
Pagi hari.
kriiiiiinnnggg,,
Ana menggapai ponselnya yang berada di atas nakas tanpa membuka mata.
"halo," suara parau khas orang bangun tidur.
"sayang, kamu masih tidur?" mami Ambar menghela nafas, sebenarnya dia tak ingin membangunkan sepasang pengantin baru itu, tapi jadwal acara sudah ditentukan dan tidak mungkin di undur.
"em,"
"maaf sebenarnya mami tidak ingin membangunkan kalian, tapi ini sudah jam setengah delapan, seharusnya kamu sudah standby untuk make-up jam delapan ini, sayang"
"make-up?" Ana masih belum sepenuhnya bangun, dia bahkan tak tau siapa yang meneleponnya.
"iya, kamu tidak lupa hari ini resepsi pernikahan kaliankan?!"
"eemmm,,," Ana menggeliat mencoba membuat tubuhnya nyaman.
"apa? resepsi pernikahan?! astaga! aku hampir lupa, acaranya jam sepuluh!" seketika kesadaran Ana pulih sepenuhnya.
"iya sayang, mami tunggu kamu di bawah ya, mama sama ayah sudah disini juga," Ana menutup sambungan telepon begitu saja, lalu bergegas menuju kamar mandi dengan tertatih.
"sial! kakiku sakit semua, mana hari ini masih harus pake high heels lagi, hiks! benar-benar penyiksaan!" di kamar mandi Ana memijit kakinya sendiri berharap rasa pegalnya hilang walau sedikit.
Setelah mandi dan berganti baju tanpa berlama-lama lagi Ana segera mengambil tasnya.
"mau kemana?" Andre menyadari Ana mau keluar dengan terburu-buru, dia memaksakan membuka matanya, lalu kemudian dia memejamkan matanya kembali.
"astaga! aku lupa!" Ana menepuk jidatnya, dia benar-benar lupa membangunkan Andre.
"om cepetan bangun, resepsi pernikahannya kan jam sepuluh, jadi jam delapan kita harus standby make-up." penjelasan Ana cuma dibalas Andre dengan berdehem saja, tanpa membuka mata.
"astaga! om! banguuuuuunnnn!!!" Ana menarik tangan Andre agar terbangun, tanpa diduga bukan Andre yang terbangun malah Ana yang terjatuh menimpa tubuh Andre.
Deg!
Hampir saja wajah Ana menimpa wajah Andre hanya tersisa beberapa sentimeter saja, untungnya kedua tangan Ana refleks menahan tubuhnya. Awalnya Andre tak menggubris apa yang dilakukan Ana, tapi nafas Ana terasa sangat dekat membuatnya mau tak mau membuka mata. Sepersekian detik tatapan mereka beradu, detik selanjutnya Ana langsung tersadar dan menarik tubuhnya.
Ana mengambil tasnya yang sempat terjatuh,
"aku ke bawah duluan," sambil berlari keluar kamar.
"heh! setelah apa yang dilakukannya semalam dia masih bisa merasa malu?!" Andre memaksakan diri untuk terbangun, lalu berjalan gontai menuju kamar mandi.
Kepalanya masih terasa pusing karena tadi malam dia hanya bisa tidur tiga jam saja.
Ana yang sudah berada di luar kamar mencoba meredakan debaran jantungnya dengan mengambil nafas dalam lalu mengembuskannya dengan perlahan, lalu berjalan perlahan. Kakinya masih terasa pegal dan kaku membuat dia tak leluasa berjalan.
__ADS_1
"ah hampir lupa! telepon teh Tia dulu."
truuuttttt,,, truuuttttt,,
"halo, Na!"
"teh, sibuk gak?"
"lagi dijalan mau ke kantor, kenapa?"
"em,,, ya udah ntar aja deh, kalo teteh santei"
"ga apa-apa, Na! teteh juga baru jalan, masih butuh setengah jam baru nyampe kantor, gimana malam pertamanya?"
"nah itu yang mau aku obrolin, jadi aku udah nyobain ngelakuin apa yang teteh bilang tadi malem, tentu aja kecuali pake,,," Ana menghentikan kata-kata, dia melihat ke kanan dan kiri sebelum membisikan kata yang tabu menurutnya, "lingerie," bisiknya.
"heheeee,,, terus."
"tapi responnya biasa aja teh, gak gimana-gimana!"
"gak gimana-gimana, gimana maksudnya?"
"ya maksudnya cuek aja gitu, kayak gak terjadi apa-apa!" Ana terhenti saat sampai di pintu lift. "dia sih sempet keliatan kaget pas aku minta dia bukain resleting gaunku, tapi kesananya mah biasa aja, apalagi pas abis aku keluar kamar mandi pake handuk doank, dia malah kayak menghindar gitu! menurut teteh gimana?" lanjutnya lagi.
