Suamiku Bukan Gay!

Suamiku Bukan Gay!
114. Terimakasih Maria


__ADS_3

Mami Ambar mendekati ranjang tempat putranya tidur, dia membelai rambut dan mencium keningnya. Walaupun dia tak secara langsung mengurus dan mendidik putranya itu tapi dia cukup tahu dan mengerti apa yang putranya rasakan.


"kasian sekali kamu, nak," mami Ambar menghela nafas lalu berjalan menjauh menuju sofa lalu duduk adan menyandarkan tubuhnya untuk sedikit melepas penat.


Mami Ambar terbangun ketika ada seseorang yang mengangkat kepalanya.


"Steve...?"


Papi Steve tersenyum melihat istrinya terbangun karena ulahnya.


"Sorry honey I woke you" (maaf sayang aku membuatmu terbangun) Mami Ambar tersenyum, itulah suaminya, hanya satu kata rindu darinya dapat membuat dia meninggalkan segalanya untuk bersamanya.


"How did you know it was here?" (bagaimana kamu tahu aku ada disini?) mami Ambar menenggelamkan diri dalam pelukan suaminya.


"You know I'll always be able to find you wherever you are." (kau tahu aku selalu bisa menemukanmu dimanapun kau berada).


"Okay, you're the best" (baiklah, kau yang terbaik).


"What about this stupid kid?" (bagaimana dengan anak bodoh ini?). Mami Ambar menghela nafasnya.


"Well I didn't think he would be dumber than you when it came to love," (aku hanya tak menyangka dia akan lebih bodoh darimu ketika berurusan dengan masalah cinta).


"I am grateful that I have a beautiful and smart wife who accompanies me," (aku beruntung memiliki seorang istri yang cantik dan pintar mendampingiku).


"Can't you lower your crap levels a little?" (bisakah kau menurunkan kadar gombalmu sedikit?) mami Ambar menatap mata suaminya dalam.


"I can only brag just for you, then if I can't brag it means I can't be close to you, no thanks, I will be a braggart for you for life," (aku bisa menggombal hanya padamu, lalu jika aku tak boleh menggombal padamu itu artinya aku tak boleh dekat denganmu, tidak, terimakasih, aku akan menjadi penggombal untukmu seumur hidup,) papi Steve mencium kening istrinya.


"sleep, I'll wake you up at dawn," (tidurlah, aku akan membangunkanmu saat menjelang subuh) papi Steve mengangkat dagu istrinya lalu m3lum4t bibirnya dalam, mami Ambar menyambutnya dengan penuh kasih lalu kembali merangkul tubuh istrinya membiarkannya kembali terlelap dalam pelukannya.


Pagi hari


"hei tak bisakah kalian sedikit mengormati putra kalian yang sedang patah hati ini," Andre merasa jengkel melihat mami dan papi nya selalu bermesraan di manapun mereka berada.


mami Ambar masih menyuapi papi Steve yang masih terus menggodanya.


"hey, son, your mami just feed me," (hey, nak, mami mu hanya menyuapiku).


'ya tapi gak usah sambil dipangku juga kali,' batin Andre merasa panas, dia juga ingin melakukannya jika Ana ada disisinya. Andre menghela nafasnya, dia lalu menatap surat perceraian yang sejak tadi ada dalam genggaman, dia tak rela, sungguh tak rela.


"why don't you just sign it, you stare at it for so long?" papi Steve sedikit kesal dengan sikap putranya yang tak bisa tegas.


"jangan menggodanya," mami Ambar menyupakan satu sendok penuh nasi kuning ke mulut suaminya.


"aku tak akan menandatanganinya, tak akan pernah,"

__ADS_1


"bukannya Ana bilang dia mau balikan lagi sama mantannya," mami Ambar sedikit menyindir, Andre mengusap wajahnya teringat kejadian malam itu.


"ya, tapi aku akan mendapatkannya kembali,"


'aku akan membuat dia mencintaiku, sekali dia jadi istriku selamanya dia istriku,' batin Andre.


Mami Ambar dan papi Steve saling pandang dan saling melempar senyum.


"baiklah kau harus sembuh untuk membuatnya kembali, jangan menyiksa dirimu lagi,"


"tentu," Andre masih menatap berkas di tangannya, pertama-tama dia harus membawa istrinya pulang, mereka akan memiliki banyak waktu bersama jika berada dalam satu rumah, begitu pikir Andre.


Kriiiinnngggg....


Tiba-tiba telepon mami Ambar berdering.


"Sakti?"


