
Jarak tempuh dari tempat tinggalnya yang sekarang ke kampus lebih jauh dari pada dari rumah teh Lia, membuat Ana harus pergi lebih awal. Tidak sulit juga sebenarnya, hanya saja karena belum terbiasa membuat Ana merasa kerepotan sendiri, tapi mau tak mau dia harus cepat membiasakan diri karena selama dia menjadi istri Andre tentu saja dia akan tinggal di rumahnya. Lagipula sudah ada mang Imam yang akan mengantar jemputnya juga tentu saja sesuai janjinya Andre akan menjamin biaya hidup Ana sampai kesepakatan mereka berakhir. Paling tidak sampai dia lulus S2, begitu pikir Ana. Lumayan jadi tak perlu bekerja tapi sudah punya biaya untuk hidup dan kuliah. Tidak harus menyusahkan orang tuanya, dia juga akan bercerai setelah dua tahun, tidak terlalu dekat waktunya dan Ana yakin itu tak akan membuat keluarganya curiga dengan kesepakan mereka, rencana yang sempurna bukan! Tapi memang tak ada yang gratis di dunia ini, Ana mendapatkan kemudahan dalam materi tapi dia harus mengorbankan statusnya, pada akhirnya dia akan menjadi seorang janda.
Baru dua bulan saja dia menjadi mahasiswa strata dua ini, belum ada teman yang dekat dengannya tapi untuk sekarang dia lebih nyaman bersama dengan perempuan, selain karena statusnya sudah berubah, dia juga tak ingin secara tidak sengaja jatuh cinta jika terlalu dekat. Walaupun pernikahan mereka tak lebih hanya sekedar kesepakatan dan juga tak ada teman kampusnya yang tahu, tapi tetap saja statusnya adalah istri orang.
"Ana,,,,!" seseorang memanggil Ana saat mobilnya meluncur pelan memasuki gerbang kampus. Ana sengaja membuka kaca jendela begitu memasuki wilayah sekitaran kampus, udara pagi disekitar terasa sangat sejuk karena daerah kampusnya masih sangat banyak pohon besar di sepanjang jalannya. Ana menoleh ke arah suara berasal dan langsung meminta mang Imam menghentikan mobilnya saat tahu siapa orang yang memanggilnya. Mia teman pertama yang Ana kenal saat pertama masuk kelas menepikan sepeda motornya tepat di sebelah pintu mobil tempat Ana duduk.
"wah gak pake ojol lagi? banyak duit lu sekarang?!"
"wkwkwkwk,,, yoyoy! mulai sekarang gue jadi cewek tajir!" Ana mendekapkan tangan di jendela dan menempelkan dagunya di sananya sambil nyengir kuda dan menarik turunkan kedua alisnya.
"serius lu?!"
"hahaha,,, lu percaya aja gue ngomong, eh gue masuk nebeng motor lu ya?!" Ana mengibaskan tangannya agar Mia menyisikan motornya yang menghalangi pintu mobil.
"loh nyonya ini belum sampai?"
"gak apa-apa Mang, aku ikut temen naik motor aja, Mang Imam pulang aja ya"
"nyonya saya diminta tuan mengantar nyonya sampai ke depan gedung fakuktas, nanti saya harus bilang apa kalo ditanya sama tuan?!"
"astaga! Mang Imam bisa gak sih gak usah panggil nyonya, aku asa gimana gitu dengernya!"
"hehehe, maaf nyonya saya gak berani!"
Ana menghela nafasnya, 'segalak itukah si Om Andre?!' batin Ana.
"ah udahlah, Mang Imam pulang aja, kalo ditanyain bilang aja udah nyampe." tanpa banyak bicara lagi Ana langsung berjalan menuju motor Mia lalu duduk di kursi boncengan.
"nyonya... nyonya..." panggil mang Imam yang membuka pintu mobil dengan terburu-buru.
