Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
95


__ADS_3

"haaaaaiiiiii,,, gimana Ndre, perkembangan di Singapura," Sakti melambaikan tangan saat melihat Andre berjalan ke arahnya.


"kita pergi sekarang," Andre tak menghiraukan ucapan Sakti, dia melengos pergi berjalan keluar. Sakti menurunkan tangannya yang sempat melambai tapi tak dihiraukan sahabatnya itu, lalu menghela nafasnya. 'ada apa lagi ini?' batin Sakti sambil berbalik hendak mengejar Andre.


"Ndre! tunggu!"


"mas, sarapannya,,," Weni meraih tas dan map lalu berjalan tergesa mengejar mereka.


"maaf tuan, apa nyonya mau berangkat sekarang?" Mang Imam bertanya pada Andre saat melihat majikannya mendekat ke arah mobil.


Andre mengerutkan keningnya.


"bukannya Ana sudah pergi sejak tadi?"


Mang Imam mendongakkan wajahnya menatap majikannya.


"tapi, nyonya bilang dia masuk jam delapan hari ini, bukannya ini baru jam tujuh, saya baru selesai panasin mobil ini," mang Imam menunjuk mobilnya dengan jempolnya tanda hormat pada majikannya, mimik muka Andre berubah dingin. Andre memijit keningnya,


"ayo pergi," dia masuk ke dalam mobil yang biasa digunakan sakti untuk mengantarnya ke kantor, Sakti dan Weni mengekorinya.


"mas, sarapannya aku bawain, mas dari semalam makannya gak bener, nanti sakit lagi," Andre menatap lurus ke arah jalanan, dia tak menghiraukan ucapan Weni.


*********


Malam hari


Hati Ana sedikit tenang setelah dia dapat petuah dari sahabatnya, Mia. Malam ini dia bertekad untuk memperbaiki semuanya, dia harus bicara dengan suaminya. Seandainya suaminya mengaku benar ada hubungan dengan Weni pun, asalkan dia mau putus, Ana akan memaafkannya. Dia adalah istri sah Andre bagaimanapun dia lebih berhak atas diri Andre, dia juga berpikir akan ikut ke Singapura jika diperlukan. Dia tak mau membuat kesempatan untuk Weni merayu suaminya lagi. 'heh? orang ketiga? bukannya seharusnya dia yang orang ketiga, aku istri sahnya, mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan, aku tak akan menyerahkan suamiku semudah itu,' batin Ana percaya diri.


"semangat Ana!!!" Ana mengacungkan ke dua tinjunya ke udara, dengan wajah berseri dia memasuki rumahnya. Ini sudah lewat isya, sebenarnya sebelum Maghrib Andre terus meneleponnya, tapi tak diangkat oleh Ana, ada banyak chat juga yang dikirimkan Andre. Dia terus menerus bertanya dimana dia, karena sangat jarang Ana pulang terlambat, terlebih jika akan terlambat Ana pasti memberi tahukan sebelumnya. Dia hanya satu kali mengirim chat sebagai balasan, "aku pulang terlambat," begitu isi chatnya.


Ana masuk ke kamarnya,


'kenapa gak ada tanda-tanda A Andre udah pulang?' Ana membalikan badannya lalu menuju dapur untuk mencari salah satu art.


"ah, Bi,,, apa A Andre udah pulang?"


"sudah nyonya, maaf, apa mau disiapkan makan malam nyonya,"


"apa A Andre udah makan malam,"


"belum nyonya, katanya mau menunggu nyonya,"


"oh, dimana dia sekarang?"


"tuan ruang kerjanya nyonya,"


"oh, kalo gitu siapin aja sekarang, aku panggil a Andre dulu, "

__ADS_1


"baik, nyonya,,," Ana menghela nafasnya, sudah hampir tiga bulan dia tinggal di rumah ini, tapi dia masih merasa tak biasa dengan perlakuan art di sana, terlalu kaku.


"ah, kalo Weni, dimana dia?"


"sepertinya di kamarnya nyonya, karena tuan mau menunggu nyonya untuk makan malam, mbak Weni juga kembali ke kamarnya,"


"oh, baiklah," Ana membalikan badan berjalan menjauhi dapur.


"syukurlah, sebaiknya dia jangan macam-macam lagi, kalo gak! aku bejek-bejek dia!" Ana bergumam dengan nada geregetan.


"aku mandi dulu apa ngomong dulu sama A Andre ya?" Ana berdiri di dapan pintu kamarnya, menimang apa yang harus dia lakukan dulu.


