Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Resepsi hari 1


__ADS_3

Hari ini tamu yang di undang dikhususkan dari relasi perusahaan MF termasuk sebagian karyawannya, karena perusahaan harus tetap berjalan jadi undangan dilakukan dengan sistem shift dalam tiga hari ini. Membuat Andre sibuk menyambut para tamu, Ana yang tidak mengerti apa-apa dan tidak mengenal siapapun lebih banyak diam dan tersenyum saat mengikuti Andre berkeliling menyapa tamu. Konsep dari resepsi adalah mempelai yang menyambut, jadi mempelai tidak selalu berada di pelaminan, tetapi ikut serta berbaur dan menyambut tamu. Itu sebabnya gaun pengantin Ana dibuat sesimpel mungkin.


Walaupun simpel Ana tetap menjadi pusat perhatian, bertema brukat, gaun panjang dengan model Sabrina membalut tubuh sintal Ana menjadi terlihat sangat anggun dan elegan. Rambut panjangnya ditata rapih membentuk sanggul modern berhiasakan potongan berlian yang berbentuk beberapa bintang disematkan di salah satu sisi rambutnya, membuat dia terlihat cantik, elegan dan dewasa secara bersamaan.


"kenapa?" Andre menghentikan langkahnya saat tersadar langkah Ana melambat.


"kakiku sakit"


"ayo, kita istirahat dulu" Andre memapah Ana menuju salah satu kursi di dekatnya.


"gak apa-apa, aku istirahat sebentar, om lanjut aja" Ana tak ingin menghambat Andre menyapa relasinya. Penting baginya menjaga hubungan baik dengan relasinya, itu untuk kelangsungan bisnis mereka ke depannya.


"tak apa, masih banyak waktu, aku ambilkan minum" Andre berdiri melambaikan tangan meminta seorang pramu saji yang membawa nampan berisi beberapa gelas jus dan air mineral mendekat padanya.


"air mineral aja" Ana memberi instruksi pada Andre agar mengambilkan air mineral untuknya "makasih" sambung Ana setelah Andre memberikan minuman yang Ana minta. Ana yang ingin menghubungi teh Tia dengan sengaja menyuruh Andre untuk kembali meneruskan menyapa relasinya.


"kamu yakin? aku akan menyuruh Weni menemanimu disini"


"em, pergilah"


Tak lama setelah Andre pergi, Weni pun datang. Dengan muka yang terlihat enggan dia duduk berhadapan dengan Ana, dia menatap Ana dari atas hingga bawah seperti ingin menelannya hidup-hidup. Ana tak mempedulikan keberadaan Weni, dia mulai menghubungi teh Tia, sayang tidak langsung di balas.


"kenapa kamu mau nikah sama mas Andre?"


Weni membuka pembicaraan setelah melihat Ana menyimpan ponselnya.


"memangnya kenapa?" Ana menjawab tanpa menatap Weni.


"jangan bilang kamu gak tau apa alasan mas Andre menikahimu?!" Ana menatap Weni dengan tajam.


"memangnya kenapa kalo aku tau?"


"bagus kalo kamu tau! jadi, kamu jangan terlalu geer kalo mas Andre baik sama kamu! nanti kamu mengira mas Andre suka sama kamu!"


Ana menyipitkan matanya menatap Weni, begitupun Weni yang masih tak lepas pandangannya dari Ana.


"kamu harus tau tempatmu, dia baik padamu karena dia butuh kamu, jika urusannya sudah selesai, jangan harap kamu ada tempat di sisinya, kamu tidak pantas!" lanjut Weni.


'njir! ngajak gelut yeuh jelema!' (njir! ngajakin berantem nih orang!) tangan Ana mencengkeram ponsel dengan erat.


tring!


Suara chat group masuk.


Suara ponsel Ana mengalihkan perhatiannya, 'Stela' batin Ana yang tadinya panas sekarang mulai mereda setelah melihat pesan Stela.


Stela : woooiiiii,,, penganten baru, apa kabaaaarrrr????


Ana tersenyum, sudah beberapa hari ini Stela sibuk membantu kakaknya di Kuningan, entah apa yang membuatnya sulit dihubungi, sekarang dia kembali tentu saja tak akan Ana sia-siakan.


Ana : ngapain teriak-teriak! beribisik!


Stela : ahahaaa,,, sejak kapan text ada suaranya? bodor maneh mah!


Ana : kamana wae maneh?

__ADS_1


Stela : heheee,,, sibuk ngurus orok! lucu nyaho, maneh iraha boga budak? baelah urang jadi baby sitter na.


Ana : wah kejauhan non!


Stela : sugan ges belah duren?


Ana : belah duren ti Hongkong


Stela : wkwkwkwk,,, kesian! durennya masih utuh dong, neng! hahaaaa,,,


Ana : iya nih, dijual laku gak ya?


Stela : hus! sembarang ngomong teh!


