Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Perkenalan


__ADS_3

"teteh itu calonnya udah dibawah, temuin dulu kata mama." Dini memasukan kepala tanpa badannya dibalik pintu kamar Ana.


"ngapain sih, biarin ajalah."


"gak boleh gitu, gak sopan tau! lagian teh, ternyata A Andre tuh ganteng bangeeettt! aaaahhhh" Dini sekarang sudah ada di dalam kamar Ana bersama seluruh badannya.


matanya berbinar saat menceritakan Andre yang dia sambut tadi dibawah bersama mama dan ayahnya.


"akh, Lee min ho mah lewat teh,,, uhhhh pokonya ganteng maksimal teh!heheee,,,"


huff!


"ya, ya,, teteh mah emang gak suka sama Lee min ho, teteh mah sukanya sama Lee Seung gi"


"ah apalagi sama Lee Seung gi, lewat wat wat pokonya! hahaaaa,,,"


"hei, kamu teh disuruh manggil c teteh, malah ngobrol." tiba-tiba mama ada di depan pintu kamar Ana.


Dini dan Ana berbalik barengan melihat ke arah mama.


"astagfirullah teteh, ganti atuh bajunya, maeunya nyambut tamu mau pake daster." mama sewot liat anak gadisnya yang malah paket daster dengan tangan tiga perempat, panjangnya sebetis, disambung sama celana tidur keropi panjang.


"huff!" Ana mengembuskan nafas kasar dengan badan dilemaskan.


"mah, kalo dia mau jadi suami aku, dia harus merima aku yang seperti ini, bukannya emang bisanya aku seperti ini."


mama melotot mendengar jawaban Ana.


Disambut tawa Dini yang baru ngeh dengan stelan aneh yang kakaknya pakai.


"teteh ih malu-maluin tau! iiiihhhh,,," Dini bergidik sambil berlalu dari balik pintu kamar Ana.


saat Ana turun untuk menyambut tamu, ternyata di sana cuma ada Tante Ambar.


'eh, dimana orangnya?' Ana mencari dimana Andre.


Tante Ambar seperti tersihir melihat Ana dengan stelan baju gak keruan, dia hanya tersenyum melihatnya.

__ADS_1


Mama Meti malah sibuk meminta maaf, sementara Ayah melotot.


"Tante,,," Ana meraih tangan Tante Ambar dan menciumnya, Tente Ambar berdiri menyambutnya.


"sayang,,, kamu cantik," kata Tante Ambar sambil mengelus punggung Ana saat mencium tangannya.


Ayah menunduk sambil menggeleng kepala, tangan kanannya menutup di kening.


Lalu Ana seperti celingukan mencari seseorang.


"oh. Andre lagi keluar untuk bicara dengan supir kami." jawab Tante Ambar cepat.


'syukurlah' batin Ana, lalu dia pamit kembali ke kamarnya, walaupun sebenarnya gak benar-benar pergi ke kamar.


Ana menaiki tangga menuju pintu keluar lantai atas, dia menghirup udara malam, menenangkan hati dan mencoba mengatur strategi agar rencana membuat calon suaminya membatalkan perjodohan ini dengan sendirinya tetap lancar.


***


Sudah semakin malam, mama meminta tamunya untuk beristirahat, perjalanan Jakarta Bandung memang tak terlalu jauh tapi lumayan bikin pegal kalo menggunakan kendaraan darat.


"Oom antar ya nak Andre," ayah Agus menawarkan.


"gak usah Oom, kamarnya paling kanan dari tanggakan?!" Andre meyakinkan ayah Agus agar tidak menyusahkan untuk mengantarnya.


"iya betul, ya udah atuh yah kalo sudah tau mah, anggap aja rumah sendiri, nanti juga akan jadi rumah sendiri, hahaaa,,," Ayah Agus


"terimakasih Oom." jawab Andre sambil tersenyum.


"sok mangga, Oom ke kamar duluan yah!" ayah Agus melangkah menuju kamar menyusul mama Meti yang sejak tadi tersenyum mendengar celoteh suaminya.


Termasuk Ambar yang kemudian sambil menunduk ke arah Meti dan Agus tanda pamit untuk masuk ke kamarnya.


Andre berjalan menaiki tangga, di ujung tangga dia melihat Ana yang berdiri diluar, dia berpikir seperti itu karena dia sempat melihat baju yang Ana pakai saat ingin menyambutnya tadi, tapi dia keburu keluar rumah memanggil supir untuk ikut beristirahat di dalam. Ana mungkin tak melihatnya, tapi sekilas dia melihat Ana, walau tak terlalu jelas.


Andre memutuskan menghampiri Ana.


Sampai di pintu dia menyenderkan badannya menggunakan lengan kirinya ke daun pintu, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku. Dia menatap Ana dari belakang.

__ADS_1


'apa-apaan nih cewek, pake baju gak jelas gitu! daster batik celana kartun,' Andre tersenyum, dia tau apa yang dipikirkan Ana dengan hanya melihat cara dia berpakaian. Rambutnya dicepol ke atas.


'dia benar-benar berniat membatalkan perjodohan ini.'


"belum tidur?" tanya Andre setelah larut dengan pikirannya.


Ana langsung menengok ke belakang saat mendengar suara.


Dilihatnya seorang laki-laki berdiri tak jauh darinya, dengan wajah dan perawakan sempurna. memakai stelan baju kaos tangan panjang berwarna putih dengan kancing atas bajunya yang seperti sengaja tak ditautkan, tampak serasi dengan jin biru belelnya.


Ana masih terdiam memandangi keindahan yang sangat langka ini, tak ia sadari badannya berbalik tanpa perlu perintah, kini dia menghadap laki-laki yang berjalan menghampirinya, masih dengan kedua tangan yang diselipkan di saku jin nya. Matanya masih tak lepas dari wajah laki-laki itu.


'ya Tuhan, aku rasa malaikat Mu lepas satu' tak disadari wajahnya merah seketika.


Saat jarak semakin dekat Andre mencondongkan badannya hingga wajah mereka saling berdekatan.


"kenapa? baru liat cowok ganteng?"


deg


Ana langsung membalikan tubuhnya saat tersadar, dia kembali memandang ke arah jalanan yang sepi. komplek perumahan Ana memang bukan komplek elit, tapi tetap saja sepi.


Andre tersenyum senang saat melihat Ana seperti salah tingkah sendiri, bahkan memalingkan pandangannya. Dia lalu berjalan selangkah untuk berada tepat di samping Ana, memandang apa yang dia pandang, hanya jalanan sepi.


"belum tidur?"


"hah?" Ana menengok ke arah Andre masih mencerna pertanyaan Andre, karena sejak tadi dia masih sibuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang.


Andre membalas tatapan Ana yang langsung berpaling saat itu juga, rona merah wajahnya sudah tak bisa disembunyikan lagi, Andre tersenyum puas.


'heh! kemarin kau minta aku membatalkan perjodohan kita, sebentar lagi kau yang akan memohon padaku untuk menikahimu' batinnya puas melihat Ana terpesona olehnya. Memang selama ini belum pernah ada perempuan yang lepas dari pesonanya.


Ana adalah perempuan ke lima yang dijodohkan dengan Andre dalam kurun waktu dua tahun ini, maminya memang gigih sekali.


Semua perempuan itu menolaknya saat awal, tapi akhirnya mereka memohon untuk dinikahi oleh Andre, bahkan ada yang sengaja menggodanya dengan menjebaknya di hotel.


Sayangnya Andre sama sekali tak tergoda.

__ADS_1


__ADS_2