
Ana berbalik lalu membalas memeluk tubuh suaminya, seharusnya dia bicara lebih cepat dengan suaminya, mungkin sejak awal tak perlu dia menghindari suaminya. Masalah foto itu, Ana akan menanyakannya langsung pada Weni, mungkin benar yang Mia katakan, foto itu editan. Siapa yang tahu?! pikir Ana. Dia memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri dengan Weni tanpa suaminya tahu.
keruuuuukkkkk,,,
Ana mendongakkan kepalanya menatap suaminya, Andre tersenyum.
"hehehe,,, laper," ucapnya dengan senyum tersipu. Ana tertawa melihat tingkah suaminya, dia hanya berharap suaminya tak akan memperlihatkan wajah imut itu pada wanita lain termasuk Weni.
"belum makan malem?" tanya Ana disela tawanya.
"aku nunggu kamu pulang" Andre menepuk hidung istrinya dengan satu jari tangannya.
"ya udah aku liat ke dapur dulu ya," Ana melepaskan pelukannya memakai kembali baju lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan berlalu di balik pintu kamar.
Tak lama kemudian Ana kembali,
"bersih-bersih dulu gih, makan malemnya lagi disiapin"
"Hem," Andre bangun, berjalan menuju kamar mandi.
Andre dan Ana duduk di meja makan,
"Bi, panggil Weni, dia belum makan juga kayaknya," Andre meminta salah satu art untuk memanggil Weni, Ana menatap ke arah suaminya tajam.
"hei, dia itu adik ipar mu, lho!"
Andre memegang tangan Ana, Ana menghela nafasnya, semoga saja Weni juga berpikir seperti itu.
Akhirnya mereka makan malam bertiga tanpa suara, entah kenapa hati Ana selalu tidak tenang saat melihat adik iparnya itu, bahkan mendengar namanya saja membuatnya gelisah.
"sayang, besok aku jadi ke Singapura ya,,," Andre berusaha memecah kesunyian, Ana yang sempat menatap mata suaminya sekilas lalu memalingkan tatapannya ke arah Weni, Andre mengerti maksud Ana.
"Sakti masih harus menangani urusan di sini, jadi,,,"
Trang,,,
Ana menyimpan sendok di piringnya dengan keras.
__ADS_1
"aku udah kenyang," Dia melengos pergi meninggalkan mereka di meja makan. Andre menghela nafasnya.
"Weni, tolong kamu mengerti, jangan dimasukkan ke hati,"
Weni tersenyum
"iya mas, kamu gak usah khawatir," Andre berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan menuju kamarnya dengan Ana. Sekejap mata senyum Weni berubah menjadi suram.
"Sayang,,," Andre menghampiri Ana yang sudah duduk di meja belajarnya dengan laptop yang menyala. Andre memeluknya dari pinggir, "sayang,,," Andre berjongkok di hadapan istrinya, Ana menatap mata suaminya dengan tajam.
"dengar, Weni itu, hanya, adikku, jadi, kamu juga harus memperlakukan dia sebagai adik ipar mu," Andre melakukan penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.
"maaf,,," Ana menundukan kepalanya, dia tahu dia salah seharusnya seberapa dia tak menyukai Weni dia tak boleh melakukan itu. Bukankah jika dia menjadi seorang istri maka secara tidak langsung dia juga akan menjadi kakak dari adik suaminya, menjadi anak dari orang tua suaminya. Andre merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"maaf, makannya jadi gak bener deh," ucap Ana masih dalam pelukan suaminya.
"iya, jadi kamu harus bertanggung jawab sekarang,"
"hah? caranya? mau disuapin, idihh udah tua juga," Ana tersenyum sambil memegang lengan suaminya yang masih memeluknya.
"bukan, aku udah gak nafsu makan, sekarang aku lebih ingin memakanmu," bisik Andre di telinga istrinya, mata Ana melebar lalu melapaskan pelukan suaminya, dia lupa suaminya sering tak cukup dengan hanya satu kali melakukannya. Ana tersenyum menatap wajah suaminya merangkulkan kedua tangan di lehernya, lalu mencium bibirnya sekilas. Andre menahan tengkuk Ana untuk kembali mencium bibir istrinya, mereka saling ******* dan menyesap menikmati tautannya.
