
"hai teh," Ana mendekati teh Tia dengan masih berasa di samping Andre. Andre tak melepaskannya pergi dari sisinya sendiri. Dia melihat semua tamu lebih banyak yang sebaya Ana. Terutama terlalu banyak laki-laki yang berpotensi mendekati Ana pikir Andre dan yang pasti lebih muda darinya.
Sebelah tangan andre masih memegang pinggang Ana, seperti menunjukan kepemilikannya.
"Ana, selamat ya," teh Tia memeluk Ana.
"makasih teh, Stela mana?"
"belum Dateng kayanya,"
"selamat pak, atas pernikahannya," Teh Tia menyodorkan tangannya disambut oleh Andre.
"terima kasih" jawab Andre datar. Setelah itu barulah satu-satu teman-teman Ana mulai menghampiri, memberi selamat. Semua laki-laki dan perempuan, tentu saja mereka berjabat tangan untuk memberi selamat tapi justru itu yang membuat Andre tak suka. Terlalu banyak laki-laki yang menyentuh istrinya, pikirnya
Dan sekarang dia malah tersingkir karena ternyata istrinya cukup populer dikalangan teman-temannya. Andre kembali memegang tangan Ana agar dia tetap disisinya.
"mas, saya boleh pinjem Ana nya dulu, sebentar aja, mau foto" Ana tersenyum dengan tatapan memohon pada suaminya. Andre menatap Ana dengan tajam.
"boleh ya, mas?"
Andre beralih menatap orang yang meminta istrinya dengan tajam. Ana yang melihat itu langsung menarik Andre menjauh dia tak mau kejadian di ruang make-up terulang. Akan canggung nantinya.
"Om, pliisssss, ya?" Ana memegang tangan Andre dengan kedua tangannya memelas meminta ijin, sementara Andre masih tak bergeming. "ayolah a Andre, pliisssss,,, gak lama ok! pliisssss,,," Ana merapatkan kedua tangan di dadanya layaknya orang sedang memohon.
"ck! kalo ada maunya baru manggil aa!" Ana tersenyum manis manja. "ingat! jangan macem-macem!" sambungnya mengingatkan.
"ok! makasih suamiku" saking senangnya Ana memeluk Andre lalu pergi ke tengah-tengah taman berbaur dengan teman-temannya.
'suamiku? tidak buruk!' Andre tersenyum lalu berjalan, memilih untuk menjauh dari aksi muda-mudi yang sedang asik mencari angle untuk berfoto. Andre masih terus memperhatikan istrinya.
"mas, kok disini, gak ikutan?" Weni berlenggok berjalan menghampiri Andre yang duduk sendiri sambil memandangi istrinya dari kejauhan.
"Weni dimana Sakti?" Andre mengabaikan pertanyaan Weni. "Tadi ngobrol sama papi, tau sekarang kemana,"
"hm" Andre menimpalinya dengan deheman, tangannya masih memainkan minuman sedangkan matanya masih terus mengawasi istrinya.
'apa laki-laki itu akan datang hari ini?' batin Andre, sejak dia melepaskan Ana untuk bersama dengan teman-temannya, masih merasa gelisah saat mengingat bahwa Dimas juga adalah teman kuliah Ana yang artinya kemungkinan hari ini dia akan datang.
__ADS_1
"mas,,,, maaaaassss,,," Weni melambaikan tangan di depan mata Andre untuk menyadarkannya. "ah! maaf!" seketika kesadaran Andre kembali, dan mengalihkan pandangannya menatap Weni.
"segitunya sih liatin istrinya, takut istrinya dibawa kabur ya?!"
"bukan begitu, aku cuma sedikit iri dengan mereka, yang bisa punya banyak teman di usia mereka." jawab Andre bohong. Weni mengusap lengan Andre seperti sedang menguatkan.
"tapi saat usia mereka mas sudah menjadi seorang CEO, menjadi seorang laki-laki yang luar biasa, tidak seperti mereka. Mereka paling kebanyakan cuma jadi pegawai biasa"
Andre tersenyum getir mendengar ucapan Weni.
Andre menghela nafas panjang, saat dia kembali ke tempat Ana dan teman-temannya berkumpul dia tidak menemukan Ana. Pandangan Andre berkeliling, mencari sosok istrinya yang tiba-tiba menghilang.
