Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
Nyonya Andre 2


__ADS_3

Brak! Ana menutup pintu kamar mandi dengan sedikit kasar.


Andre tertawa terbahak-bahak melihat reaksi istrinya.


'astaga, dia benar-benar imut, juga,,, seksi!' penampilan Ana yang menggunakan kaos oblong miliknya hanya menutupi setengah paha saja juga rambut yang terurai basah membuatnya terlihat segar cukup membuat jantung Andre berdebar.


Mungkin suami istri yang sebenarnya bukanlah seperti ini, tapi ini justru membuat Andre merasa lebih hidup dan gairahnya mulai bangkit kembali. Setelah sempat dia kubur selama hampir sepuluh tahun karena cinta pertamanya yang tak dapat dia miliki.


Andre kembali ke tempatnya semula meneguk teh yang sempet tertunda karena ulah istri kecilnya, dia masih tak berhenti tersenyum bahkan saat dia menikmati tehnya.


Kemudian dia melirik sesuatu di tengah ruangan, koper milik istrinya yang ditinggalkan berlari karena panik akibat kejahilannya.


Sepertinya ada sesuatu dalam kopernya yang membuatnya memaksa keluar dalam keadaan basah seperti itu, pikir Andre.


toktoktok


Andre mengetuk pintu kamar mandi dengan koper ditangannya.


Deg!


Ana yang sejak tadi masih berusaha menenangkan berdetak jantungnya kini malah dikejutkan kembali dengan suara ketukan pintu.


'ngapain lagi sih tuh orang?! gak cukup apa bikin orang jantungan! kalo gini lama-lama aku kena penyakit jantung beneran! hiks!'


"An, buka pintunya"


"mau ngapain?"


"bukannya kamu mau ngambil koper?!"


'astaga!' Ana menepuk jidatnya saat dia tersadar dia tak membawa kopernya saat berlari karena panik tadi.


Ceklek


Ana membuka pintu kamar mandi, hanya celah saja dan tangannya terjulur keluar.


"sini!"

__ADS_1


Andre menggelengkan kepalanya saat melihat tangan Ana terjulur meminta diberikan kopernya.


Andre mengangkat koper memberikan tepat pada tangan Ana. Ana yang tak siap dengan berat kopernya membuat dia hampir terjepit sendiri.


"ugh!" Ana mengeluh sendiri, tak lama dia mulai membuka lebih lebar pintu kamar mandi agar kopernya bisa masuk.


Andre kembali ke tempat tidur, kali ini dia benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya.


Selang beberapa saat Ana keluar dengan menggunakan setelan baju tidurnya, lalu beranjak menuju tempat tidur di samping suaminya. Dia sempat melihat wajah tenang suaminya saat tertidur, ini bukan yang pertama tapi tetap saja membuat dia selalu merasa kagum akan ketampanan suaminya.


Keesokan harinya


"hei bangun! katanya kuliah pagi!" Andre menepuk pipi Ana lembut.


"ugh!" Ana menyingkirkan tangan Andre yang menepuk pipinya lalu kembali tidur dan memeluknya.


"hei! Ana! Bagun!" Andre kembali menepuk pipi istrinya. Ana mengernyitkan keningnya, dia membuka matanya dan langsung disuguhkan pemandangan yang indah yaitu wajah suaminya. Ana membelalakkan matanya memaksakan kesadarannya namun dia masih tak melepaskan pelukannya. Andre tersenyum lalu berbisik di telinga istrinya.


"kamu boleh peluk aku lagi tapi nanti setelah salat subuh, ok?" ucapan Andre membuat kesadarannya kembali sepenuhnya, tentu saja membuat dia melepas pelukannya dan menjauh.


Andre terkekeh dengan reaksi istrinya, bukan dia enggan dapat pelukan hangat namun akal sehatnya yang tak ingin melewatkan satu waktupun untuk berkomunikasi dengan Robb nya. Andre bangun dari tidurnya, berjalan menuju kamar mandi. Ana yang masih belum mudeng dengan apa yang terjadi terduduk di tempat tidur, mengusap mukanya beberapa kali.


"udah puas ngeliatnya?"


Ana terkesiap mendengar ucapan Andre, dia mengerjapkan matanya beberapa kali.


"wudu gih! gak lagi mens kan?!" Andre meneruskan sambil menatap ke arah istrinya yang masih terbengong di tempat tidur.


'astaga! kenapa dia harus mengungkit masalah pribadi wanita sih?!' Ana memalingkan wajahnya merasa malu dengan ucapan suaminya. Dia turun dari tempat tidur lalu berlari ke kamar mandi.


