
Ana mundur beberapa langkah lalu berbalik dan lari secepatnya, dia tak menghiraukan suara teriakan suaminya memanggil namanya. Sampai saat di lantai bawah sebelah tangannya ditarik paksa oleh suaminya, Ana berusaha keras melepaskan diri.
"lepas!" suaranya hampir tak terdengar.
"Ana! dengarkan dulu! itu tak seperti yang kamu pikirkan," Ana terus berontak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan suaminya.
"Ana! aku tak tau bagaimana bisa Weni tiba-tiba ada disana, tapi aku tak melakukan apa-apa," Ana tak mau mendengarkan, dia terus menerus berontak menarik kedua tangan yang dipegang suaminya tanpa bicara, air matanya sudah membanjiri setiap sudut wajahnya.
"Ana! Weni itu adikku! tak mungkin aku melakukan sesuatu yang tak pantas padanya!" Andre bicara dengan nada tegas, mengira dapat menenangkan istrinya.
"lepaaaassss!!!!" Akhirnya Ana berteriak dia tak tahan mendengar apa yang diucapkan Andre. Andre terkejut dan melepaskan tangan Ana.
"Ana aku mohon, dia adikku, Weni itu adikku, kamu,,," Andre berkata dengan suara normal saat melihat Ana tenang setelah dia melepaskan tangannya.
"ADIK! ADIK! ADIK! LALU KENAPA KALAU DIA ADIKMU! KAU BAHKAN MENIDURI ADIKMU!!!!"
Plak...
Hening...
Ana terdiam mematung dengan tubuh yang masih bergetar, panas, perih, sakit menjalar di sudut pipi sebelah kirinya, dia menundukan wajahnya dan mulai terisak. Andre yang masih terkejut dengan apa yang dia lakukan semakin merasa bersalah saat mendengar Isak tangis keluar dari bibir istrinya.
"Ana, aku,,," Andre berusaha menggapai wajah istrinya yang dia tampar, tapi Ana mengelaknya, dia berbalik meninggalkan suaminya yang masih berdiri mematung di tempatnya. Andre menatap kepergian istrinya dengan mata nanar, dia mengepalkan tangan yang digunakannya untuk menampar pipi istrinya.
"Mas, aku,,," Weni menghampiri Andre yang mematung menatap ke arah istrinya pergi, sementara Ana sudah tak terlihat.
"ikut denganku," suara Andre berubah dingin.
Ana menyandarkan diri di balik pintu kamarnya yang telah dia kunci sebelumnya, tangannya meremas baju kimono di bagian dadanya yang terasa sesak. Dia membiarkan tubuhnya merosot menyentuh lantai, kakinya tak lagi bisa menahan tubuhnya untuk berdiri. Ana yang awalnya menangis tanpa suara kini tak lagi dia tahan, dia menangis sekencang-kencangnya hingga suaranya menggema di setiap sudut ruangan dia sudah tak peduli dengan apapun, hanya ingin melepaskan sesak di dadanya.
Andre berjalan gontai menuju kamar Ana, dia meletakan tangannya di pintu yang tertutup lalu menempelkan dahinya disana. Setiap ruangan di rumahnya akan seperti kedap suara tapi jika didengarkan dengan sangat dekat masih akan terdengar, terlebih Ana tak lagi menahan suara tangisnya. Air mata Andre menetes tanpa dia sadari, hatinya perih mendengar suara tangisan istrinya di balik pintu.
__ADS_1
"Ana,,," Andre membisikan nama istrinya lalu dia berbalik bersandar pada pintu. Wajahnya menengadah ke atas, seumur hidupnya seperti apapun dia marah pada perempuan, dia tak pernah menggunakan tangannya untuk menyakiti. Tapi sekarang dia bahkan menampar orang paling dia cintai, air matanya membuarai memenuhi wajahnya.
Klik
Andre mengernyitkan dahinya saat tiba-tiba cahaya menusuk lewat celah kelopak matanya.
Klik
"jangan dinyalain dulu," bisik seseorang art.
"kenapa?" sementara art yang dibisikinya tak mengerti dia menggunakan suara normal tak berbisik.
"sssttttt,,," Art yang satu itu melotot sambil membungkam mulut temannya, dia menggunakan mata untuk memberi isyarat memberitahu bahwa majikannya tertidur dengan posisi duduk di balik pintu kamar nyonya mudanya. Saat art mengikuti isyarat mata temannya, matanya membelalak lebar, dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, lalu berjalan mengendap-endap meninggalkan tempat itu.
