
Tamu mulai berdatangan, karena acara ini di khususkan untuk anak remaja maka make-up Ana pun disesuaikan, dengan make-up tipis dan sederhana Ana masih tetap terlihat cantik. Gaun pink muda selutut masih dengan rok berbentuk A-line. Sedangkan atasannya dibuat sedikit terbuka tetapi masih sopan, tangannya panjang yang hanya terbuat dari kain tile dengan rempel di pundaknya memberi kesan santai namun elegan. Rambut yang dibiarkan lurus jatuh terurai dengan jepit yang disematkan di salah satu sisi kepalanya membuat Ana terlihat lebih muda dari usianya.
Andre yang melihat Ana memakai gaun pendek dan sedikit terbuka bagian atasnya membuatnya tak suka.
"kenapa kamu memakai gaun seperti ini?"
"hah?" Ana yang baru menyadari Andre ada di ruangan make up masih belum mengerti apa yang dimaksud Andre.
"memangnga kenapa dengan gaunnya, a?" tanya salah satu MUA yang mengurus di bagian pakaian, menurutnya gaun ini sangat cocok untuk Ana.
Dia agak merasa takut membuat kliennya tak puas dengan karyanya.
"maaf a, menurut saya ini sangat cocok untuk Ana." Andre yang tak suka dengan cara MUA itu memanggilnya membuat tatapannya mendingin.
"panggil saya bapak, sepertinya lebih sopan!"
ucap Andre tanpa menatap wajah orang yang di tuju.
"baik, maaf pak!" Teteh MUA langsung menundukkan kepalanya, dengan perasaan canggung. Ana yang melihat itu langsung mengapit lengan Andre dan menyeretnya untuk keluar ruangan make-up.
Andre menahan langkahnya saat sadar Ana ingin membawanya keluar ruangan.
"dengar Ana, aku tak mengijinkan kamu keluar dengan memakai baju ini." Tangan Andre yang bebas menunjuk baju yang Ana kenakan.
Menurut Andre baju itu terlalu mengekspos tubuh Ana bagian atas, terlalu seksi menurutnya.
"kenapa, aku gak pantes pake baju ini?" Ana melepaskan pegangan tangannya pada lengan Andre.
"kamu tak usah banyak tanya, pokoknya ganti!"
Andre memegang tangan Ana berjalan kembali ke ruangan dan memilah baju yang dirasa cukup tertutup untuk Ana.
Deretan baju yang tergantung dengan berbagai model itu memang sengaja disediakan mami Ambar untuk Ana tentu saja semua ukurannya pas dengan badan Ana, modelnya pun disesuaikan dengan usia Ana, walaupun sebenarnya bukan Ana yang memilih modelnya, tapi Ana cukup suka.
Gaun tertutup yang berwarna putih tulang panjangnya selutut yang dirasa cukup elegan menurut Andre.
"ganti yang ini!" Andre menyerahkan baju pada Ana. Ana menghela nafasnya, dia mengambil baju dengan sedikit kasar lalu pergi ke kamar pas untuk mencobanya. Setelah di coba, Ana tak percaya, baju itu cukup pas dan cocok dengannya. Ana keluar dari kamar pas, dia menunjukan pada Andre dengan cara berputar.
"gimana? bagus ga?" Ana tersenyum sambil masih memutar-mutar gaunnya.
__ADS_1
Andre menatap tajam, dia pikir tadi bahunya tidak terbuka, ternyata modelnya sabrina hanya saja line atasnya terdapat karet sehingga bisa dipakai jadi model sabrina ataupun model tertutup biasa.
Andre mendekati Ana lalu mencoba menarik tangan baju di lengan atas Ana, dia pindahkan untuk menutupi bahu Ana. Dan itu berhasil, Ana sekarang memakai baju tertutup dengan lengan tiga perempat, dan rok selutut. Andre menilik dari atas hingga bawah lalu dia tersenyum, "ini lebih baik!" ucapnya, sementara Ana hanya bisa cemberut karena dia lebih suka model sabrina daripada yang sekarang.
"sekarang udah keliatan bagus?" sindir Ana.
"sebenarnya aku tak terlalu suka, kamu jadi lebih terlihat seperti anak SMA, tapi lebih baik dari yang terbuka itu."
'ck! lagian gak terlalu terbuka juga kali, mengade-ngade!' Ana yang tak berani berkata langsung cuma bisa memaki suaminya dalam hati.
"ck! kenapa kau tak memakainya seperti ini dari pertama! sudah, ayo kita keluar" Ana menjawabnya dengan juluran lidah.
pletak!
