Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
112. Mami Ambar (titik terang)


__ADS_3

"Sakti, apa yang terjadi?"


Mami Ambar bertanya pada Sakti di ruangan keluarga setelah mengantar Weni ke kamar dan menenangkannya.


Lima belas menit berlalu, mami Ambar hanya terdiam mendengar dan mencerna apa yang baru saja terjadi pada putranya.


"Sakti, bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Andre dan Ana sebelumnya?" Sakti menghembuskan nafas kasar, Dia mulai menceritakan kembali semua yang Andre ceritakan padanya kemarin malam.


Saat tiba pada cerita Weni yang tiba-tiba berada dalam pelukan Andre.


"Weni?" kening mami Ambar berkerut, sebenarnya bukan mami Ambar tak tahu tentang perasaan yang dimiliki putri angkatnya. Weni bahkan pernah meminta restu padanya jika Andre bersedia menerima cintanya maka dia memohon mami dan papinya menerima hubungan mereka. Itu bahkan terjadi sebelum Andre dijodohkan dengan Ana, mami Ambar sengaja menempatkan Weni disisi Andre. Sesuai kesepakatan mereka, setelah satu tahun, jika Andre masih tak membuka hatinya untuk Weni, makan perjanjian akan batal. Sejak awal, bukan mami Ambar tak mau merestuinya tapi dia sangat tahu sifat putranya, dia juga tahu kalau Andre hanya menganggap Weni hanya sebagai adiknya tak lebih dari itu.


"Ya, setelah itu Andre dapat kabar Ana pergi dari rumah yang membuat Andre menyetir dengan terburu-buru, dan menyebabkannya kecelakaan." Sakti meneruskan ceritanya.


Mami Ambar menghela nafasnya,


"Apa kalian sudah menyelidiki penyebab Ana ingin bercerai?"


"Setelah kejadian tadi, aku rasa sudah kalo penyebab Ana ingin bercerai adalah karena dia kembali bersama mantannya,"


"Apa kalian sudah menyelidiki hubungan mereka?"


"Aku dapat foto ini kemarin," mami Ambar mengambil ponsel yang disodorkan Sakti padanya, lalu menelisik setiap foto yang dia lihat. 'ini tak membuktikan apa-apa?'


"Apa ada alasan lain selain Ana berselingkuh?"


Sakti menggelengkan kepalanya,


"Nihil, bahkan Ardi pun tak dapat menemukan apa-apa," mami Ambar memijit pelipisnya, dia meragukan jika Ana berselingkuh, walaupun mami Ambar belum lama mengenal Ana, tapi dia yakin Ana tak mungkin melakukan itu. Jika memang sejak awal Ana tak memiliki perasaan pada Andre, sudah pasti tak akan terjadi masalah seperti ini. Ana yang sangat menarik diri dari Andre, bahkan tak mau menemuinya saat Andre mengalami kecelakaan. Sikap Andre yang seperti dunianya hancur setelah menyetujui permintaan cerai Ana. 'ada sesuatu yang tak beres, aku harus menemui Ana,'


"Apa kalian sudah menyelidiki Weni?"


"Weni? Kenapa dengan Weni, Mam? Ah! Masalah yang tiba-tiba Weni dalam pelukan Andre? Weni sudah menceritakan itu dengan jelas pada Andre, lagipula Weni gak mungkin bohongkan, Mam?!" Mami Ambar menghela nafasnya,


"Sudahlah, abaikan apa yang mami bilang barusan, kamu mau tidur di sini?" Sakti menggelengkan kepalanya,

__ADS_1


"Masih banyak berkas yang harus aku bereskan, aku pulang sekarang, Mam, kalo ada apa-apa sama Andre, telepon aku ya?!" Mami Ambar menganggukkan kepalanya, dia berjalan mengikuti Sakti, lalu melangkah menaiki tangga menuju ruang kerja putranya. Sebelumnya mami Ambar meminta bi Mirna membawakan kunci cadangan dan kotak P3K bersamanya.


Sebelum membuka pintu ruang kerja Andre, mami Ambar mendekatkan telinganya ke pintu, lalu mengerutkan keningnya tak ada suara apapun. Mami Ambar langsung memberi kode pada bi Mirna untuk memberinya kunci lalu segera membukanya, firasatnya mengatakan terjadi sesuatu pada putranya.


Cklek!