"mau jemaah gak?" Andre berkata dengan setengah berteriak agar Ana bisa mendengarnya dari balik pintu kamar mandi.


"mau!!!" jawab Ana yang juga setengah berteriak.


Ini kedua kalinya Ana berjemaah dengan suaminya, kemarin magrib juga isya pun mereka sempat berjemaah tapi tentunya tidak hanya berdua dan suaminya bukanlah yang menjadi imam melainkan ayah Agus. Artinya ini adalah salat jamaah pertama bagi mereka berdua. Entah kenapa ada getaran yang tak dapat Ana mengerti tapi yang pasti itu membuatnya nyaman. Dan juga Ana tak menyangka jiga suaminya sangat fasih saat membaca surah dalam salatnya, kagum tentu saja, suaminya imam salat yang baik, sayangnya tidak dalam kehidupan rumah tangganya, menurut Ana.


Pagi menjelang semua orang mulai disibukan dengan aktifitas hariannya. Sebelum Ana pergi dia sempat membereskan pakaiannya dan beberapa barang pribadinya, karena akhirnya dia memiliki kamar sendiri, setelah beberapa drama dengan suaminya yang tetap menginginkannya untuk berada satu kamar di kamar utama dengannya. Alasannya tentu saja dia tak akan melakukan apa-apa pada Ana kecuali Ana mengijinkannya. Tapi argumen itu Ana patahkan dengan perjanjian yang sempat mereka buat disalah satu poinnya yaitu pisah kamar.

__ADS_1


Andre yang baru kali ini kalah dalam berargumen menekuk mukanya selama mereka sarapan, dia bahkan tak menjawab pertanyaan saat Ana menanyakan apa dia akan diantar sopir atau pakai taxi online.


"ye,,, Pundungan!" Andre tak membalas cibiran Ana, tapi tatapan Andre cukup membuat Ana sedikit merinding. 'sadis bener ngeliatnya!' batin Ana sambil mengoleskan selai di rotinya. Sementara sarapan untuk Andre, Weni yang menyiapkan. Awalanya Ana merasa aneh tapi akhirnya dia tak menghiraukannya, bukan urusannya pikir Ana. Tak lama Sakti pun tiba, menjemput atasan juga sahabatnya sekaligus meminta jatah sarapan.


"Wah akhirnya nyonya Andre tiba! gimana malam pertama di rumah barunya, nyonya?"


"uhuk!" Ana tersedak saat tiba-tiba Sakti berkata sambil menepuk punggung Ana yang kebetulan sedang menelan makanannya.


"Ups! sorry! are you ok?" Sakti mengambilkan minum untuk Ana, sebelah tangannya menepuk-nepuk punggung Ana untuk meredakan batuknya.


"heh! jauhin tangan lu!" Andre mendekati Ana menepis tangan Sakti. Sakti yang merasa seperti ditodong refleks mengangkat tangannya.


"wow! tenang bro! gue cuma bantuin doank! gak ngapa-ngapain!"


"minggir lu!" Andre menyingkirkan Sakti agar menjauh dari Ana dan menggantikan Sakti menepuk punggung Ana. Sesaat kemudian suara tawa Sakti terdengar membahana. Diikuti tatapan tajam Andre yang membuat Sakti langsung terdiam tanpa kata.


"udah ih, aku udah gak apa-apa!" Ana menepis tangan Andre yang menepuk-nepuk terus punggungnya.


"kamu diantar mang Imam, ingat! pulang langsung pulang!" Andre menegaskan.


"ck!"


Perlakuan Andre pada Ana membuat Weni merasa tak nyaman, dia bahkan menumpahkan gelas kopi yang hendak dia bawa ke tepi meja tempat Sakti duduk.


"astaga!" Sakti yang sedang duduk langsung berdiri menghindari siraman kopi agar tak mengenai bajunya.


"maaf mas, tangan aku licin" bicara Weni sedikit gugup sambil berusaha mencari lap untuk membersihkan meja.


"biar saya yang bersihkan, mbak Weni" Salah satu art yang sejak tadi berdiri dipinggir bersiap siaga jika dibutuhkan majikannya akhirnya beraksi dengan langsung melap meja yang terkena tumpahan kopi.


"kamu ini, untung gak kena bajuku"


"maaf"


"om, aku pergi duluan ya!" Ana menggapai tangan suaminya untuk menyaliminya lalu berjalan keluar rumah dengan tergesa-gesa dan potongan roti masih di mulutnya


"hei, An! hati-hati!"

__ADS_1


Ana membalasnya dengan mengacungkan tangan dan jari membentuk tanda "ok"


Andre hanya menggelengkan kepalanya.


__ADS_2