, yang dulu sering ditimang dan digendong olehnya.

__ADS_1


" Tentu kau adalah Putriku sayang, dan sampai kapan pun kau adalah Putriku, tak ada seorang pun yang bisa merubah itu", jawab Aldi dengan menahan rasa sesak di dadanya.


Dania menatap wajah Papanya, tak terasa air matanya mulai menetes di pipinya. melihat sang putri yang dirundung sedih Sila ingin memeluknya namun Arsya menghentikannya karena tak ingin menganggu Dania.


" jika Papa menganggap ku sebagai putrimu, kenapa kau tak ingin aku hidup bahagia?, lanjut Dania dengan wajah sedihnya.


Aldi benar - benar dibuat bingung dengan pertanyaan putrinya, dirinya telah gagal menjadi seorang Papa dan hanya memikirkan keegoisannya demi memenuhi nafsunya.


" maafkan Papa sayang, sungguh Papa tidak berniat seperti itu, Papa hanya ingin kembali dekat dengan anak - anak Papa, maafkan Papa yang sudah meninggalkan kalian, yang sudah menyakiti kalian, tapi berikan Papa kesempatan untuk dekat dan bersama dengan kalian, Papa menyesal.. ", ucap Aldi sambil menangis dan memeluk putri kecilnya.


kesalahan di masa lalu membuatnya merasakan kegagalan sebagai suami dan seorang Papa, dan hal itu menyakiti dan melukai jiwa raganya. dan Aldi melimpahkan kesalahan itu pafa istrinya Sonia, jika saja dia tak tergoda dengan sekretarisnya itu, mungkin saat ini ia sudah bahagia dengan istri dan anak - anaknya. ditambah dengan Sonia yang hingga saat ini belum bisa memberinya keturunan semakin membuatnya merasa bersalah pada kedua anaknya yang dulu ia sia - siakan.


" jika Papa masih menganggap ku sebagai Putrimu jangan buat Mamaku menangis dan bersedih lagi, biarkan kami hidup bahagia bersama, aku akan menemui dan ikut dengan Papa kapan pun yang Papa mau, tapi tidak untuk tinggal bersama Papa karena aku tidak ingin tinggal dengan Tante yang sudah membuat Papa meninggalkan aku dan mama", jelas Dania yang membuat Aldi dan Sila semakin larut dalam kesedihan, putri kecilnya ternyata diam - diam memikirkan kebahagiaan sang mama.


" jika Papa masih membuat mama sedih dan menangis, aku tidak ingin bertemu lagi dengan Papa dan jangan coba - coba untuk menemui ku", lanjut Dania


Aldi hanya bisa pasrah atas permintaan putrinya, memaksakan kehendak hanya bisa membuat dirinya semakin jauh dari putrinya dan dibenci olehnya, dan mungkin ia harus belajar untuk merelakan mantan istrinya bahagia bersama yang lain.


" baiklah, Papa akan berusaha untuk tidak membuat mamamu bersedih lagi, tapi Papa minta kapan pun Papa ingin menemui mu, Papa harap Dania tidak takut dan menolak Papa lagi", pinta Aldi pada putrinya, dan langsung disetujui oleh Dania.

__ADS_1


__ADS_2