"yang ini?" Ana mengacungkan jas yang dia ambil dari lemari baju, untuk diperlihatkan pada suaminya yang berbaring di tempat tidur sambil memainkan ponselnya.
Andre memalingkan wajahnya melihat jas di tangan Ana.
"boleh," Jawab Andre singkat lalu kembali menatap ponselnya. Ana menyiapkan setelan jas yang akan dibawa suaminya besok, Andre berencana langsung pergi ke Singapura tanpa pulang ke rumah, karena Ana juga masih ada kegiatan di siang hari di kampusnya jadi buat apa dia pulang dulu pikirnya. Andre akan mengganti setelan jasnya di kantor dengan yang Ana siapkan sebelum dia berangkat, dia ingin saat sampai di Singapura tak perlu lagi ke apartemen untuk mengganti pakaian, buang-buang waktu pikirnya.
"kamu jadi nyusulkan Jumat ini?"
"iya,," Ana menjawab dengan agak tegas, ini sudah kesekian kali suaminya bertanya tentang hal yang sama. Tak beberapa lama Ana mendengar helaan nafas berat dari bibir suaminya.
"kenapa?" tanya Ana berjalan menuju tempat tidur setelah dia selesai menyiapkan jas yang akan dibawa suaminya besok, Ana menyibakkan selimut lalu masuk ke dalam pelukan suaminya dibalik selimut.
"Sakti mengingatkan aku untuk menandatangani beberapa berkas untuk besok, aku lupa,,," Andre memeluk tubuh istrinya, menenggelamkan kepalanya di ceruk lehernya, mencium aroma tubuh yang selalu membuatnya tenang.
Sekarang Ana yang menghela nafas, dia menatap jam digital di atas nakas, sudah hampir tengah malam.
__ADS_1
"banyak gak?"
"gak sih,"
"ya udah, gih! cepetan beresin, biar cepet istirahat," ucap Ana berusaha melepaskan pelukan suaminya. Tapi Andre malah mengeratkan pelukannya, rasanya dia tak ingin melepaskan pelukannya.
"hei, kalo cepet dikerjain, cepet beresnya, ayo dong," Akhirnya Andre melepaskan pelukannya, dia mencium kening istrinya lalu bibirnya beberapa kali.
"tidurlah duluan," Ana menjawabnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum. Andre yang hanya menggunakan ****** ***** saja lalu memakai kimono tidurnya dan berjalan keluar kamar. Ana menarik selimutnya lalu mulai memejamkan matanya.
Ruang kerja
Dua jam berlalu, Andre sudah menguap beberapa kali.
"sial! ini terlalu banyak!" Andre menyimpan berkasnya lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya beberapa kali untuk menghilangkan sedikit rasa kantuknya. Dia menatap sofa, yang ada dalam ruang kerjanya. 'tidur sebentar deh,' batinnya lalu berjalan menuju sofa merebahkan tubuhnya dan kedua tangan yang dia jadikan sebagai bantalan kepalanya.
Ana terbangun dari tidurnya, dia melihat suaminya belum kembali.
"belum beres ya?" gumam Ana, lalu mengambil baju kimononya dan berjalan keluar kamar. Semua lampu sudah dimatikan, Ana menghela nafas saat terlihat dari bawah ruangan kerja suaminya yang pintunya tak tertutup rapat dengan lampu menyala. Ana berjalan menaiki tangga menuju ruang kerja suaminya.
Ana mendekati pintu ruang kerja Andre,
"sayang, kamu belum tidur,"
Ana melebarkan matanya, saat mendengar suara serak suaminya dari balik pintu, jantungnya mulai berdetak cepat. Dengan cepat dia membuka pintu, betapa terkejut Ana saat itu. Suaminya sedang berbaring di atas sofa dengan perempuan dalam pelukannya, sehelai kain menyelimuti keduanya hingga dada dan perempuan itu terlihat tak memakai apapun. Tubuh Ana bergetar hebat kedua tangannya membekap mulutnya dengan keras tanpa disadari. Air matanya menetes mengalir lewat sudut pipinya.
"Ana,,,?"
******"""*****
Wah, cerai nih kayanya,,,✌️😄
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
__ADS_1
Makasih sekali lagi,,,