Single Mother Kesayangan Sang Duda

Single Mother Kesayangan Sang Duda
bB 85


__ADS_3

waktu terus berlalu memaksa Sila untuk menguatkan hati dan mentalnya untuk menghadiri sidang untuk mempertahankan hak asuh atas putrinya Dania. sedih yang ia rasakan harus berseteru dan kembali bertemu dengan mantan suaminya yang terus menerus menganggu hidupnya.


" apa kamu sudah siap Anya, jika sidang kali ini kalian tetap kesulitan, maka aku yang akan turun tangan, dan aku tidak terima sebuah penolakan", ucap Arsya disela - sela sarapan paginya.


Sila hanya diam mendengar ucapan Arsya, ia tak berani untuk membalas ucapan suaminya, jika sudah memasang wajah dingin dan datarnya.


" kenapa kau hanya diam saja, apa kau masih ingin menolak bantuan ku, sekarang aku adalah suamimu, apapun yang menyangkut tentang dirimu itu bersangkutan juga denganku, dan mungkin juga sudah waktunya jika Aldi tahu status kita" ucap Arsya dingin namun tegas.


Sila bersusah payah menelan salivanya, mendengar ucapan suaminya, jiwa bosnya pagi ini ia terapkan pada istrinya.


" semua terserah padamu, aku hanya ingin Dania tetap di sampingku, dan apapun yang kamu lakukan nanti, aku hanya ingin Aldi tetap hidup, biar bagaimana pun dia Papa dari anak - anakku dan kamu adalah Daddy nya, aku tidak ingin mereka membencimu jika kau menyakiti Papa mereka", jelas Sila pada suaminya agar tidak berpikir negatif padanya.


" aku tidak akan menyakiti atau melukai Aldi, tapi aku akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik kedua anak - anaknya, dan berhenti untuk mengusik mu, sekarang kau adalah istriku dan aku tidak ingin siapa pun menganggu mu termasuk Papa dari anak - anakmu", tegas Arsya pada Sila yang membuat Sila merasa merinding mendengarnya.


Arsya segera pergi meninggalkan meja makan dan istrinya, ia memang sedikit kesal karena tidak bisa leluasa untuk memberi pelajaran pada Aldi, mengingat permintaan istrinya.


Reno yang melihat muka masam bosnya hanya bisa diam seribu bahasa, ia takut jika bicara sedikit saja akan menjadi pelampiasan amarah sang bos.


" apa suamimu sudah berangkat?, tanya Vania pada sahabatnya, karena kondisi rumah yang sepi.

__ADS_1


" sudah, ayo kita berangkat", ajak Sila pada sahabatnya.


" kau sama sekali tidak ada basa basinya, paling tidak tawari aku untuk minum" ucap Vania sambil cemberut karena datang langsung diajak oleh Sila untuk berangkat.


Sila hanya tersenyum melihat sahabatnya, bukan tidak ingin berbasa basi tapi Sila tak ingin terlambat sampai di pengadilan.


" kau ini seperti orang susah saja, apa suamimu sudah tidak bisa lagi memberimu makan, di rumahmu, kau bahkan sering membuang makanan karena lebih banyak makanannya dibanding yang ingin memakan", gerutu Sila pada sahabatnya yang disambut tawa oleh Vania.


mereka segera menuju mobil yang sudah ada sang pengacara di dalamnya.


" pagi Nona Sila", sapa Alex pada kliennya.


" pagi juga Tuan Alex", jawab Sila sambil tersenyum ramah pada pengacaranya yang sekaligus suami sahabatnya.


" Nona Sila, saya harap dipersidangan kali ini anda lebih bisa menguasai diri, saya tidak ingin anda menangis dipersidangan dan apapun nanti hasilnya anda akan lebih tegar, mungkin untuk persidangan yang kedua ini akan ada persidangan selanjutnya, melihat mantan suami anda yang sangat bersikeras untuk merebut hak asuh putri anda, dan kelihatan mantan anda ingin sekali menjatuhkan anda dengan bukti - bukti yang ia berikan pada pihak pengadilan, saya harap anda tidak berkecil hati", nasehat sang pengacara pada Sila, agar Sila lebih siap dan kuat dipersidangan kali ini.