Andre menggetok kepala Ana dengan jari tengahnya.
"bersikaplah dewasa! kamu sudah bukan anak kecil! terlebih sekarang, kamu adalah istriku! istri seorang CEO harus terlihat dewasa dan elegan"
'ck! banyak sekali permintaannya! lagian apa hebatnya jadi istrimu, cuma disuruh nutup aib doank!' lagi-lagi Ana hanya bisa merutuki nasibnya dalam hati saja.
Andre membuka lengannya agar Ana memegangnya layak pasangan bangsawan dalam film-film Eropa.
"tadi si tetehnya manggil aa kenapa marah?"
"aku gak suka!"
"siapa yang waktu itu minta aku memanggilnya aa?!"
"aku memintamu memanggilku aa bukan berarti orang lain juga boleh!"
"apa bedanya?"
'dia bahkan tak tau perbedaan dirinya dengan wanita lain di hadapanku.' Andre menghela nafasnya, istrinya ini sangat sulit mengerti dirinya.
"ah, satu lagi! jangan panggil Sakti dengan sebutan aa lagi!"
"hah? terus panggil apa donk?"
"apa saja, yang penting panggilan itu tak boleh untuk orang lain, panggilan itu hanya boleh untukku, dan cuma kamu yang boleh memanggilku seperti itu." Ana mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"terus mama, ayah, Dini, dia panggil aa? gak boleh juga?!"
"mereka keluargamu tentu saja aku tak akan perhitungan," Ana menghela nafasnya, 'sungguh sulit dimengerti,' batin Ana.
Setelah keluar lift di lantai terakhir, mereka mengganti lift berikutnya untuk menuju roof top garden di hotel tersebut.
"tapi aku lebih suka memanggil dengan sebutan, Om!" Ana tersenyum bermaksud menggoda suaminya.
"kau itu! sudah ku bilang, mana ada istri yang memanggil suaminya dengan sebutan, om, ck! Nada dingin khas seorang CEO kejam akhirnya keluar.
"bukankah tadi om bilang aku seperti anak SMA, anggap aja om jadi sugar Daddy ku! bos kaya yang mengencani anak SMA!" Ana tertawa cekikikan merasa geli dengan apa yang dia ucapkan sendiri.
"jika seperti itu, aku lebih memilih jadi sugar Daddy mu!"
"hah! kenapa?" Ana mengerutkan keningnya.
'paling tidak aku tak akan terikat dengan sumpahku untuk tidak menyentuhmu!' Andre menjawab dalam hatinya.
"kok gak dijawab!"
"sudahlah, sebentar lagi sampai!" Andre mengalihkan pembicaraan.
Benar saja akhirnya lift nya terbuka, lift yang menuju roof top langsung dan terbuka langsung di depan taman, taman yang dipenuhi dengan bunga didekorasi senyaman dan seindah mungkin juga diatur untuk lebih menjaga dari sinar matahari pada tengah hari, walaupun udara Lembang tetap sejuk di tengah hari seperti ini. Tapi sinar matahari masih tetap terasa panas.
Hotel yang menjunjung tema sebuah istana dari daratan Eropa yang khas dengan patung-patung dewanya serta tunggangan mereka sebuah kuda bersayap. Menjadikan roof top terlihat spesial dan selaras dengan dekorasinya.
Ana dan Andre berjalan ke tengah taman, berbaur dengan tamu yang mulai banyak berdatangan. Alunan musik akustik mengalun mengiringi setiap orang yang sedang bercanda menikmati pesta.
"Ana," Ana memalingkan wajah mencari orang yang memanggilnya.
"teh Tia" Ana yang berniat menghambur ke pelukan teh Tia dengan tangan merentang terbuka malah tak jadi karena Andre lebih dulu menarik pinggangnya untuk tetap berdiri di sebelahnya.
"bersikaplah dewasa! kau adalah istriku, seorang CEO, ok!" Andre berbisik di telinga Ana dengan tangan masih merangkul pinggangnya.
Ana menghela nafasnya, dia mengurungkan niatnya.
Teh Tia merasa ada yang aneh dengan perlakuan Andre pada Ana, big bosnya yang memiliki kepribadian sebagai seorang gay. Dia lalu mengerutkan keningnya.
'jika dia memang seorang gay! seharusnya tidak seperti ini bukan?! ini lebih terlihat seperti seorang suami yang posesif pada istrinya' batin teh Tia.
__ADS_1