
"Ana untuk apa orang ini ada di rumahmu? kamu masih istri Andre! dan kamu berani membawa masuk laki-laki ini ke rumah di malam hari!" Sakti ikut bicara, dia benar-benar marah saat melihat Dimas ada di rumah Ana, dia menunjuk wajah Dimas secara langsung.
"hei! jaga ucapanmu!" Dimas menepis telunjuk yang mengarah pada wajahnya.
"memangnya kenapa jika dia ada di rumahku pada malam hari?" Ana berkata dengan nada santai lalu maju ke depan membuat Dimas berada di belakangnya, dia tak ingin membawa Dimas ke dalam permasalahan rumah tangganya yang rumit.
"bukannya tuan muda juga sering berada dalam pulukan wanitanya di malam hari, itupun kami belum bercerai,"
Andre membelalakan matanya mendengar ucapan istrinya, diapun sungguh tak menyangka akan ada kejadian itu, ternyata bagaimanapun dia menjelaskan, kejadian itu masih sangat membuat istrinya salah paham padanya.
"dengar! Ana! aku sudah bilang kalau itu salah paham!" Andre masih berusaha menjelaskan.
"sudahlah! ini rumahku! sebaiknya tuan muda tidak mencari masalah di sini, apalagi keadaan disini sepertinya tak layak untuk keberadaan, Anda! sebaiknya Anda pergi," Ana berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah.
"Ana, jika aku pergi, maka orang ini harus pergi!"
Ana berhenti berjalan dan berbalik kembali.
"aku pergi atau tidak bukan urusan Anda!" Dimas menjawab sebelum mengikuti Ana berjalan masuk.
"dia adalah istriku! aku berhak atas dirinya! sebaiknya kamu pergi!" Andre bicara dengan nada tegas dan dingin.
"heh! istri?..." Dimas mencibir.
"Di," Ana menghentikan ucapan Dimas yang akan membuat pertikaian semakin panjang.
"Tuan, ini rumah saya, sebaiknya Anda pergi!"
"Ana! katakan! ada hubungan apa diantara kalian?" Andre menaikan nada suaranya, dia benar-benar sangat marah saat Ana lebih memihak pada mantannya daripada dirinya.
Ini kedua kalinya suaminya menggunakan nada tinggi padanya, hatinya masih saja terasa sakit.
__ADS_1
"lalu memangnya kenapa kalau aku memiliki hubungan dengannya???? kamu tak berhak mengatur dengan siapa aku berhubungan!!!" Ana tak mau kalah, diapun bicara dengan nada tak kalah tinggi.
"Ana! aku adalah suamimu! tak ada yang lebih berhak atas kamu selain aku!" Andre masih menggunakan nada tinggi.
"cukup! kami memang memiliki hubungan! kamu puas???? sekarang, apa kamu bisa pergi!!! PERGIIII!!!!" Ana berteriak dengan lantang, dia sudah tak sanggup lagi berdebat dengan suaminya. Andre membelalakan matanya dia tak percaya dengan apa yang baru saja dengar, Ana mengaku kembali berhubungan dengan mantannya. Hatinya sakit, sungguh sakit, dia benar-benar tak menyangka itu akan keluar dari mulut istrinya secara langsung. Foto-foto yang dia lihat ternyata benar adanya, Andre melemahkan pandangannya.
"Ana, apa kamu masih mencintainya?" Andre bertanya dengan suara rendah dan bergetar.
Ana menundukkan kepalanya, dia berusaha menahan air matanya, dan mencoba menormalkan suaranya.
"ya," jawabnya singkat, hanya satu kata yang bisa dia ucapkan, jika lebih banyak lagi maka suaranya akan semakin terdengar tak stabil. Andre memutar kursi rodanya,
"baiklah, mari kita bercerai," kalimat itu lolos dari bibir suaminya membuat Ana membelalakkan matanya, dia sudah menyiapkan perceraian itu lebih dulu, tapi saat kata perceraian keluar dari bibir suaminya langsung, itu terasa lebih menyakitkan. Andre berjalan meninggalkan kediaman istrinya, Sakti dengan setia mendorong kursi rodanya. Mereka semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya, Ana menundukkan wajahnya, air matanya memburai tak tertahan, masih selalu terasa sakit.
