
"Awalnya sih aku kira juga gitu, tapi setelah tadi ketemu lagi, kayanya aku udah berani bilang kalo aku tak punya perasaan apa-apa lagi padanya." Jawab Ana santai. Andre menegakkan kepalanya, dia lalu membalikan badan Ana.
"Apa kamu bilang, katakan sekali lagi?" Andre memegang kedua lengan Ana.
"Ya aku udah gak punya perasaan apa-apa sama dia, lagipula aku udah nikah, mau ngapain lagi?!" Andre membuang nafasnya lega, dia menyandarkan kepalanya di bahu Ana.
"Tunggu! Sebenarnya kenapa om marah?"
Andre terkejut mendengar pertanyaan Ana, dia kembali menegakkan kepalanya.
"Hah?"
Ana terdiam menunggu jawaban Andre.
"Kenapa?" Ana mengulangi pertanyaannya.
Andre mengerutkan keningnya, 'dia ini gak ngerti, apa pura-pura gak ngerti?!'
Ehem,,, ehem,,,
Andre berdehem mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia terlalu malu untuk mengatakan jika dia cemburu.
Ssssttt,,, Andre pura-pura meringis memegang bibirnya. Ana yang melihat suaminya meringis langsung memegang bibir suaminya, menyeka darah yang hampir mengering.
"Sakit? Maaf,,, lagian siapa yang duluan gigit,,, ya aku,,," sesaat Ana berpikir lalu membelalakkan matanya saat tersadar.
Deg, deg
Ana melangkah menjauhi suaminya, dua tangannya menutup bibirnya seakan tak percaya.
'bukankah dia gay? Apa gay juga bisa memiliki hasrat pada perempuan?' Ana menggelengkan kepalanya beberapa kali. 'tidak!'
"Ada apa?" Andre bingung dengan apa yang istrinya lakukan, dia berjalan mendekati Ana, sementara Ana terus berjalan mundur menjauh.
"Ana!" Andre memanggil istrinya yang masih terlihat terkejut.
"Stop! Jangan mendekat!"
"Ana, jangan marah, aku mohon, aku minta maaf, aku tak akan mengulanginya lagi, aku janji! tadi aku sedikit emosi jadi aku hilang kendali. Aku, aku,,, aku cemburu!"
Andre mengira Ana marah karena dia memaksa menciumnya.
"Cemburu?" Ana mengulangi kata terakhir yang Andre ucapkan.
"Ehem,,, itu,,! Bukankah wajar kalo aku cemburu melihat istriku berpegang tangan dengan laki-laki lain?!" Andre sedikit malu mengakui perasaannya.
"Tunggu! Om! Bukannya Om itu, gay?"
"Apa?" Untuk kesekian kali Andre terkejut dengan pertanyaan Ana.
"Apa kamu bilang?" Andre mengulang pertanyaannya.
"Ah, maaf aku terlalu berterus terang, tapi apakah gay juga bisa cemburu sama perempuan?"
"Astaga Ana, kamu kira aku gay?"
"Bukankah begitu?!"
Hati Andre mencelos mendengar pernyataan Ana, tubuhnya tiba-tiba lemas tak bertenaga.
"Tunggu! Ana, sejak kapan kamu mengira aku gay?"
"Emmm itu,, sejak sebelum nikah?" Ana menjawab dengan santai.
"Apa? Jadi selama ini kamu mengira aku gay? Selama kita nikah, kamu mengira aku gay?"
__ADS_1
"Memangnya bukan ya?!"
"Siapa yang bilang aku gay?" Ana terdiam, dia tak mungkin mengatakan pada suaminya kalo dia tahu dari teh Tia dan teh Tia sudah mengkonfirmasi kebenarannya lewat Weni.
Ana bingung sendiri, dia harus bilang dari siapa sekarang.
"Ah itu, dari temannya teh Tia, katanya seluruh karyawan di perusahaan juga sudah tahu,"
"Astaga! Dan kamu percaya itu?"
"Sial! Aku memang sengaja tak menghilangkan rumor itu agar tak ada perempuan yang berani menggoda ku lagi, sekarang malah istriku sendiri yang termakan rumor itu."
'tunggu apa selama ini dia nyaman di dekatku karena berpikir aku gay? karena dia pikir aku tak akan menyentuhnya? Jadi yang terjadi selama ini bukan karena dia sudah menerimaku melainkan karena dia berpikir kalau aku gay,' Andre mengusap wajahnya dengan kasar.
"Om jangan marah, maaf!" Ana yang melihat Andre sedang gusar mencoba menenangkannya.
"Ana kalo aku bukan gay, menurutmu gimana?"
"Ya tentu saja lebih baik, berarti Om normal kan," Ana menjawab dengan spontan.
Andre merengkuh tubuh Ana agar masuk ke dalam pelukannya.
"Benarkah? Kau senang jika aku bukan gay?"
"Tentu saja, bukankah lebih keren jadi laki-laki sejati," Ana membalas pelukan Andre.
"Jadi kau lebih suka aku jadi laki-laki normal?"
"Hm" Ana menjawabnya dengan cepat.
"Benarkah?"
"Hm" kecepatan bertambah.
"Kalau begitu! Maukah kamu menjadi istriku yang sebenarnya?!"