Sila hanya mengangguk mendengar nasehat pengacaranya, sedangkan Vania hanya berusaha untuk menguatkan sahabatnya.


" kasus seperti ini akan sangat menguras waktu, tenaga dan pikiran anda, karena biasanya sidang akan berlanjut hingga lebih dari 4 kali jika kedua belah pihak saling bersikeras untuk mendapatkan hak Asuh anaknya, jadi persiapkan diri anda, dan kemungkinan terburuknya putri anda akan dimintai keterangan oleh pihak pengadilan, mengingat umur Dania yang sudah mencapai 10 tahun, sebaiknya anda perlahan memberitahukan hal ini pada putri anda sebelum ia merasa terkejut tentang hal ini", lanjut Tuan Alex pada Sila.

__ADS_1


Sila berpikir keras bagaimana ia akan menyampaikan kabar ini pada Dania, ia tak ingin melukai hati putrinya karena ternyata kedua orang tuanya kembali berseteru dan itu karena memperebutkan dirinya.


" Are you oke, Sil?, tanya Vania melihat sahabatnya yang melamun menghadap jendela.


***


Alex turun terlebih dahulu diikuti oleh istri dan juga kliennya. mereka langsung menuju ruang persidangan mengingat waktu sudah akan di mulai.


Sila duduk di kursi paling depan bersama Alex sebagai tergugat, sedangkan rivalnya yang tak lain adalah mantan suaminya duduk di kursi paling depan bersama pengacaranya, Aldi menatap sinis pada mantan istrinya, yang terkesan sangat sombong dan angkuh, yang membuat Sila benar - benar tak habis pikir dengan tabiat mantan suaminya itu.


persidangan dimulai dengan agenda mendengar kesaksian Sila dan Aldi atas pembelaan masing - masing pihak. Sila menceritakan tentang perceraian mereka, bagaimana kedua anak mereka mengalami trauma karena sikap Aldi pada kedua anaknya dan juga pada dirinya, bahkan setelah perceraian Aldi tak memberikan nafkah pada anak - anaknya.


tak terima dengan pembelaan Sila, Aldi balik menyerang Sila yang mengatakan bahwa Sila tak bisa merawat kedua anak mereka dengan baik, anak mereka sering dititipkan pada sahabat Sila, bahkan Aldi mengatakan jika Sila lebih mementingkan Bosnya daripada kedua anaknya, lebih sering menghabiskan waktunya dengan bosnya dari pada dengan kedua anaknya, sehingga membuat anak mereka terlantar, bahkan Aldi menuduh Sila dan Arsya tinggal bersama tanpa ikatan yang jelas.


bukti - bukti yang diberikan Aldi berupa foto - foto kebersamaannya Sila dengan Arsya, dan foto - foto anak mereka bersama Vania, membuat kubu Sila merasa terpojokkan, sehingga pihak Sila memutuskan untuk mengajukan keberatan dan meminta sidang ditunda untuk memberikan bukti bahwa tuduhan Aldi tidak lah benar adanya.


" aku akan membuatmu menyesal karena telah menolak ku, dan aku pastikan akan menang mengambil hak asuh putriku", ucap Aldi saat mereka bertemu diluar ruang sidang.


Sila tak ingin terlihat lemah di depan Aldi, dan tak ingin mengalah untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


" dan aku tak pernah menyesal menolak mu mas, justru menolak mu adalah keputusan yang tepat, karena aku tidak ingin hidup dengan laki - laki pecundang sepertimu ", jawab Sila dengan tatapan sinis dan tajam.


Aldi meradang mendengar ucapan Sila, maksud hati ingin menekan Sila agar mau menyerah, namun justru ia mendapatkan perlawanan dari mantan istrinya. Aldi meninggalkan Sila dengan amarah di hatinya, sedangkan Sila memilih menuju mobil sahabatnya untuk pulang bersama. Sila masuk dan menjatuhkan tubuhnya di kursi belakang dengan hati yang sedih, namun ia tak boleh lemah mengingat mantan suaminya yang sangat berambisi untuk mengambil putrinya, ia tak dapat membayangkan jika hak asuh Dania jatuh di tangan Aldi, sedangkan untuk bertemu dengannya saja Dania sangat ketakutan.


__ADS_2