Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
78


__ADS_3

Satu jam perjalanan sudah mereka lalui, mobil mereka sudah mulai memasuki pusat kota.


“yah ujan,,,”


“hm,,,”


“yah, gimana dong!” Ana sewot saat hujan rintik-rintik mulai memenuhi kaca mobil depan, hingga Andre menyalakan wiper agar pandangnya tak tertutup.


“tenang aja, pertunjukan spectra light tetep ada walau hujan,”


“serius?”


“hm, kita hanya harus cepat sampai, agar tak ketingalan pertunjukannya.”


Saat sampai di parkiran, jam sudah menunjukan pukul sepuluh kurang sepuluh menit.


“cepetan ih, udah mau jam sepuluh!”


“sabar An, kita harus cari dulu payung,” Andre keluar dari mobil, baru saja dia hendak melangkahkan kakinya, Ana sudah menarik tangannya agar berjalan dengan cepat untuk memburu waktu.


“An, mau kemana?”


“gak usah cari payung, nanti ketinggalan, katanya pertunjukannya Cuma lima belas menit, gak apa-apa kita ujan-ujan sebentar doang kok!”


“Baiklah, tapi kamu salah arah,” Andre balas menarik tangan Ana untuk kembali ke arah yang seharusnya. Karena perjalanan cukup jauh jika berjalan kaki, sementara mereka diburu waktu, akhirnya andre meminjam sepeda,”


“satu aja, biar cepet, nanti kamu nyasar lagi,” tanpa pikir panjang lagi Ana langsung naik di jok belakang sepeda.


“asa i-indiaan kieu, hahaaaa,,,”


“apa?” Andre yang tak mendengar jelas apa yang dikatakan Ana kembali bertanya namun tak dihiraukan Ana.

__ADS_1


“Ayo goes! Semangat!!!” Ana berteriak seiring meluncurnya sepeda yang dikendarai oleh suaminya.


Di tengah hujan rintik-rintik yang semakin deras Andre terus melajukan sepedanya menyusuri


jalanan hingga mulai memasuki kawasan Marina Bay, Dia mulai memperlambat laju sepedanya.


Alunan musik lemut mulai terdengar seiring lampu laser menyala menari diantara perpaduan air mancur yang tak kalah dari air hujan. Para turis yang sengaja datang untuk menyaksikan Spectra A Light and Water Show berjajar dengan teratur di sepanjang jalan Marina Bay, kebanyakan mereka memakai payung. Hujan tak mengurungkan niat mereka untuk menikmati pertunjukan spektakuler


yang memanjakan mata dengan warna warni dari lampu proyektor.


Andre menghentikan sepedanya, Ana terdiam menikmati tarian proyektor visual yang begitu


menakjubkan di depan matanya. Hingga lima belas menit kemudian alunan musik pengiring spektra light berhenti menandakan pertunjukan selesai dan membuat orang mulai membubarkan diri.


“ayo!” Andre memegang tangan Ana, memberi isyarat untuk kembali, dia takut hujan akan


bertambah deras. Ana kembali duduk di jok belakang sepeda, Andre mengendarainya kembali ke arah sebelumnya dan berhenti di tempat penyewaan sepeda.


"kita tunggu hujan aga reda sedikit,"


Ana memandangi sekeliling, tak disangka dia sekarang sedang berada di salah satu mall terbesar dan terkenal di Singapura. Semakin lama Ana menyadari semua orang menatap ke arah mereka, mungkin karena basah kuyup, pikir Ana. Hingga Andre membuka jasnya dan memakaikannya padanya, membuat Ana mengerutkan kening. Sama-sama basah untuk apa dipakaikan padanya, pikir Ana. Juga tingkah Andre yang berubah membuat Ana semakin curiga, Andre mendekatinya, seperti sedang menghalangi sesuatu. Hingga Ana melihat baju Andre yang basah kuyup dan melekat ke kulitnya, terlihat jelas tubuh kekar dan perutnya yang sixpack barulah dia menyadari keadaannya yang basah kuyup kemungkinan membuat bajunya pun sama dengan baju yang dipakai suaminya, yaitu melekat membentuk tubuh. Saat Ana melihatnya, barulah dia sadar bajunya yang basah kuyup melekat ditubuhnya membuat bentuk tubuhnya terlihat jelas, apalagi kemeja yang dia kenakan berwarna putih dengan warna dalaman yang kontras terlihat sangat jelas. Secara spontan Ana memeluk tubuhnya membuat Andre menyadari ketidaknyamanannya. Walaupun jas miliknya cukup menutupi hampir seluruh tapi jika dibiarkan terlalu lama maka kemungkinan membuat Ana masuk angin. Akhirnya Andre Manarik Ana berjalan cepat ke arah lift, Ana melihat nomor lantai yang Andre pijit.