__ADS_1
"jalan Mi, cepet!" tanpa pikir panjang Mia langsung tancap gas saat Ana memintanya. Mang Imam hanya bisa menghela nafasnya dengan berat saat melihat nyonya mudanya pergi meninggalkannya. "bakalan dicarekan ieu mah" (bakalan dimarahin ini mah).
Mia memelankan laju sepeda motornya setelah dirasa jauh dari mobil yang Ana tumpangi. Selama itu juga sebenarnya Mia merasa aneh dengan apa yang terjadi barusan terutama saat mang Imam memanggil Ana dengan sebutan nyonya, tapi tak dia pikirkan lagi toh setelah ini dia bisa meminta penjelasan langsung pada orangnya.
"pagi banget lu dateng, tumben!"
"gue kesiangang jadi belum sarapan,"
"kesiangan tapi datangnya pagi, gimana sih lu?!"
"gue kesiangan kalo gue sarapan dulu sebelum pergi, jadi gue mau sarapan dikantin sini!"
"emmhhh"
"lu mau ikut ke kantin?"
"ikutlah kelas masih lama, dua puluh menitan lagi," Ana melihat sekilas ke pergelangan tangan kanannya yang terdapat jam tangan di sana.
Kantin
"yang tadi itu siapa, Na? kok manggil lu nyonya?"
"supir" jawab Ana singkat.
"maksud gue kenapa dia manggil lu nyonya?"
"ya gue majikannya, makanya manggilnya nyonya" jawab Ana santai sambil menyeruput jus yang dia pesan.
"lu tuh ya, ditanya bener-bener!" Mia menonjok lengan Ana merasa sedikit kesal karena tak dapat jawaban yang dia mau.
__ADS_1
"Aw,,, sakit! kejam lu! pantesan jomblo!"
"heh! sesama jomblo dilarang saling menjorokan!" jawab Mia sewot.
"gue sih sebenarnya berharapnya masih jomblo apalagi kalo ketemu kang Arman, aaaahhhhh udah ganteng lulusan pesantren lagi, pas banget buat jadi imam gue,"
"ngarep lu! sebelum pendaftaran dibuka lu udah masuk list eliminasi!"
"Idihh, sirik lu!"
"eh, orang kaya kang Arman itu nyari cewek yang pertama pasti harus berhijab, sedangkan lu?!" Mia menatap Ana dari atas bawah lalu menggeleng kepala.
"apaan sih lu, entar juga kalo dia udah hitbah gue, gue mau kok pake hijab" Mia tertawa sambil masih menggeleng kepalanya, kemudian dia mulai memakan sarapannya sambil berpikir, dia merasa ada kata-kata Ana yang dia lupakan, setelah dia mengingatnya, matanya membelalak.
"eh! tunggu! maksud lu, lu udah gak jomblo? lu udah punya pacar? cieeeee,,, kapan lu jadian?" lanjut Mia.
"malem Jumat kemaren! bukan pacar, tepatnya suami"
uhuk, uhuk,
Mia yang mendengar jawaban Ana saat menyuapkan makanan ke mulutnya hampir saja memuncratkan kembali makanannya. Ana melihat Mia dengan muka jijik.
"jorok lu!"
Mia menegak air minum tanpa memakai sedotan memaksa mendorong makanan dalam mulutnya.
"serius lu????"
Ana menghela nafasnya, awalnya dia tak mau bercerita karena memang mereka belum begitu dekat. Tapi sejak pertama Ana mengenal Mia, dia sudah merasa anak itu nyambung jika diajak bicara, hanya saja biasanya Mia lebih dekat dengan teman laki-laki, dia memang sedikit tomboy, dan itu yang membuat Ana tak terlalu dekat dengannya walaupun dia selalu merasa nyaman saat berbicara dengan Mia.
__ADS_1
Setelah Ana menceritakan bahwa dia sudah berstatus istri orang karena dijodohkan orang tuanya dalam waktu tidak lebih dari tiga bulan dari perkenalan hingga menikah. Tentu saja minus kepribadian suaminya yang tidak wajar, karena menurut Ana itu merupakan aib keluarganya yang tidak seharusnya dia ceritakan sembarangan.