"apa kamu melihat Ana, Wen?"
'ck! Ana, Ana, Ana!' batin Weni jengah.
"mas, dari tadi aku di sini ngobrol sama kamu, yang aku liatin juga muka kamu, bagaimana aku bisa tau Ana ada dimana"
"aku akan mencarinya,"
"mas, kamu tuh ya, Ana itu udah gede, lagian diakan lagi sama teman-temannya, biarin ajalah" Weni berharap dengan ucapannya Andre bisa tetap bersamanya.
Sejenak Andre berpikir, namun tak dia hiraukan.
"aku akan mencarinya," Andre berjalan ke tengah taman tempat sebelumnya Ana berada lalu mulai mengedarkan kembali pandangannya.
Dia masih tak menemukan istrinya.
Sementara itu di sebuah tempat yang cukup tertutup dengan sebagaian besar dindingnya terbuat dari kaca namun kaca hanya bisa melihat ke arah luar sementara orang luar tak bisa melihat ke dalam, ruangan itu yang sekarang dijadikan ruang istirahat serta bisa dijadikan tempat untuk touch-up.
"tenang aja cul, lagian dia juga gak mungkin suka gue kok!" Ana meyakinkan Stela.
"bukan gitu, Na! maksud Stela itu, dia gak mau nanti kamu patah hati, udah jelas kalian akhirnya bakalan ceraikan, kalo sampe kamu nantinya suka sama dia, itu akan bikin kamu sakit!" teh Tia menengahi.
"hm, itu maksud gue, soalnya nih ya, Na! yang namanya cinta itu gak bisa di tebak, cuma karena kita sering ketemu aja bisa jadi cinlok, apalagi lu ntar satu rumah, loh, Na!" Stela.
"bener juga kamu, Stel!" teh Tia membenarkan ucapan Stela.
__ADS_1
"lagian lu tuh ya Na, ckckck! benar-benar cari masalah lu mah!" Tambah Stela.
"aduh!" Ana menoyor kepala sahabatnya yang sejak tadi nyeroscos gak berhenti.
"eh, uchul lu tuh ya, jatuh cinta baru sekali aja udah sok tau!" Ana tertawa tanpa ditahan.
"eh cul! dengan status dia yang penyandang gay, gue sudah ogah jatuh cinta, mikirin ya aja udah ogah, iiihhhh," Ana bergidik jijik. Teh Tia ikut tertawa melihat cara dua sahabat itu bercanda.
"ho-oh, pokona entong we Na! sing loba istighfar!"
"lapar ih," lanjut Stela.
"hooh ih, nyokot dahareun jig! jeng nginumna Stel, eh menta ka pramu saji we ngomong we Jang urang di ruang istirahat Kitu,"
"siap bunda ratu!" Stela melengos meninggalkan mereka yang kini berbincang berdua.
"bodor ih, Stela mah!"
"wkwkwkwk, makanya teh Ana juga berat ninggalin dia teh, berasa hidup gak sempurna," Ana mengakhiri ucapannya dengan tertawa.
"kamu mah,"
"eh Na, teteh mah Naha asa ngerasa aneh liat pak Andre, jujur aja teteh juga gak sering lihat beliau, makanya teteh gak bisa menyimpulkan apa-apa, tapi pas tadi liat cara dia liatin kamu, terus sikap dia ke kamu, dia kayak,,,"
ucapan teh Tia terhenti sejenak memikirkan kata-kata untuk mewakili apa yang ada dipikirannya.
"kayak apa teh?" Ana penasaran.
"pokoknya, intinya dia kayak bukan gay, Na!"
"hah!"
"iya, dia kayanya udah punya simpati khusus ke kamu, Na!"
"hah? maksudnya?" Ana tak mengerti apa yang dikatakan teh Tia.
"ah, udahlah bisi teteh salah. Eh Na! teteh pengen bilang, kalo nanti kalian udah bercerai, mau gak kamu balik lagi sama Dimas?" teh Tia memegang tangan Ana dan menatapnya intens.
__ADS_1
Ana sedikit kaget dengan pertanyaan teh Tia.