"mau kemana?"


"hujannya terlalu deras, kita gak mungkin kembali sekarang," Ana malah mengerutkan keningnya semakin dalam, sungguh dia tak mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya. Hingga pintu lift terbuka di lantai 57, ternyata adalah sebuah hotel.


"hotel?"


"ya, kita tinggal disini malam ini,"


"oh,"

__ADS_1


Dan pada saat check in hotel mereka sempat tidak sependapat untuk masalah kamar, Andre kekeh dengan suite room sementara saat Ana tahu fasilitas suite room yang segambreng tapi sudah pasti tidak akan efisien digunakan semua karena mereka hanya akan tinggal satu malam bahkan tidak akan sampai dua belas jam jadi dia lebih memilih yang deluxe. Toh hanya digunakan untuk tidur saja pikir Ana terlalu boros jika mengambil kamar yang suite.


"grand club, titik! gak ada negosiasi lagi!" Ana menghela nafasnya, suaminya mungkin sudah terbiasa dengan fasilitas mewah saat menginap di hotel sehingga saat Ana menawarkan kelas deluxe, Andre merasa keberatan. Akhirnya Ana menyerah, yang penting bukan suite class, karena terlalu besar dan mewah.


"baiklah," akhirnya Ana menyerah dan hanya mengikuti keinginan suaminya untuk kali ini, karena sejujurnya dia sudah sangat kedinginan, sekujur tubuhnya basah kuyup.


Setelah mendapatkan cardlock, mereka diantarkan oleh seorang porter menuju kamar hotel tempat mereka akan menginap.


tiitttt,,,


Pintu kamar terbuka, Andre memberikan tips pada sang porter yang menandakan pekerjaannya sudah selesai. Ana masuk duluan, ternyata kelas grand club pun besar dan juga mewah. Masih terdapat ruang tamu dengan sofa yang lengkap, dan yang membuat Ana terpukau adalah view dari kaca jendelanya adalah harbour dengan gemerlap lampu ditengah lautan, sangat indah.


"mandilah dulu," Ucap Andre sambil membuka kemejanya yang sudah sangat ingin dibukanya sejak tadi.


"iya," Ana berbalik dan melihat suaminya yang sedang buka baju, seperti biasa tubuh suaminya selalu terlihat seksi kapanpun dia melihatnya bahkan saat memakai baju lengkap pun, suaminya terlihat modis dan seksi. Ana menundukan kepalanya, rona di pipinya mulai berubah merah, setiap kali masih seperti itu, jantungnya pun mulai berdetak kencang.


"yang mandi siapa dulu?" Ana bicara masih dengan menundukkan kepalanya.


"kamu dulu aja, aku cuma buka baju doang, gak enak lengket,"


Ana berjalan masuk ke kamar mandi dengan cepat.


Saat di kamar mandi Ana mulai melepas satu persatu baju yang melekat di tubuhnya, hingga iya sadar kalo dia tak membawa tas ranselnya yang berisi baju ganti.


"aduh! baju gantiku di mobil, gimana ini?!"


Bahkan baju dalamnya pun tak bisa terselamatkan, semua basah. Ana mulai sedikit gelisah, bukan hanya Ana sebenarnya Andre pun memikirkan hal yang sama.


****


happy long long long weekend guys,,, 😁

__ADS_1


__ADS_2