"Na..." Dimas memanggil Ana dengan hati-hati, membuat Ana tersadar jika ada orang lain di dekatnya. Ana tak bicara dia berbalik kemudian berlari masuk dan mengurung diri dalam kamar. Teh Tia yang berdiri di depan pintu bahkan tak dihiraukan Ana. Menangis lagi, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mengurangi sesak di dadanya.
******
Prang!
Semua yang ada di rumah berkumpul di depan ruang kerja Andre, termasuk art mereka yang merasa khawatir dengan keadaan tuannya. Sepulangnya Andre dari rumahan Ana, dia mengurung diri dalam ruang kerjanya, awalnya semua terlihat baik-baik saja, sampai tak lama terdengar teriakan Andre yang tertahan dari dalam ruangan juga terdengar suara beberapa barang yang pecah.
"Mas! Mas,,, Mas! buka pintunya," Weni menggedor pintu ruang kerja, dia takut terjadi apa-apa pada Andre.
Sementara Andre yang berada di dalam tak menghiraukan tangannya yang terluka karena serpihan kaca yang berserakan. Andre menangis mengeluarkan semua yang memberatkan hatinya selama ini, sakit, sesak semua dia keluaran. Andre berteriak menangis tanpa menghiraukan orang di luar yang terus mengetuk pintu ruangannya. Sungguh dia sangat mencintai istrinya dia benar-benar tak menyangka istrinya masih akan menyimpan mantannya dalam hatinya. Semua yang terjadi antara mereka hanya sebatas karena mereka suami istrikah, apa benar-benar tak ada namanya dalam hati istrinya?!
Bugh! bugh! bugh!
Andre meninju dinding berkali-kali, darah mulai menetes dari sela-sela jarinya.
"Mas! aku mohon, buka pintunya..." Weni merengek, berkali-kali dia minta agar Andre membuka pintunya. Hingga akhirnya Weni menangis di depan pintu, kakinya lemas tak lagi bisa menopang berat tubuhnya, dia melorot terduduk di lantai sambil menangis. Sakti hanya terdiam dan menyandarkan tubuhnya di balik dinding samping pintu ruang kerja Andre, dia bisa mengerti dengan apa yang dilakukan Andre. Dia juga mengerti dengan kekhawatiran Weni terhadap kakaknya, tapi dia tetap tak memperbolehkan Weni membuka paksa pintu ruang kerja Andre dengan menggunakan kunci cadangan. Andre butuh waktu untuk dirinya, dia butuh privasi untuk meluapkan isi hatinya.
__ADS_1
"Mbak, saya bantu jalan ke kamar, ya?!" Bi Mirna dengan setia menunggu di samping nona majikannya, walaupun berkali-kali Weni menepis tangan Bi Mirna saat mencoba membantunya untuk bangun tapi sudah tugasnya untuk mendampingi majikannya dan selalu siap saat dibutuhkan.
"biarkan saja, Bi, oiya mami belum pulang, Bi?"
"belum, Mas," jawab bi Mirna.
"Bibi, ke bawah aja deh, Weni biar saya yang urus,"
"baik, Mas," bi Mirna bicara sambil merengkuh tubuh, lalu berbalik dan berlalu seperti permintaan sang tuan rumah.
Weni masih terisak, dia tetap menggedor pintu walaupun tangannya sudah terasa sakit dan lemah.
"Mas, aku mohon, buka pintunya," Weni bicara disela isak tangisnya. Berkali-kali terdengar suara-suara yang sangat mengerikan membuat Weni tak berhenti menangis, hingga akhirnya mami Ambar datang.
"Ada apa ini?"
"mami..."
"Weni, ada apa?" mami Ambar jongkok dan memeluk tubuh putrinya, Weni menangis semakin kencang dalam pelukan mami Ambar.
"""”""""****""""""
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...
Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏
Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,
kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,
Makasih sekali lagi,,,
__ADS_1