"Why did he call you? I'll pick it up" papi Steve hampir saja mengambil ponsel mami Ambar, tapi mami Ambar mengelaknya lalu mengangkatnya dengan cepat, dia hendak bangun dari pangkuan suaminya tapi malah dipeluk oleh suaminya dan tak membiarkannya beranjak.


"I want to hear" bisik papi Steve, mami Ambar menghela nafasnya, sementara Andre memutar bola matanya menatap jengah kelakuan kedua orang tuanya.


"ya, Sak, ada apa?"


"kenapa? ada masalah?"


"aku menelepon Andre berkali-kali tapi tak diangkat, dimana dia? Weni bilang dia dirawat, bagaimana keadaannya," suara Sakti terdengar sangat cemas.


"oh! dia sudah baik-baik saja sekarang, dia hanya sedang menatap surat cerainya dengan air mata berderai dan siap menandatanganinya,"


"hey, Mam, you are being too condescending to your child," (hei mam kau terlalu merendahkan anakmu) Andre bicara dengan putus asa.


"apa? mami plis give your phone to Andre, i have to talk to him," mami Ambar sedikit mengerutkan dahinya tapi dia lalu berdiri setelah papi Steve melonggarkan pelukannya, lalu berjalan menghampiri Andre dan menyodorkan ponselnya pada putranya.


"halo..."


"Andre, lu jangan sekali-kali menandatangani berkas perceraian lu sama Ana, kalo gak, lu akan menyesal seumur hidup lu!"


"hah?"


"Ndre, dengerin gue, gue udah tahu kenapa Ana sangat benci sama lu, gue udah kirim semua datanya lewat email, dan gue juga sempet minta Ardi meretas cctv di ruang kerja rumah lu, sorry, tapi ini gue lakuin buat, lu, ok!"


Andre mengerutkan keningnya, dia lupa dia punya cctv di rumahnya. Dulu Andre memutuskan untuk menggunakan cctv setelah kejadian dua tahun lalu rumahnya kemalingan dan beberapa berkas aset penting hilang, bersyukur dia cepat membekukannya hingga tak terjadi hal yang tak diinginkan.


Flashback

__ADS_1


Malam hari di Singapura.


Sakti memasuki apartemennya dengan berjalan gontai, dia benar-benar sangat lelah.


Ctrek


Lampu menyala, betapa terkejutnya dia saat melihat seorang wanita tidur di atas kasurnya tanpa menggunakan sehelai kain yang menutupinya mambuat Sakti menelan salivanya.


"kenapa? masih tak mau?" seketika lelahnya hilang, Sakti melonggarkan dasi dan membuka paksa kemejanya, sambil berjalan cepat mendekati wanita yang berpose menggoda di atas tempat tidurnya. Dengan cepat dia menindih tubuh polos itu lalu m3lum4t bibir wanita itu dengan penuh gairah.


"umh!"


"tak usah terburu-buru, aku akan menemanimu lebih lama," Sakti yang sudah kalap dengan kabut asmara tak mendengarkan ucapan wanita itu dia terus menjelajahi setiap lekuk tubuh polos dibawahnya dengan bibir dan lidahnya. Tangannya menjalar, meremas bagian yang menonjol dari dada gadisnya.


"kenapa?" Maria membelai rambut kekasih yang masih menenggelamkan wajah di lipatan dadanya.


"kamu tahu Andre akan bercerai?"


"tentu, bukannya memang seharusnya begitu?"


"hah?" Sakti terkejut mendengar ucapan kekasihnya. Maria membalas tatapan Sakti dengan kerutan kening yang terangkat.


"bukannya sudah seharusnya Andre menikahi Weni secepatnya, dia sudah hamilkan?!"


"apaaaaa????" Sakti terkejut sekaligus bingung, apa hubungannya dengan Weni? menikahi Weni? Weni hamil? dalam sekejap seribu pertanyaan masuk kedalam otaknya.


"kamu kenapa sih, yank?!"


"Maria, maksud kamu apa? menikahi Weni, Weni hamil?"


"yank, kamu ini gimana, sih, kamu yang selalu menempel dengan Andre masa gak tahu hubungan mereka? Weni aja udah memposting hasil USG nya di Instagram,"


"apaaaaa???? USG apa?" Sakti merenggangkan tubuhnya dari tubuh kekasihnya karena terkejut, dia semakin bingung dengan setiap kata yang diucapkan kekasihnya.


""""""""******""""""


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Makasih ya semuanya yang masih setia baca novelku yang masih amburadul ini 😄🙏


Jangan lupa like, vote, sama subscribe nya ya,,,


kalau sempat tinggalin jejak juga, buat penyemangat, hehe,,,


Makasih sekali lagi,,,

__ADS_1


__ADS_2