Lalu tiba-tiba Ana mendorong tubuh Andre,
"Apa?"
Andre menatap mata Ana.
"Apa, apanya?" Andre bingung dengan pertanyaan Ana.
"Tadi nanya apa? Istri yang sebenarnya?"
"Yah, sekarangkan kamu tau kalo aku bukan gay, aku juga ingin punya kehidupan rumah tangga yang utuh, termasuk memiliki anak darimu,"
"Aaaahhhhh,,, " Ana berteriak sambil berjalan mundur dengan cepat, kedua tangannya menyilang di dadanya.
"Dasar mesum!"
Andre membuang nafasnya kasar.
"Bukankah tadi kamu menyetujuinya?"
"Kapan aku menyetujuinya?"
'astaga! Beginilah rasanya punya istri yang telat dalam berpikir,"
"Jadi Om bener-bener bukan gay?"
"Menurut mu?"
"Lalu bagaimana dengan mas Sakti, bukankah kalian pasangan?!"
__ADS_1
"Apa?"
"Jadi kalian bukan, gay?"
"Ana, sini!" Ana mendekat satu langkah jadi jarak mereka masih terpisah beberapa langkah, Ana tak berani terlalu dekat.
"Ck! Ini masih jauh, mendekatkan!" karena Andre melihat Ana tak mau mendekat, maka dia yang mengalah mendekati Ana. Ana menciutkan tubuhnya tapi tak berani bergerak. Saat berhadapan dengan istrinya Andre mulai mengetuk kepala istrinya berkali-kali dengan telunjuknya sambil mengomel.
"Kamu ini! Berani beraninya memfitnah suamimu sendiri, mendzolimi suamimu sendiri, mencela suamimu sendiri, kamu tahu berapa besar dosanya?" Andre benar-benar tak habis pikir dengan istrinya, mengapa bisa dengan mudah percaya kalo dia gay.
"Aw,, aw,,, aw,,,,"
"Udah ngerti sekarang?"
"Iya! Jangan diketuk lagi, sakit!"
"Sekarang karena sudah terlalu banyak dosamu pada suamimu, jadi kamu harus menebusnya!"
"Gimana cara aku menebusnya?" Ana mengelus keningnya yang masih sakit.
"Tentu saja dengan menjadi istri yang sebenarnya?"
Andre terus membujuk Ana, dia rasa ini saatnya membuat Ana benar-benar menjadi istrinya. 'semoga kali ini dia tak telat berpikir lagi,' batin Andre.
Ana terdiam
"Aku gak akan memaksamu jika kamu belum siap, bisakah kamu kasih kesempatan untuk hubungan kita?"
"Eeemmmm,,, bener ya jangan maksa! janji?" ana menyipitkan matanya menatap sang suami.
"Hem,,," Andre mengangguk. Dia lalu memeluk tubuh Ana dengan erat. 'semoga ini jadi awal yang baik!'
"Sini aku lihat bibirnya, ada obat gak?" Ana melonggarkan pelukannya.
"Di laci," Andre duduk di sofa. Setelah Ana mengambil kotak obat dia mulai mengoleskan obat di bibir Andre dengan menggunakan cottonbud, sebelumnya Ana membersihkannya terlebih dahulu menggunakan air bersih dan kapas.
"Bagaimana dengan bibirmu, masih sakit?"
Ana menggunakan ujung lidahnya untuk ******* bibir hingga terlihat basah, sungguh membuat Andre ingin mengulang ciumannya.
Kruuuukkkk
Andre tersenyum, Ana menurunkan tangannya yang selesai mengoleskan obat.
"Aku laper," keluh Ana.
"Aku juga belum makan, ayo makan," Andre berdiri, berjalan menuju pintu sambil memegang tangan Ana.
Andre membuka pintu ruangannya dan sudah ada Weni dan Sakti yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa?"
Weni dan Sakti menatap Andre dan Ana bergantian. Weni sewot saat melihat bibir Andre terluka.
"Mas, kamu terluka?" Weni hendak memegang bibir Andre namun ditepis perlahan oleh Andre.
"Aku baik-baik saja, Ana laper, aku mau membawanya ke kantin, bisakah kalian memberi sedikit jalan?"
Sakti yang baru sadar kalo dia dan Weni sudah menghalangi jalan menyingkir beberapa langkah, tapi tidak dengan Weni. Dia merasa kesal karena Andre tak mau dia sentuh, dia bahkan melihat Andre memegang tangan Ana.
"Ah, Sakti, suruh cleaning servis bereskan ruangan ku, sekalian awasi jangan sampai ada berkas yang hilang!"
"Ok!" Sakti menghela nafas lega. Dilihat dari raut wajah Andre sepertinya mereka sudah berbaikan, pikir Sakti. 'syukurlah semoga ini jadi awal yang baik,'
"Biar gue gak babak belur terus!" Gumamnya.
__ADS_1
Sementara Sakti mengucap syukur berbeda halnya dengan Weni yang terus mengutuk dalam hatinya. Dia menyesal kenapa saat dia ingin mengikuti Andre keluar ruang meeting malah tak jadi gara-gara Sakti menghentikannya, dan sekarang mala membuat kesempatan buat mereka berduaan.