"ah, aku ngomong dulu sama A Andre deh, biar tenang,,," Ana akhirnya memutuskan untuk bicara dengan Andre, dia berbalik berjalan menuju ruang kerja Andre. Semakin mendekat ke arah ruangan yang dituju, jantungnya berdetak semakin kencang. Dia kan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan rumah tangganya, seperti yang sahabatnya katakan. "Ana, lu tuh bini sah nya, lu harus bisa pertahankan kedudukan lu, liatin ke dia siapa yang berhak atas laki lu itu, gue yakin sih ngeliat perlakuan laki lu ke elu selama ini, pasti dia juga sayang ama lu, kalo lu nyerah gitu aja dia seneng dong," Ana mengingat lagi apa yang diucapkan Mia padanya, dan itu yang membuat dia semangat untuk memperbaiki hubungannya dengan Andre.


Ana berjalan perlahan menuju ruang kerja Andre, dia semakin tak bisa mengontrol detak jantungnya. Saat melewati kamar Andre tiba-tiba Ana mendengar suara, dia memelankan langkahnya. 'ini suara A Andre, dia di kamarnya ternyata,' batin Ana dia melihat pintunya tak tertutup.


"makasih, mas,"


Deg


Ana berhenti di depan pintu kamar, dia mengurungkan niat untuk masuk. Tangannya yang hampir menyentuh kenop pintu tapi dia tarik kembali. 'Weni? sedang apa di kamar ini?' batinnya, jantung Ana berdenyut hebat.


"iya, maaf, aku sudah mengabaikan mu, tapi kamu harus tahu, aku selalu sayang sama kamu, Wen,"


"aku tahu, mas tak pernah berubah, mas selalu sayang sama aku,"


Deg-deg, deg-deg, deg-deg


Ana mengunci pintu kamarnya, dia menjatuhkan diri di tempat tidurnya, menenggelamkan kepalanya di antara bantal, menangis dengan kencang.


'bego! Ana lu bego! udah jelas mereka saling cinta, status lu gak akan berpengaruh buat mereka!'


Andre dan Weni berjalan sambil berbicara menuju ruang makan, Andre beberapa kali melihat ponselnya, Ana masih tak menjawab chatnya.


"lho, udah disiapin ternyata?" Weni melihat makan sudah lengkap di atas meja makan.


"iya, mbak Weni, tadi nyonya yang minta,"


"Ana?" Weni menyakinkan.


"iya, Mbak,"


"Ana sudah pulang? dimana dia?"


"bukannya tadi,,, nyonya bilang mau manggil tuan untuk makan malam," Andre membulatkan matanya, dia lalu berbalik berjalan menuju kamar Ana.


Jegrek

__ADS_1


'pintunya dikunci,'


"Ana,"


toktoktok


"An, buka pintunya,"


toktoktok


"ayo kita bicara,"


toktoktok


"Ana,"


Ting


Tiba-tiba ponsel Andre berbunyi,


Ana : pergilah, aku tak ingin bicara denganmu.


Andre terkejut, ternyata Ana yang mengirim pesan.


Andre : kalo kamu gak buka pintunya, aku akan buka dengan kunci cadangan.


"Bi Mirna! ambilkan kunci cadangan kamar nyonya!," teriak Andre dengan keras, karena dapur dengan kamar Ana cukup jauh jaraknya.


Ana : kalo kamu masih menghargai aku, kamu tak akan melakukan itu.


Andre terkejut setelah membaca pesan Ana.


Bugh


Andre memukul dinding.


Ana : beri aku waktu


Andre : baiklah,,,


"Sudah ya, jangan marahan lagi, kita baikan ya, kita saling sayang tapi malah saling menyakiti." caption Weni di foto terakhirnya, dalam foto itu memperlihatkan tangan kiri seorang laki-laki yang melingkar di pinggang ramping seorang perempuan, dengan tangan perempuan itu menaut diatasnya. Di jari tangan laki-laki itu masih melingkar cincin nikahnya. Ana melihat lagi postingan terakhir di Instagram Weni kemari malam, lalu dia mengingat kembali apa yang dia dengar dari balik pintu 'sepertinya sudah tak ada tempat untukku lagi, apa ini yang ingin kamu bicarakan, A?! beri aku waktu, aku akan menyiapkan hatiku dan pergi tanpa penyesalan, bukankah sejak awal aku sudah menyiapkan diri untuk menjadi seorang janda, inilah waktunya,'


***********


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,

__ADS_1


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2