Mami Ambar lega saat melihat Andre masih duduk di kursi rodanya, walaupun dengan penampilan berantakan dan darah mengucur dari sela jarinya, tapi tak terjadi hal serius pada putranya. Mami berjalan mendekat, bi Mirna mengikuti dari belakang dengan kotak P3K di tangannya.


"Biar saya saja, nyonya,"


"Gak apa, Mir, biar saya aja, kamu boleh kembali," bi Mirna pergi setelah menyodorkan kotak P3K pada majikannya membiarkan ibu dan anak menghabiskan waktu bersama.


Mami Ambar mulai membersihkan tangan Andre dengan alkohol dan kapas. Tak ada reaksi apa-apa, lalu dia melihat ke arah putranya yang terlihat lesu dengan sisa air mata di kedua pipinya. Mami Ambar mengambil nafas dalam lalu membuangnya perlahan.


"kamu ini kenapa sangat mirip dengan papimu, cerdas dalam segala hal, tapi sangat bodoh dalam masalah cinta, jika mami lemah mungkin sejak dulu kamu tak akan memiliki keluarga yang utuh," Mami Ambar mengoleskan obat lalu menutup lukanya.


"baru segini saja kamu sudah tak bisa menanganinya,"


******


"Na, kenapa kamu gak katakan yang sebenarnya pada Pak Andre, dia jadi salah pahamkan," teh Tia angkat bicara saat mereka sarapan. Ana menghela nafasnya, semalam dia tak berpikir panjang untuk masalah yang akan dihadapi selanjutnya karena ucapannya yang mengiyakan hubungannya dengan Dimas.


"Di, aku minta maaf, aku jadi ngelihatin kamu,"


"santei aja, aku gak keberatan, kok!" Dimas menjawab sambil tersenyum, sungguh dia tak keberatan bahkan jika yang Ana katakan adalah yang sebenarnya.


"jangan ngambil kesempatan dalam kesempitan," teh Tia mendelik menatap adiknya


"siapa? aku gak tuh!" Dimas menjawab dengan acuh tak acuh.


"teteh minta maaf, gara-gara masalah teteh malah jadi bikin Pak Andre salah paham, gimana kalau teteh bicara sama Pak Andre,"


"gak!" Ana dan Dimas bersamaan, lalu mereka saling pandang. Teh Tia terdiam masih terkejut dengan suara lantang dari keduanya.


Ana mengatakan tidak hanya karena apapun yang teh Tia katakan mereka akan tetap bercerai, sementara Dimas masih berharap dia bisa berbaikan dengan Ana.

__ADS_1


"baiklah, terserah kalian."


*****


"Ardi, masuklah..."


"Tante, maaf aku terlambat, aku ada masalah yang harus diselesaikan,"


"apa masalah Weni?"


Deg


Seperti yang dia pikirkan, dia bisa membodohi anaknya belum tentu bisa membodohi ibunya.


"Tante tidak menyalahkan mu, kamu menyukainya tentu saja akan berusaha membuat dia bahagia, tapi, seharusnya kamu tahu apa konsekuensinya,"


"Tante, aku..."


mami Ambar menatap mata Ardi dengan tajam membuat Ardi salah tingkah.


"selesaikan masalahnya, kau sahabat Andre, dia sangat mempercayai mu, seharusnya kau tahu apa yang akan dipilih Weni jika masalah ini selesai seperti yang dia mau,"


Ardi menundukkan kepalanya, foto-foto Ana dan Dimas memang foto tanpa edit hanya saja itu diambil dari angle yang pas hingga terlihat mereka begitu dekat. Dan kejadian tadi malam, Ardi tahu dengan pasti bahwa di rumah itu tak hanya ada Dimas tapi juga ada teh Tia, dia juga tahu kenapa Ana menerima Dimas dan teh Tia di kontrakannya, itu karena teh Tia masih terus didatangi oleh istri dari Pak Nara, yang kekeh meminta dia menggugurkan kandungannya agar anak itu tak menjadi batu sandungan untuk hubungannya dengan suaminya di masa depan.


Ardi adalah pengusaha yang bergerak dalam bidang penyelidikan legal yaitu perusahaan yang menjual jasa penyelidikan sebuah kasus, bahasa kerennya adalah ditektif. Jelas dia sangat profesional untuk masalah menyelidiki setiap masalah, dia hanya sedikit buta karena cinta.


""""""""*****""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,

__ADS_1


Makasih sekali lagi,,,


__ADS_2