Teh Tia : hahaaaa,,, berapa neng duren montoknya? eh Montong? wkwkwkwk,,,


Ana : wah, teh Tia ketularan sengklek!


teh Tia : iya nih! banyak digauli kalian, hahaaaa,,,


Stela : hahaaaa,,, sorry ya, gua gak tuh!


teh Tia : gak apa?


Stela : gak sengklek!


Ana : gak sengklek dikit!


Stela : wkwkwkwk,,, katularan ti maneh!


terus katanya, emang susah diobati, sampe sakarang belum ada pengobatan yang berhasil katanya! cuma kalo mau usaha mah cobain dulu aja cenah.


Stela : wah berat uy!


Ana : 🤦‍♀


nyoba? caranya?


teh Tia : caranya pertama jauhkan dia dari teman-teman sejenisnya, dari pasangan gay nya! terus biasanya kan punya komunitas, nah itu harus dijauhkan!


Ana : wadesig!


Stela : copas Ana


Ana : @Stela, maneh mah nurutan wae!


Stela : lain nurutan, kapiheulaan! (nurutan\=ngikutin, kapiheulaan\=keduluan)


Ana : eh! yang namanya Sakti itu, pasangan gay nya ya teh?! aku tadi ketemu da, tapi kok gak keliatan melehoy ya teh?


teh Tia : iya! Maco banget malah ya, hampir sama sama pak Andre. Tapi katanya, Na! emang gitu mereka tuh bakalan ngeliatin sifat aslinya kalo udah berduaan sama pasangannya atau berada di komunitas. Biasanya salah satunya bakalan memperlihatkan sifat ceweknya, kaya lemah, minta dilindungi, gitu!


Stela : hahaaaaa,,,, ih geleh, teu kabayang!


Ana : hahaaaaa,,, jadi gimana atuh, aku harus apa?

__ADS_1


teh Tia : gini aja dulu katanya, kamu temenan dulu aja, jadi buat dia nyaman dengan keberadaan kamu, nanti kalo dia udah percaya sama kamu, dia pasti terbuka, nah kalo udah kaya gitu kamu bisa masuk, Na! buat dia sadar bahwa berhubungan dengan wanita lebih nikmat! hahaaaaa,,,


Ana : astaga!🤦‍♀


Stela : @Ana, terserah kamu aja, Na! yang penting jangan jualan duren, hahaaaa,,, @teh Tia, uedaaannn! nikmat apanya teh? jadi penasaran! hahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,


Tanpa sadar Ana tersenyum-senyum sendiri.


"lagi ngapain? senyum-senyum sendiri!" Andre menggeser kursi sebelah Ana untuk duduk, Ana langsung menutup ponselnya begitu sadar Andre sudah disebelahnya.


"eh! heheee,,, udah beres?" Ana tersenyum canggung.


"hai, Ana!" Sakti melambaikan tangan, menyapa Ana lalu duduk disamping Weni. Ana membalasnya dengan tersenyum.


"kenapa? chatting sama siapa?" Andre memotong interaksi Sakti dan Ana.


"sama teh Tia, sama Stela, jadi gimana kita harus keliling lagi?"


"ngomongin apa?" Andre tak menggubris pertanyaan Ana, dia mencoba meraih ponsel di tangan Ana.


"apaan sih! kepo! ini urusan cewek tau!" Ana menjauhkan tangan yang memegang ponsel yang ingin diraih Andre.


"ck!" Andre berdecak tak suka.


"dih! gitu aja ngambek! ntar cepet tua, loh!"


"kamu gak usah khawatir, walaupun aku cepet tua, ketampananku tak akan luntur!"


"idih! narsis tingkat dewa! kalo cepet tua, berarti cepet mati! ya gak apa-apa sih, aku tinggal nyari lagi suami yang lebih tampan dan lebih kaya!" Ana tersenyum sambil mengangkat bahunya tanda tak peduli.


"aawww!" Ana mengaduh saat tiba-tiba hidungnya ditarik Andre.


"berani ya kamu nyumpahin suamimu mati!"


"aaaaawwww,,, gak berani, gak berani, Ampun ampuuunnn, sakiiitttt!" Andre melepaskan jepitan jarinya dari hidung Ana.


Sementara itu Sakti dan Weni hanya bisa melongo melihat interaksi mereka yang terlihat sangat dekat dan tidak dibuat-buat.


'sejak kapan Andre bisa sedekat ini sama perempuan?' batin Sakti.


'kenapa bisa? mas Andre bahkan tak pernah memperlakukan aku seperti ini' wajah Weni muram seketika.


"jahat banget sih, Om! tuh kan merah! aaaa make-up nya luntur tau!"


"mau dipakein make-up setebel apapun juga kamu tetep jelek, Ana!"


"huh! jahat! orang mah bersyukur dikasih istri cantik! ini malah dikatain jelek!"


"pppttt! hahaaaaaa,,, mesra banget sih kalian!" Sakti menanggapi.


Tiba-tiba seseorang mendekat.


"Ana!"


Suara laki-laki menyapa Ana dari arah belakang.

__ADS_1


__ADS_2