"tak apa-apa, nyalakan saja, jam berapa sekarang?" keduanya mematung saat tiba-tiba mendengar suara majikannya, saat mereka berbalik Andre sudah dalam posisi berdiri.
"maaf tuan,,, sekarang jam setengah lima, tuan," jawab salah satu art dengan tubuh merengkuh tanda hormat.
Andre berbalik menatap pintu kamar istrinya sebelum akhirnya berjalan gontai menuju kamarnya di lantai atas, sudah dapat dipastikan hari ini dia tak dapat bertemu istrinya.
"Ndre gimana berkasnya, mau gue bawa sekarang?" Tanya Sakti dengan santai, dia memang tak tahu apa-apa. Andre terdiam, dia lupa dengan berkas yang Sakti minta untuk dia tanda tangani secepatnya karena kejadian semalam.
"Weni, mundurkan jadwalku ke Singapura,"
Andre tak bisa meninggalkan Ana dalam keadaan seperti itu, hatinya tak tenang.
"tapi mas,,,"
"kenapa? jangan-jangan berkas yang gue minta belum beres, lagi! aaaahhhhh gimana sih lu, Ndre," Andre tak menjawabnya.
"kita pergi sekarang," Andre hendak melangkah meninggalkan Sakti dan Weni. 'astaga apa mereka masih berperang, sial! kerja gue gak bakalan kelar-kelar kalo gini,' batin Sakti ngedumel sendiri.
__ADS_1
"mas, tunggu! makan dulu sarapannya, akhir-akhir ini kamu sudah sering gak makan juga sering tidur larut, kamu harus menjaga kesehatanmu,"
"tidak perlu"
"mas, sebaiknya kamu beri waktu pada Ana, biar tenang dulu baru ajak dia bicara, aku juga akan mencoba berbicara dengannya," Weni berjalan menghampiri Andre, dia tahu Andre sedang gelisah.
"Setelah kita kembali dari Singapura, aku yakin Ana pasti sudah tenang, kalian bisa bicara baik-baik, lagi pula kita hanya dua hari di Singapura, cukup untuknya menenangkan diri." Weni membujuk Andre agar tetap pada jadwalnya, Andre berpikir sejenak, bahkan jika dia ada disinipun Ana tak akan mau bertemu dengannya, Andre menimang dan akhirnya dia mengikuti saran Weni.
"kalian tunggu aku di mobil," Andre berbalik berjalan meninggalkan mereka di ruang makan. Dia menghampiri kamar Ana yang pintunya masih tertutup rapat lalu menyentuh pintunya dengan sebelah tangannya.
"Ana, aku harus ke kantor sekarang, kita akan bicara setelah aku pulang dari Singapura," tak ada jawaban, walaupun Andre tahu istrinya pasti mendengarnya, tapi tetap saja hatinya terasa sakit saat tak ada jawaban yang dia terima.
"Wen, ada apa, sih? perasaan perangnya kagak kelar-kelar! ada masalah baru ya?" Weni tak menanggapi ucapan Sakti dalam mobil.
Sakti menghela nafasnya, 'kayaknya masalahnya makin berat, nih!' batin Sakti, tak lama Andre masuk ke dalam mobil.
Ana tak melakukan apa-apa, dia hanya terdiam dibalik selimutnya, semua terjadi begitu cepat, sebelumnya mereka mereka baik-baik saja tapi sekarang?!. Dia benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan, berkali-kali dia mencoba untuk mengalah tapi akhirnya tetap dia yang tersakiti.
Tring
Andre : Ana, maaf, aku sudah membohongimu, tapi aku tak bisa meninggalkannya lagi, Weni, dia mengandung anakku, aku akan memberikan kompensasi sebagai ganti rugi perpisahan kita, terimakasih untuk tiga bulan ini, maaf,,,
Mata Ana membelalak lebar saat membaca pesan yang dikirim suaminya. Ana membungkam mulutnya dengan sebelah tangan, dia kembali menangis, sakit yang bertubi-tubi dia rasakan membuatnya semakin sesak, dia memukul-mukul dadanya dengan keras namun tak membuat nafasnya lancar. Ana berusaha berdiri lalu memaksakan kakinya berjalan walau dengan tertatih berusaha keluar dari kamarnya mencari pertolongan nafasnya terengah-engah karena sesak, tubuhnya semakin limbung hingga tak bisa dia tahan lagi, beruntunglah dia ambruk sesaat setelah dia membuka pintunya.
"nyonya,,,,"
*******"""*****"
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
__ADS_1
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,