"ahahaaaaa,,," teh Tia yang akhirnya tertawa setelah menahannya sejak tadi, dia berusaha menahan tawanya agar bisa fokus mendengar cerita Ana.
"ari teteh, malah diketawain lagi!"
Wajah Ana jadi cemberut, mendengar teh Tia yang malah menertawakannya.
"Ana, Ana,,,"
"tau, ah! teteh mah!"
"heheee,,, maaf, Na! jangan marah, ya?! ehem! biasanya sih Na, kalo cowok normal dia gak akan tahan sama yang kamu lakukan, dia gak mungkin sebiasa itu! tapi kalo dia jadi menghindari, kemungkinan besar dia gak nyaman sama perlakuan kamu, Na!"
"jadi kesimpulannya apa teh? positif, negatif?"
"kayaknya positif deh, Na! ntar coba teteh tanyain ke temen teteh yang psikiater itu ya, nanti kalo udh ada kabar teteh kabarin."
"ok!" jawab Ana singkat, diapun kini sudah ada ruangan khusus sarapan tamu hotel.
Sementara itu mami Ambar serta beberapa saudara sedang menyantap sarapannya, sambil mengobrol santai ditemani ayah Agus dan mama Meti. keluarga besar lainnya belum turun karena mereka tidak harus terlibat dalam persiapan jadi mereka bisa datang saat acara dimulai, begitu juga dengan keluarga Ana kecuali Dini dan beberapa saudara sebayanya, yang bertugas menjadi pagar ayu, mereka ikut datang bersama ayah Agus dan mama Meti.
"itu teh Ana!" Dini menunjuk Ana yang baru datang, lalu melambaikan tangannya ke arah Ana agar menghampiri meja tempat mereka duduk.
"sayang kamu kenapa?" mami Ambar menyambut kedatangan Ana, dia memapah Ana yang berjalan tertatih.
"Mbar, kamu itu gak sopan nanya gitu sama pengantin baru!" seorang kerabat menjawab mami Ambar sebelum Ana sempat membuka mulutnya. Jawaban yang membuat semua orang tertawa kecuali Ana. Ana hanya tersenyum, dia belum mengerti apa yang dikatakan, dia masih memikirkan penjelasan teh Tia tadi.
__ADS_1
"Andre tuh! keterluan sekali! malam pertama sudah dihajar habis-habisan, kasiankan Ana!
"hahaaaa,,, wajarlah dia jomblo dari lahir!" Sakti menimpali.
'astaga! jadi mereka mengira jalanku aneh karena malam pertama kami?! sebelah tangan Ana menutupi keningnya.
"halo, Ana! kenalin aku sahabat sejati Andre, sakti!" Sakti mengulurkan tangannya, disambut oleh Ana sambil tersenyum.
'sakti?' Ana mencoba mengingat, dimana dia pernah mendengar nama itu.
"eh! dimana Andre?"
"ah! dia lagi mandi, sebentar lagi turun!" jawab Ana canggung.
Sementara di kamar hotel
toktoktok
"service room!" seseorang mengetuk pintu kamar.
Tak lama kemudian Andre membuka pintu.
ckrek!
"siapa?"
"maaf, call center memberi tahu kamar ini meminta service room, pak!"
"oh! masuk!" Andre mempersilakan seorang petugas service room itu masuk untuk membersihkan kamarnya, terutama kelopak bunga mawar yang menurutnya sangat mengganggu.
'sepertinya Ana yang meminta service room' batin Andre mengabaikan.
Karena Andre masih memakai baju dalam kamar, maka petugas service room memutuskan untuk membersihkan kamar mandi terlebih dahulu.
"maaf pak, ini mau dibuang?"
Andre mengerutkan keningnya,
"apa itu?"
Service room membuka kain yang dia pegeng. Kerutan kening Andre semakin mendalam, dia lalu meraih kain yang dipegang petugas service room itu.
"lingerie? ini punya siapa?"
"maaf, pak! itu ada di tempat sampah di kamar mandi! dan seperti biasa kami selalu membersihkan setiap kamar setelah dan sebelum ada tamu, jadi kemungkinan besar ini milik anda atau pasangan anda, pak!" petugas service room menjawab.
'ini milik Ana?!' batin Andre, dia terdiam mencoba mengingat lagi kejadian-kejadian yang terjadi setelah mereka masuk kamar tadi malem. Andre menyunggingkan senyuman, 'sepertinya bukan sesuatu yang berlebihan bila aku mengatakan kalo sebenernya tadi malam kamu memang berniat menggodaku, Ana?!'
"buang!" Jawab Andre tanpa basa-basi dan langsung dimasukan ke tempat sampah yang dibawa oleh petugas service room.
__ADS_1
"heh! Kamu meminta aku untuk tidak menyentuhmu sebagai syarat pernikahan kita, tapi kamu malah menggodaku?" Andre kembali tersenyum.
"kau ingin bermain? ayo kita bermain! aku harap kamu tidak mengecewakanku, Ana!"